Anditya Restu Aji: Kolsani sebagai Ruang Perjumpaan dan Menimba Ilmu

Kesaksian1209 Views

Anditya Restu Aji, S.I.P. M.Han, aktivis Buddhis dari Vihara Karangdjati, Yogyakarta, bersyukur mengikuti kegiatan di Kolese Santo Ignatius (Kolsani) Yogyakarta. Pria yang aktif di Young Interfaith Peacemaker Community (YIPC) dan Gusdurian ini mengaku mengenal Kolsani ketika menghadiri undangan kegiatan antariman dalam rangka perayaan 100 tahun Kolsani.

“Kolsani bukan hanya tempat pendidikan bagi para frater atau calon imam Jesuit yang akan ditahbiskan. Di Kolsani, saya menda­patkan ilmu dan hal-hal baru, yang tidak kami dapatkan di tempat kerja atau ibadah kami masing-masing,” ungkap Andit.

Sebagai outsider alias orang luar, Andit merasa diterima dengan baik dan hangat oleh para frater maupun romo. “Kami diperlakukan seperti di rumah sendiri serta mendapatkan ilmu yang tidak didapatkan di tempat lain,” terangnya.

Pengalaman cukup mengejutkan tetapi berharga adalah ketika Andit diminta me­mimpin doa makan dengan cara iman yang dianutnya sebagai pengikut Sang Buddha. Dengan perasaan syukur dan penuh gejolak, seakan tak percaya, Andit melaksanakannya dengan sepenuh hati demi kebersamaan dalam perbedaan.

Tidak ada keragu-raguan bagi Andit untuk masuk ke Kolsani, karena sejak TK hingga SMA ia terbiasa dengan lingkungan akademik Katolik. Apalagi, Andit adalah lulusan SMA Kolese De Britto Yogyakarta yang bernaung di bawah karya Serikat Jesus (Jesuit).

Walau belum pernah masuk ke Kolsani, tetapi Andit merasa seperti kembali ke masa lalu ketika sekolah di SMA De Britto. Ke­hangatannya masih terasa, kehangatan khas Jesuit masih sama seperti dulu. Maka, ia berharap Kolsani tetap menjadi tempat yang terbuka dan hangat bagi siapa pun dalam perjumpaan untuk kebaikan bersama.

Di mata Andit, Kolsani terlihat sebagai gedung yang terkesan sepi dan sunyi. Namun, setelah masuk ke dalamnya, ternyata sungguh ramai dengan kebaikan.

Andit pun berharap agar pada kesempatan lain Kolsani juga bisa hadir di tempat-tempat lain, misalnya ke wihara, pura, atau di tengah jemaat Ahmadiyаh.

“Tak hanya itu,” lanjut Andit, “ke depan Kolsani juga menjadi ruang perjumpaan di Indonesia, khususnya di Yogyakarta, dalam me­layani. Bukan hanya untuk calon imam, tetapi terus dipupuk dan dikembangkan se­hingga orang-orang seperti saya bisa me­nimba dan mendapatkan ilmu. Kolsani juga bisa mengadakan kursus-kursus atau menjadi salah satu lokasi interfaith camp.”

Andit yang turut telibat dalam penelitian bertajuk Kaum Muda dalam Dinamika Relasi Lintas Iman: Refleksi dari Perspektif Bernard Lonergan bersama frater Kolsani, memberi tanggapan pada  pertanyaan: “Apakah masih ada kecurigaan ketika berteman dengan yang berkeyakinan atau beragama yang lain?” Subjek penelitian yang menjawab “iya”, sebut Andit, bisa dirangkul melalui interfaith camp agar semakin terbuka pada yang berbeda sehingga kecurigaan ini terobati.

Andit merasakan Kolsani hadir tidak saja untuk umat Katolik, tetapi untuk semua umat yang ada di Indonesia tanpa memadang ras, suku, dan agamanya. “Bahkan, dalam acara buka puasa yang lalu, di Kolsani hadir juga teman dari Tanzania serta Pakistan. Maka, Kolsani bukan saja sebagai institusi pen­didikan, tetapi sekaligus institusi yang me­la­kukan diplomasi kebudayaan,” tutur Andit.

Teman-teman Muslim juga diberi kesem­patan dan disediakan ruang untuk salat. “Saya pun kaget ketika diberi kesempatan un­tuk memimpin doa makan secara Buddhis,” ulang­nya bangga.l

Slamet Riyadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *