Dalam menghadapi tantangan zaman modern yang penuh distraksi dan ketidakpastian, Gereja Katolik memiliki tanggung jawab yang besar untuk membimbing generasi muda dalam memperkuat iman mereka dan membentuk karakter yang kukuh.
Hal ini terutama berkaitan erat dengan Pandemi COVID-19 yang membawa banyak dampak perubahan dalam semua aspek kehidupan manusia. Nyatanya, efek domino yang berkelanjutan dan berkepanjangan masih cukup dirasakan oleh generasi penerus Gereja, khususnya di Paroki St. Yakobus Bantul.
Ada beberapa hal yang dirasa menjadi sorotan, yakni minimnya keterlibatan orang muda di
berbagai kegiatan Gereja yang sekaligus menjadi sarana untuk mempromosikan hidup selibat bagi generasi muda Gereja.
Sejalan dengan ini, tahun 2024 menjadi momentum yang istimewa bagi Paroki St. Yakobus Bantul yang akan merayakan hari jadi ke-90. Maka, dalam rangka menyemarakkan semangat yang dibangun, diselenggarakan kegiatan camping rohani bagi remaja yang juga melibatkan orang muda.
Dengan tema besar “Santo Yakobus Meneguhkan Iman, Memperkokoh Persaudaraan, dan Menjiwai Pelayanan”,harapan besar terkandung dalam kegiatan ini agar bisa menjadi sarana pembinaan berkelanjutan.

Camping rohani telah dilaksanakan pekan lalu di Bumi Perkemahan Jaka Garong, Kembang, Wonokerto, Turi, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Peserta sejumlah 63 orang terdiri dari remaja kelas VII SMP hingga XII SMA. Sementara itu, kepanitiaan melibatkan 15 Orang Muda Katolik (OMK) dengan pendampingan dari orang dewasa sebanyak 10 orang.
Tujuan camping rohani ini, pertama, sebagai sarana konsolidasi dan regenerasi bagi orang muda dalam kegiatan hidup menggereja di paroki; kedua, sebagai sarana promosi panggilan untuk kehidupan selibat bagi remaja dan orang muda; ketiga, sebagai wujud tindak lanjut dari pembinaan iman yang berkelanjutan dalam Gereja.
Paskalia Anggita Rinastiti, Koordinator Bidang Pewartaan DPP St. Yakobus Bantul, mengungkapkan, saat pendaftaran dibuka, panitia merasa antara pesimistis atau optimistis karena yang mendaftar baru sekitar lima orang.
“Akhirnya, kami gencarkan lagi promosinya, baik di Dewan Pastoral Paroki (DPP) juga yang kami kenal untuk diminta mengajak teman-temannya. Karena di usia remaja, mereka akan mencari teman. Kalau ada teman yang ikut, biasanya yang lain juga ikut,” ungkap Asti, sapaan akrabnya.

Panitia juga mencari peserta ke Wilayah Maria Rosari Gesikan dan Wilayah Mater Dei Imogiri dengan harapan ada perwakilan dari satu paroki, tidak hanya dari wilayah-wilayah pusat. “Lama-lama makin banyak, pendaftaran naik terus. Kami pun membatasi jumlah peserta,” jelas Asti.
Dengan jumlah peserta 63 orang, panitia sempat merasa kesulitan karena OMK Paroki St. Yakobus Bantul sedang memiliki banyak kegiatan gereja. Oleh karena itu, mereka harus berbagi tugas supaya tidak lelah.
Asti memandang, para peserta senang mengikuti seluruh kegiatan. Mereka bersemangat karena bisa bertemu teman-temannya. Lebih-lebih, kegiatan camping diwarnai dengan dinamika kelompok dan fun games dengan sesi yang diselipkan pada malam hari.
“Kami menyadari, kepada para remaja ini harus agak tricky. Kami harus pintar mengemas kegiatan supaya mereka jadi punya tanggapan yang positif, nggak jadi ilfeel,” tegas Asti.
Sesi pertama dibawakan Sr. Endah RGS dari Susteran Gembala Baik dengan tema tentang meneguhkan iman yang diambil dari tema hari jadi Paroki St. Yakobus Bantul. Sr. Endah pun mengajak seorang calon suster untuk sharing dan berdinamika bersama.
Sesi kedua diawali dengan Misa Taize yang dipimpin Rm. Laurentius Dwi Agus Merdi Nugroho, Pr selaku Pastor Paroki St. Yakobus Bantul. “Ini sesuatu yang baru bagi teman-teman. Maka, kami usahakan panitia telah berlatih lagu-lagu Taize yang repetitif. Dekorasi dibuat dengan lilin yang temaram,” sebut Asti.

Setelah itu, Rm. Merdi memberikan sharing dengan tema menjiwai panggilan sesuai teladan St. Yakobus. Dalam tanya jawab, para peserta antusias bertanya hal-hal belum pernah ditanyakan kepada romo.
Dalam refleksi penutup, para peserrta menulis sesuatu lalu membakarnya di api unggun. Saat api unggun, mereka membakar sosis ramai-ramai sambil bernyanyi dengan iringan gitar.
Paginya, hari kedua, ada meditasi alam. Peserta diberi waktu hening 15 menit untuk berada di mana pun dengan diam, berpikir, boleh mencari inspirasi, kemudian di-sharing-kan. “Peserta mengaku senang karena bisa punya waktu untuk hening, sendiri, tidak terganggu dengan bisingnya suara manusia. Cuma antara mereka dan alam,” tutur Asti.
Selanjutnya ada outbound dengan tiga permainan secara berkelompok. Pada bagian terakhir ada games bareng-bareng, yaitu menjaga api semangat. Seluruh peserta menjaga sebuah lilin yang akan dilempari air dalam kantong plastik. “Mereka harus kompak sebagai satu kesatuan remaja dan OMK St. Yakobus. Mereka berhasil menjaga lilin itu tetap menyala sampai garis finis,” bangga Asti.
Pada sesi terakhir, refleksi dikemas secara menarik, yaitu dengan pesan punggung di atas kertas HVS. Peserta diminta menuliskan kesan, tanggapan, semangat, maupun hal-hal positif lainnya kepada teman-temannya.














