Dari Vatikan Sampai Ganjuran

Kesaksian520 Views

Pagi itu, 14 Februari 2023, hujan baru usai di pelataran Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus (HKTY) Ganjuran, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tenda-tenda terpasang di sana, panitia sibuk menyiapkan segala hal untuk menyambut kehadiran Kardinal Miguel Angel Ayuso Guixot, M.C.C.J, Presiden Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama Takhta Suci di Vatikan. Satu hari sebelumnya, Kardinal Ayuso menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Tak jauh dari kompleks gereja, Sr. Magdelin, CB mempersilakan Tim Gegana masuk ke area Panti Asuhan Santa Maria Ganjuran untuk melakukan penyisiran dan sterilisasi. Rupanya, Kardinal Ayuso akan berkunjung pula ke sana.

Selanjutnya, Uskup Agung Semarang Mgr. Robertus Rubiyatmoko bersama Vikep Jogja Barat Rm. A.R. Yudono Suwondo, Pr, Vikep Jogja Timur Rm. Adrianus Maradiyo, Pr, dan Rama Paroki HKTY Ganjuran Rm. Raymundus Sugihartanto, Pr turut memantau lokasi panti asuhan yang dipimpin Sr. Magdelin itu.

“Kehadiran Kardinal Ayuso sebenarnya sudah diumumkan pada hari Minggu di gereja. Tapi kami belum sadar kalau beliau akan ke sini juga, karena tidak disebutkan. Malam sebelumnya pun kami masih belum dapat kepastian dan tidak terlalu banyak berharap bahwa Kardinal Ayuso akan sampai ke panti. Tapi, kami tetap siap secara maksimal untuk menerima tamu dari Vatikan yang jauh,” ungkap Sr. Magdelin.

Persiapan dilakukan dalam waktu singkat dengan mengupayakan kebersihan lingkungan, menata dekorasi, membagi tugas sebagai penerima amu, juga untuk tampil menyanyi dan bermain angklung serta kolintang. Tak lupa, kaus seragam yang sedianya untuk merayakan Valentine’s Day pun dibagikan. “Jadi, kaus yang mereka pakai itu masih baru,” imbuh Sr. Magdelin.

Sr. Magdelin, CB terlihat kebingungan dan bersyukur saat Kardinal Ayuso memasuki kompleks Panti Asuhan St. Maria Ganjuran.

Ketika Kardinal Ayuso beserta rombongan memasuki kompleks panti asuhan, Sr. Magdelin bergegas lari ke aula, meminta anak-anak memainkan angklung, kolintang, dan menyanyi Terima Kasih Seribu untuk mengiringi. “Anak-anak tidak paham judul lagu itu, maka saya bilang, ‘Surya bersinar!’ Lalu mereka menyanyi,” kenang Sr. Magdelin terkekeh.

Dalam momen itu, mantan Kepala Kantor Yayasan Syantikara ini melihat Kardinal Ayuso tampak sungguh mencintai anak-anak, begitu pula Mgr. Rubi dan rama-rama vikep. “Kecintaan beliau terhadap anak-anak membuat saya pribadi merasa diteguhkan. Semoga peristiwa ini menjadi penyemangat bagi kami untuk makin bahagia dan mencintai anak-anak yang ‘kurang beruntung’ dalam hidupnya. Anak-anak ini bisa dihargai dan dicintai semua orang itu sudah luar biasa,” ungkap Sr. Magdelin terharu.

Sebagai generasi penerus Bunda Elisabeth Gruyters, pendiri Kongregasi Suster-suster Cintakasih St. Carolus Borromeus (CB), mencintai anak-anak bukan teori, tetapi dengan sepenuh hati merangkul mereka yang sangat membutuhkan uluran tangan.

“Masing-masing anak itu unik. Mereka bersedia datang ke sini karena ada beban di keluarga asalnya. Di sini, mereka butuh uluran tangan dan sentuhan hati kita sebagai CB. Bahkan, mereka pun berkesempatan mendapat perhatian khusus dari atas, utusan Gusti Allah. Merindingnya itu, utusannya datang dari Vatikan,” tutur Sr. Magdelin.

Dari Vatikan sampai Ganjuran, bahkan sampai ke panti asuhan. Kardinal Ayuso sebenarnya sudah berulang-ulang diminta untuk lanjut mengunjungi RS Santa Elisabeth di belakang gereja, tetapi ia bersikeras memilih ke panti asuhan.

Kardinal Ayuso memberikan berkenan memberkati saat berkunjung ke Panti Asuan Santa Maria Ganjuran. (Foto-foto: Slamet Riyadi).

Pada saat Mgr. Rubi dan anak-anak berlutut mohon diberkati, Kardinal Ayuso berkata, “Suster akan mendapat hadiah.” Spontan, anak-anak bertepuk tangan histeris. Kardinal Ayuso lantas mengambil sesuatu dari saku dan memberikannya kepada Sr. Magdelin yang belum sempat berlutut. Ketika menerimanya, Sr. Magdelin merinding, bingung, haru, dan gemetaran sehingga untuk membukanya pun tidak bisa. Ia lantas meminta bantuan Rm. Markus Solo Kewuta, SVD dan Kardinal Ayuso. “Ternyata bisa dibuka, hanya dipencet. Isinya rosario,” katanya berseri-seri.

“Waktu Kardinal Ayuso memberikannya, saya merasa Yesus sendiri yang hadir. Saya gunakan rosario itu pada saat-saat tertentu supaya saya bisa menjaganya. Saya letakkan di tempat khusus. Kalau di kamar, ya didekat patung Bunda Maria. Kalau saya mau pergi, rosario itu saya cium dulu,” ungkap Sr. Magdelin.

Sr. Madelin menerima hadiah rosario dan merasa Yesus sendiri yang hadir saat Kardinal Ayuso memberinya.

Selain dirinya, anak-anak Panti Asuhan Santa Maria Ganjuran juga antusias dan gembira karena boleh bertemu Kardinal Ayuso. Dari 56 anak, ada 40 anak yang bisa berkumpul. Mereka yang kuliah di ASMI Santa Maria maupun Universitas Sanata Dharma (USD) serta yang tinggal di Asrama SMA Stella Duce 2 (Stero) dipanggil untuk pulang. Tak lupa, pihak panti mengirim surat izin khusus ke sekolah agar anak-anak dapat diperbolehkan ikut menyambut kehadiran Kardinal Ayuso. “Syukurlah, sekolah memberi dukungan,” ucap Sr. Magdelin.

Ya, Sr. Magdelin bersama para mitra karya sungguh bersyukur dan berterima kasih karena Kardinal Ayuso telah berkenan hadir di Panti Asuhan Santa Maria Ganjuran. Peristiwa ini sungguh menjadi penyemangat bagi mereka. “Tak pernah terpikir beliau akan masuk ke sini. Lewat tulisan-tulisan bapak dan ibu karyawan, terungkap kebahagiaan dan rasa terharu mereka saat Kardinal Ayuso berkunjung. Apalah kita yang di Ganjuran ini kok sampai dikunjungi utusan dari Vatikan?” pungkas Sr. Magdelin menutup sharing-nya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *