“… dan Mereka Hidup Berbahagia—Selama-lamanya?” (1)

Bagian I: Kisah Setelah Pertobatan dan Mujizat

Cermin276 Views
Dini hari 28 Juli 2026, Medjugorje kembali menjadi pusat perhatian dunia Katolik. Sejumlah patung Bunda Maria dirusak dengan cat hitam dan tulisan penghinaan. Altar luar Gereja Santo Yakobus dibakar. Polisi Bosnia kemudian menangkap Bartłomiej Krakowiak, warga Polandia, sebagai tersangka utama. Namun, yang paling mengguncang bukan hanya tindakannya, melainkan identitas pelakunya.

 

Krakowiak—lebih dikenal sebagai Bartek—bukan figur asing dalam lingkungan kesaksian Katolik Polandia. Dia pernah berjalan kaki menuju Medjugorje setelah melewati kehidupan yang ditandai kehilangan, depresi, kecanduan, dan kehancuran pribadi. Kisah perjalanan itu ditulis dalam buku “Z buta do Maryi” (Berjalan Menuju Maria). Dia juga diundang untuk pelayanan kesaksian dalam berbagai media. Kisahnya difilmkan dalam film dokumenter-drama Powołany 2 pada tahun 2024. Bartek ditampilkan sebagai manusia yang telah bertobat dan keluar dari kegelapan dengan bantuan rahmat.

Selain kasus tersebut, kasus lain yang juga mengguncang iman muncul di Rhode Island. Pada tanggal 16 Juli 2026, terjadi penembakan terhadap dua warga Newport. Berdasarkan penelusuran polisi, dua minggu kemudian seorang tersangka bernama Tyquan Johnson ditangkap. Yang mencengangkan, kelahiran Tyquan Johnson pada tahun 2007 ditetapkan oleh Paus Leo XIV menjadi mujizat pertama dalam kepausan beliau. Johnson lahir dalam keadaan kritis. Setelah persalinan sesar, denyut jantungnya sempat tidak ditemukan. Seorang dokter kemudian memohon perantaraan Pastor Salvador Valera Parra. Bayi itu kembali menunjukkan tanda kehidupan dan pulih. Mujizat tersebut membuka jalan bagi beatifikasi Pastor Salvador Valera Parra.

Berbahagia untuk Selama-lamanya?

 Kedua kisah tadi bertemu pada ilusi yang sama: kekecewaan saat mengetahui bahwa dengan adanya rahmat Allah pun, kemungkinan manusia untuk kembali jatuh tidak tertutup. Hal itu berlawanan dengan apa yang didongengkan kepada kita waktu kecil. Berbagai dongeng ditutup dengan kalimat: “… dan mereka pun hidup berbahagia selama-lamanya.”

Sang tokoh utama mengalami penderitaan, mencapai titik terendah, menjalani ujian, melawan kejahatan, lalu mendapatkan apa yang dia inginkan. Pola tersebut seakan-akan menjadi suatu urutan dalam kisah kepahlawanan. Akhir yang bahagia memberikan rasa aman. Anak-anak tertidur membawa mimpi indah, seakan-akan dirinya adalah pahlawan yang telah menjadi pemenang. Kekacauan telah dikalahkan. Kehidupan tidak lagi mengandung ancaman.

Sesungguhnya, masalah bukan terletak pada kisah naratif itu sendiri. Masalah muncul ketika kisah tersebut dianggap telah selesai. Kisah Ramayana dianggap tamat saat Rama bertemu kembali dengan Shinta. Kisah pembakaran dan pengusiran Shinta, serta penelantaran kedua anak kembar mereka, jarang diceritakan.

Struktur serupa muncul dalam banyak kisah pertobatan. “Kembalinya anak hilang” dianggap kesembuhan permanen. Air mata dalam retret dianggap telah menyelesaikan trauma. Kesaksian di panggung dianggap membuktikan stabilitas mental. Aktivitas pelayanan dianggap sebagai tanda bahwa kecanduan, depresi, kemarahan, dan luka relasional telah ditaklukkan untuk selamanya.

Kenyataannya, kehidupan jauh lebih problematik. Seseorang dapat bertobat dan tetap kembali terjerat adiksi. Dia dapat mengalami kasih Allah dan tetap memerlukan antidepresan. Dia dapat berdoa dengan sungguh-sungguh sekaligus gagal mempertahankan perkawinan. Dia dapat menjadi saksi iman hari ini dan mengalami kehancuran psikologis beberapa tahun kemudian. Kekambuhan tidak otomatis membuktikan bahwa pengalaman pertobatannya palsu, melainkan hanya membuktikan bahwa pertobatan tidak membatalkan kondisi manusia.

Ilusi Manusia yang Sudah Selesai

 Ilusi tentang “manusia yang sudah selesai” muncul dalam berbagai pemahaman dalam kelompok agama maupun lingkungan spiritual. Kasus Bartek dan Tyquan bukan semata-mata membongkar kegagalan dua orang. Kedua kasus ini membongkar kebutuhan publik untuk memiliki pahlawan yang tidak lagi boleh menjadi “manusia biasa”. Setelah mengalami “mujizat dan kebangkitan”, seseorang dianggap telah selesai dengan masa lalunya, lalu diharapkan hidup mulia tanpa cacat cela. Padahal, manusia memiliki kerentanan untuk kembali jatuh dalam dosa.

Para orang kudus sendiri tidak pernah menganggap perjuangan telah selesai. Dalam Puri Batin Ruang Ketujuh, St. Teresa Avila mengingatkan bahwa bahkan dalam keadaan perkawinan rohani seseorang tetap harus berjaga-jaga. Hidup rohani yang mendalam tidak otomatis membebaskan manusia dari gejolak dan kemungkinan jatuh. Kesadaran akan kerentanan justru menjaganya tetap rendah hati, teguh, dan bersyukur.

Pengalaman St. Agustinus setelah pertobatan juga menunjukkan bahwa pertobatan tidak serta-merta menghapus concupiscentia atau hasrat yang tidak teratur. Pertobatan dapat bertahan bukan melalui kekuatan intelek semata, melainkan melalui kerendahan hati untuk menerima rahmat Ilahi. Pergulatan hidup tidak pernah usai, sampai Tuhan “menyelesaikan” hidup manusia saat kematian. Maka, St Agustinus pun mengatakan: “Hatiku tak tenang, sebelum beristirahat di tangan-Mu, ya Tuhan”. Setia sampai akhir adalah pergulatan dan perjuangan kita semua. “Kebesaran” hidup baru terlihat ketika semua berakhir.

Injil pun mengatakan demikian. Walaupun Yesus adalah perwujudan Sang Sabda yang menjadi daging, beliau pun dicobai oleh setan di padang gurun. Ini adalah bukti nyata bahwa dalam kedagingan manusia, godaan tetap ada. Yesus berhasil mengatasinya. Baru menjelang wafat-Nya di kayu salib, Yesus mengatakan bahwa semuanya sudah selesai.

Kesatuan Tubuh dan Jiwa

 Dalam kasus Bartek, dua reduksi perlu ditolak. Pertama, menganggapnya semata-mata sebagai pengkhianat iman, orang kerasukan, atau penjahat yang sepenuhnya jahat. Kedua, menganggapnya sama sekali bukan pelaku, melainkan hanya tubuh sakit yang digerakkan penyakit. Keduanya menghapus kemanusiaannya. Manusia adalah kesatuan tubuh dan jiwa. Karena itu, aspek biologis, psikologis, sosial, dan spiritual perlu ditangani bersama.

Psikiatri seharusnya tidak hanya memperbaiki fungsi saja, tetapi juga menyentuh makna, identitas, relasi, dan alasan untuk hidup. Spiritualitas pun tidak hanya cukup untuk memberi makna, melainkan juga dapat membangun harapan, tanpa memperburuk rasa bersalah, stigma, dan penolakan terhadap pengobatan. Obat tidak menggantikan persahabatan. Doa tidak menggantikan pengobatan psikiatrik. Terapi tidak menjawab seluruh pertanyaan tentang makna, sedangkan makna tidak selalu dapat memulihkan kemampuan seseorang untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Pengakuan atas batas masing-masing justru memungkinkan penatalaksanaan yang holistik dan komprehensif.

Penutup

Kisah Bartek dan Tyquan menunjukkan bahwa pengalaman akan mujizat dan pertobatan dapat nyata tanpa menjamin bahwa hidup sesudahnya tidak lagi tanpa gejolak. Rahmat dapat mengubah arah hidup tanpa menghapus sejarah hidup. Seseorang dapat sungguh mengalami Tuhan, tetapi tetap membawa trauma, kerentanan psikologis, kebiasaan lama, persoalan relasi, dan tubuh yang dapat kembali jatuh sakit. Karena itu, kita tidak perlu mengubah seseorang yang pernah mengalami pertobatan atau mujizat menjadi pahlawan yang tidak boleh lagi gagal. Pertobatan tidak membuat manusia berhenti menjadi manusia. Pengalaman pertobatan tidak menghapus kebutuhan untuk memahami dan mendampingi seluruh kerentanannya secara manusiawi.

* Penulis menggunakan bantuan AI untuk membantu penelusuran referensi, menerjemahkan referensi berupa video dan tulisan dari bahasa Polandia, serta untuk memperbaiki tata bahasa. Penulis berterima kasih kepada Romo Krispurwana, SJ, yang telah memberikan inspirasi, koreksi, dan masukan atas tulisan ini.

 

 Bersambung ke bagian 2:

Pertobatan: Proses yang Berkesinambungan.

Sleman, 8 Agustus 2026
Lisa Kurnia Sari, Sp.PD-KR, FINASIM
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana
dan Dokter Penyakit Dalam Konsultan Reumatologi
RS Bethesda Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *