Perjumpaan dengan umat sangat memberikan makna yang mendalam bagi saya. Dua atau tiga jam kami berjalan dari rumah ke rumah bertemu dengan mereka yang mendapat kesempatan untuk kami jumpai.
Ada beberapa rumah yang direkomendasikan kepada kami untuk kami jumpai. Tentu memiliki banyak alasan mengapa kami diberi kesempatan berjumpa dengan mereka. Ada yang alasannya karena sakit (mata buta dan stroke), ada yang sudah lama tidak aktif dalam kegiatan bersama di gereja, dan ada yang merindukan kedatangan kami di rumah mereka.
Itulah dinamika kami selama live in di Paroki St. Albertus Agung Jetis. Rumah-rumah yang kami jumpai selama kurang lebih dua atau tiga jam itu merupakan rumah-rumah yang direkomendasikan oleh pihak paroki kepada kami, biarawan dan biarawati sebanyak 40 orang.
Dalam berjumpa dengan mereka (keluarga yang direkomendasikan oleh paroki) ada beberapa keluarga yang menggugah hati saya untuk membuat tulisan ini, yakni ibu yang mengalami mata buta dan beberapa yang lain.
Kita mulai dari ibu yang buta karena gagal operasi. “Saya sudah tiga kali melakukan operasi, tapi nggak ada hasilnya. Mata kiri saya dioperasi tahun 1982, tapi gagal dan yang kanan baru tahun 2018. Kemudian saya pulang rumah dan ternyata saya tidak bisa melihat, bahkan lebih parah dari sebelumnya. Kami sekeluarga pun berusaha lagi untuk pergi ke rumah sakit melakukan operasi, tetapi hasilnya juga nggak jadi,” cerita Bu Sumardina, sapaan akrabnya.
“Saya mengharapkan untuk sembuh, tapi mau gimana lagi. Ya, kita harus menerimanya. Kalau belum bisa menerima, ya, pasti ‘kan sekarang nggak bakalan tertawa dengan kalian,” lanjutnya dengan canda tawa.
Gagal pada penglihatan tentu membuat kita semua menjadi sulit dalam melakukan aktivitas harian. Hidup kita menjadi sangat bergantung pada orang lain dan syukur-syukur jika ada yang bermurah hati untuk hal itu.
“Saya ditemani oleh anak-anak dalam keseharian saya, Ter,” tuturnya.
Ibu yang sudah berusia lanjut ini membagikan pengalamanya kepada kami dengan senyum yang sungguh tulus. Tidak ada tekanan dalam hidupnya meskipun ia sedang sungguh menderita.

Rindu dalam batasan
“Saya sangat rindu pergi ke gereja untuk mengikuti Perayaan Ekaristi dan sangat merindukan komuni,” ungkapnya dengan senyuman yang tak pernah pudar.
“Waktu ibu ini masih bisa melihat, dia sangat rajin ke gereja dan aktif dalam semua kegiatan yang diadakan oleh gereja. Sekarang pun masih semangat kalau berbicara soal gereja, hanya saja semangatnya terbatas karena sikonnya,” demikian kesaksian Bapak Konradus, ketua lingkungan.
“Saya sangat berterima kasih kepada beberapa orang yang selalu mengajak saya pergi ke gereja. Saya punya satu teman yang sangat akrab dengan saya sejak muda dan sekarang dia yang selalu menjemput saya untuk pergi ke gereja, tetapi sekarang sudah mulai jarang karena saya sering mendapat kiriman komuni dari paroki,” bilang Bu Sumardina.
Ada poin menarik dari kisah Bu Sumardina yang gagal operasi, yakni persahabatan yang dibangun sejak muda akan bermanfaat menjadi sumber kekuatan pada waktu kita mencapai usia lanjut dan kehadiran sesama di sekitar kita akan sangat berguna juga di saat kita sungguh-sungguh menderita. Maka, mari kita belajar untuk menciptakan benih persahabatan di hari-hari saat kita masih kuat untuk melakukan aktivitas kita.
Beberapa keluarga yang kami jumpai juga (dalam tanda kutip yang sedang sakit) hanya Bu Sumardina yang kami temukan sangat ceria untuk menerima kedatangan kami di rumahnya. Sedangkan yang lain sungguh terkapar dengan keadaan mereka (perjumpaan dengan mereka yang sedang sakit). Sangat kelihatan bahwa mereka belum bisa menerima keadaan yang menimpa mereka.
“Kalau ada yang mengunjunginya, Bapak selalu nangis, Ter,” ungkap seorang ibu, anak dari seorang bapak yang mengalami penyakit stroke di sebuah rumah yang kami kunjungi. Bapak yang mengalami penyakit stroke sangat menderita dan hanya bisa berbaring di tempat tidur.
Ketika kami (saya bersama Sr. Delfiana, RMI, ketua lingkungan St. Maria Asumta Jogoyudan Lor, serta beberapa ibu lain yang mendampingi kami dalam melakukan kunjungan kepada umat pada pukul lima sore hingga tujuh malam) berkomunikasi dengan bapak itu, ia hanya bisa menangis dan ibu yang mendampinginya mengatakan, “Bapak nggak bisa berbicara, Ter.”
Saya sangat merasa kasihan dengan bapak itu (ditambah lagi dengan suara tangisannya yang seakan-akan mau mengatakan, “Kenapa saya harus seperti ini?”) dan kami pun hanya bisa mendoakan beliau agar cepat sembuh.
“Bapak Thomas Wahyono dulu sangat aktif ke gereja sebelum ia jatuh sakit, Ter,” beri tahu Bu Endang, istri Pak Sugianto yang rumahnya menjadi tempat saya bermalam selama live in di Paroki Jetis.
“Saya sendiri di rumah ini. Anak-anak saya pada kerja semua, Ter, dan kondisi tangan saya ini terpengaruh saat jatuh kemarin ketika menuruni anak tangga. Sekarang saya nggak kuat lagi untuk berjalan jauh sehingga saya tidak pergi ke gereja,” tutur ibu dari keluarga lain yang kami kunjungi pada sore itu.
“Ini belum bisa angkat yang berat-berat,” imbuhnya sambil menunjukkan tangannya yang sedang diperban.
Ia bercerita kepada kami dengan berlinangkan air mata. Dengan usia yang sudah lanjut, ia berjuang sendiri untuk mempertahankan hidupnya dan anak-anaknya. Suaminya sudah meninggal puluhan tahun yang lalu.
Ketika saya bertanya terkait orang yang memberi perhatian di sekitarnya, ternyata ibu itu hidup di tengah-tengah saudara dan saudarinya sehingga meskipun anak-anaknya tidak ada di tempat, masih ada keluarga yang bisa memberinya perhatian.
Bingkisan bagi kami
Dari perjumpaan kami yang berkisar tiga jam, ada beberapa poin yang menjadi berkat juga bagi kita. Ketika bersama dengan ibu yang matanya gagal dioperasi, saya bisa menemukan satu nilai yang penting kita hayati bersama, yakni kerelaan untuk menerima segala sesuatu yang telah terjadi pada diri itu sangat penting.
Jika kita belum bisa menerima keadaan, maka kita akan mengalami kesulitan dalam segala hal dan rasa syukur menjadi hilang total dalam hati kita, makna pengharapan menjadi pudar dalam hidup kita. Ketika kita masih bergulat dengan penyesalan terhadap apa yang terjadi, sadar atau tidak sadar kita sebenarnya sedang mendekatkan diri pada penderitaan yang makin menjadi-jadi dan membuat orang lain yang ada di sekitar juga tertekan.
Ketika kami berjumpa dengan bapak yang stroke, poin yang kita dapatkan adalah harus bisa menerima kenyataan, harus belajar untuk bisa menerima diri kita yang sedang mengalami krisis, karena awal untuk melakukan penyembuhan adalah berani menerima keadaan, maka segala cara yang dilakukan untuk mendukung penyembuhan akan bekerja dengan cepat untuk melakukan penyembuhan pada diri kita dan paling dasar berkaitan penerimaan ini adalah pikiran yang harus terjaga agar tetap sehat berpikir.
Masih banyak keluarga lain yang kami kunjungi sore itu, tetapi yang signifikan menurut saya adalah tiga keluarga yang sudah saya sebutkan.
Pewartaan dan pendampingan iman umat seperti inilah yang harus kita lakukan terus-menerus, yakni biarawan dan biarawati yang turun langsung kepada umat dan merasakan situasi hidup mereka. Maka, saya sangat yakin fokus Formatio Iman Berjenjang dan Berkelanjutan akan benar-benar dirasakan oleh umat sehingga bisa tercipta umat yang sejahtera, bermartabat, dan beriman (tema rekoleksi yang kami hayati selama berdinamika di lingkungan tempat kami dibagikan).
Saya sangat mengharapkan kegiatan seperti ini diadakan terus oleh Keuskupan Agung Semarang (KAS) agar biarawan dan biarawati tidak merasa asing dengan umatnya dan turut merasakan apa yang umat rasakan. Sebab, memang itulah tujuan kita, yakni dekat dan melayani umat. Pengarang Injil Yohanes menuliskan kata-kata Tuhan Yesus berkaitan hal ini, “Akulah Gembala yang baik, dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku” (Yoh. 10:14).
Fr. Martinus Dendo Ngara, C.Ss.R (Mahassiswa Fakultas Teologi Wedabhakti – Universitas Sanata Dharma)




