“Ayah, keringatmu adalah bukti cintamu kepadaku.”
Di rumah saya ada dua kolam. Satu kecil dan satu agak besar. Di kolam kecil diisi seekor ikan gurami yang besar. Umurnya kira-kira 12 tahun. Sementara di kolam agak besar dihuni dua ekor gurami berusia sedang. Mereka semua memerlukan makanan. Saya memberinya fur ikan, kangkung, dan daun lumbu.
Saya mengakui, saya bukanlah penyayang binatang. Namun, saya tidak tega bila tiga ikan peliharaan saya itu tak punya makanan atau makanannya kurang banyak. Maka, saya mencarikan mereka daun lumbu.
Suatu sore, ketika mau memetik daun lumbu, saya melihat seorang bapak sedang mengikat batang-batang bambu di sebuah gerobak.
Saya memulai percakapan, “Pak, mau jualan bambu?”
“Ya, Mbak, besok pagi saya akan membawa bambu-bambu ini di Pasar Sedayu,” jawabnya.
Seperti biasa, saya penasaran dan ingin mendengar ceritanya. “Sehari bisa laku berapa, Pak? Harga satu batangnya berapa? Biasanya dipakai buat apa bambunya, Pak?” Saya mengajukan beberapa pertanyaan.
Ia lalu menjelaskan bambu-bambu itu per batangnya harganya 17 ribu. Sehari bisa laku sekitar 20 batang. Orang memakai bambu itu untuk membuat pagar rumah atau keperluan lainnya. Otak matematika saya cepat bekerja dan berkata, “Kalau laku 20 batang, berarti Bapak bisa membawa uang 340 ribu sehari. Lumayan, Pak?”
“Ya enggak, Mbak. Saya hanya pekerja. Saya setorkan uang itu untuk pemilik kebun bambu. Saya diberi komisi saja, Mbak.”
Tampak peluh membasahi wajahnya.
“Oh, gitu, Pak? Apa Bapak setiap hari jualan bambu?”
“Ya tidak, Mbak. Hanya kalau ada orang yang meminta saya menebang bambu. Lalu, saya menebang dan menghaluskan bambu-bambu itu supaya rapi kalau dijual,” jelasnya.
Selain berjualan bambu, pria itu bekerja sebagai buruh serabutan dan bertani.
Rasa ingin tahu saya kembali muncul. “Kalau menebang dan merapikan bambu, kira-kira berapa jam, Pak?”
“Wah, lama itu, Mbak, bisa seharian. Kerjanya keras, tapi hasilnya tak selalu banyak. Namun, bagaimanapun itu, toh saya harus menghidupi keluarga saya, Mbak,” ucapnya seraya berjalan mendorong gerobak berisi bambu itu.
Saya terpana. Saya kian terkejut ketika bapak itu membawa sebuah ransel berwarna biru yang sudah robek. Ritsletingnya sudah tidak bisa untuk menutup tas itu. Ransel itu diisi perlengkapannya menebang dan menghaluskan bambu.
“Ini ransel anaknya, Pak?”
“Ya, Mbak. Ini ransel anak saya yang sudah rusak. Ransel biru ini penyemangat saya bekerja. Ia mengingatkan saya pada keceriaan anak saya kala saya pulang membawakan jajanan,” ujarnya dengan wajah berbinar.
Wajah kelelahan itu memancarkan kasih, kasih seorang ayah yang rela berjuang seharian untuk menafkahi keluarganya. Meski ia tahu hasilnya tak seberapa, ia terus bekerja keras supaya keluarganya bisa hidup layak.
Ayah mungkin jarang menunjukkan rasa sayangnya pada anak-anak, tetapi ia mencintai keluarganya dengan caranya. Ia berjuang mencari nafkah, memastikan seluruh kebutuhan terpenuhi, dan anak-anak merasa aman serta nyaman di bawah tanggung jawabnya.
Ketabahan ayah menghadapi berbagai masalah di keluarga menjadikannya sebagai sosok yang kuat di mata anak-anaknya. Tak pernah sekalipun terdengar keluhan dari mulutnya.
Saya pernah membaca sebuah ungkapan, “Surga memang di bawah kaki ibu, tetapi ayah adalah pahlawan keluarga.” Tanpa kerja keras ayah, kebutuhan keluarga tidak akan terpenuhi dengan baik. Anak-anak tidak punya kesempatan meraih cita-citanya. Seberat dan sekecil apa pun hasil yang didapatnya, ayah tak pernah mengeluh. Peluhnya bukti cintanya pada keluarganya. Terima kasih, Ayah.








