Kehidupan memberi kita saat-saat singkat dengan orang lain. Namun, dalam momen singkat itu kita memperoleh kenangan abadi.
Sore merupakan waktu favorit saya. Ketika cuaca tak terlalu terik dan angin bertiup sepoi-sepoi, saya mengeluarkan sahabat setia saya, sepeda kuning, dan mulai mengayuhnya.
Di perjalanan bersepeda itu, saya bertemu banyak manusia sederhana. Mereka menampilkan wajah cerah. Misalnya saja ibu dan bapak petani yang tengah menikmati bekal setelah seharian menggarap sawah, anak-anak yang berlarian di taman, ibu-ibu yang asyik berbincang sambil mengawasi anak-anak mereka bermain dan lainnya.
Bagi saya, orang-orang yang saya temui itu adalah gambaran kehidupan manusia dalam beragam “wajah”. Walaupun tak lepas dari masalah, tetap saja hidup ini mesti dijalani dengan semangat dan hati gembira.
Biasanya, setelah lelah mengayuh sepeda, saya mencari-cari kudapan. Saya berhenti di penjual roti. Namun, ada yang istimewa di gerobak bapak penjual roti itu. Ia menempelkan foto seorang bayi bertubuh gempal yang tertawa. Ukurannya pun cukup besar, sekitar 1 halaman kertas HVS.
Saya bertanya, “Itu anaknya, ya, Pak? Lucu sekali.”
Pedagang roti itu berkata lirih dan sedih, “Ya, Mbak. Dia sudah meninggal Maret lalu. Sakit demam berdarah, tetapi tidak tertolong.”
Saya terpaku mendengar ceritanya. Tuhan memberikan saya kesempatan mendengarkan berbagai kisah hidup manusia.
Bapak bertubuh kurus itu melanjutkan ceritanya, “Namanya Azizah. Anak bungsu saya. Ia lahir ketika usia istri saya tak lagi muda. Kakaknya sudah SD dan SMP. Ia penyemangat bekerja saya.”
Tampak sebutir air mata menggenang di pelupuk mata bapak itu. “Hari Minggu ia masuk rumah sakit, Rabu malam ia kembali ke penciptanya. Kalau saya bermain cilukba, ia pasti tertawa terkekeh-kekeh. Rabu sore saya memberikan cilukba terakhir untuk Azizah, putri kecil saya.”
Azizah, kata bapak itu, tak pernah sakit berat. Namun, kali ini virusnya sudah sampai ke otak. Badan mungilnya tak mampu menahan lagi.
Azizah pergi menyisakan kenangan indah bagi orang tua dan kedua kakaknya.
“Mbak, foto ini saya pasang di gerobak saya, sekadar mengingatkan saya bahwa ia tak pernah jauh dari saya. Meski raganya tidak bisa saya peluk, Azizah terus ada di ingatan saya, hingga saatnya kami bertemu lagi di surga,” ujarnya mencoba tegar.
“Tidak ada lagi anak yang minta digendong bila saya mau berangkat dan pulang kerja. Tidak ada anak yang paling senang diajak bermain cilukba. Saya menangis meraung-raung memeluk jenazah putri kesayangan saya, hingga bapak ustaz berkata, ‘Pak Ahmad, ikhlaskanlah anakmu. Dia bukan milikmu. Dia hanya titipan Tuhan. Bersyukurlah, Pak Ahmad dan istri boleh mengasuhnya meski hanya 9 bulan,” ceritanya haru dan pilu.
Bapak itu menatap saya dengan mata yang berlumur kesedihan tetapi juga ketegaran. “Azizah pergi saat sedang lucu-lucunya. Saya memasang foto terakhir ini. Setiap saya mendorong gerobak, saya menatap foto ini. Ia menemani saya bekerja,” ujarnya seraya tersenyum.
Saya terharu pada ketulusan hati bapak itu. Tak mudah merelakan kehilangan anak. Namun, bapak itu percaya di tempatnya yang jauh sana, Azizah menjadi “pembuka jalan” keluarganya menuju surga kelak.
Air mata menetes di kedua pipi saya. Saya pernah pula merasakan beberapa kehilangan. Saya teringat seseorang yang pernah mengisi tempat istimewa di hati saya.
Sebelum “pergi”, ia berkata, “Ivon, apa pun yang terjadi dalam hidupmu, tegakkan kepalamu, hapus air matamu, karena tidak ada badai yang tak akan reda. Tersenyumlah pada dunia yang indah ini, karena dunia ini memerlukanmu.”
Terima kasih, Bapak Penjual Roti, atas ceritamu yang sangat menyentuh hati.
Malamnya, saya menulis di buku harian saya. “Orang datang dan pergi dalam hidup kita. Ketika mereka bersama kita, berikanlah kasih dan waktu kita yang terbaik. Terimalah mereka dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Buatlah mereka merasa berharga. Karena kita tak pernah tahu kapan waktu perpisahan itu akan tiba.”








