Di tengah keberagaman bangsa Indonesia, kadang terjadi konflik horizontal, lebih-lebih yang melibatkan antarumat beragama. Para frater Kolese St. Ignatius (Kolsani) terpanggil menanggapinya dengan aktif terlibat dalam perjumpaan lintas iman.
Salah satu komunitas lintas iman yang berjalan bersama para frater Kolsani ialah Young Interfaith Peacemaker Community (YIPC). Lewat komunitas inilah untuk pertama kalinya Annisa Zuhra berkenalan dengan Kolsani.
“Saat itu kami diundang oleh para frater untuk silaturahmi. Setelah itu, kami terus menjalin relasi dengan menggelar berbagai kegiatan,” kisah wanita asal Bireuen, Nanggroë Aceh Darussalam (NAD) ini.
Setiap bulan, YIPC mempunyai kegiatan rutin dengan lokasi berbeda. Namun, YIPC sering meminjam sebuah ruang di Kolsani untuk tempat berdiskusi, membaca Kitab Suci bersama, maupun berdialog.
Apabila para frater di Kolsani ada kegiatan, YIPC pun terbuka untuk berkolaborasi. Misalnya dalam menyambut perayaan 100 tahun Kolsani, YIPC turut menjadi salah satu subjek penelitian bertajuk Kaum Muda dalam Dinamika Relasi Lintas Iman: Refleksi dari Perspektif Bernard Lonergan.
Annisa lantas bercerita, masyarakat di kampung halamannya sangat homogen, baik suku maupun agama. Sejak SD sampai SMA, ia belajar di sekolah negeri. Di SMP hingga SMA, Annisa baru berjumpa beberapa teman yang bukan dari suku Aceh. “Mereka warga Aceh, tetapi beretnis Tionghoa. Ada yang Buddha dan Katolik. Itu pengalaman pertama saya berkenalan dengan orang-orang yang berbeda,” ungkap Annisa.
Namun, sebagai anak SMP, Annisa mengaku tak punya keberanian untuk bertanya mengapa mereka berbeda warna kulit, rambut, dan kepercayaan. Di lingkungannya, ada pandangan tertentu mengenai orang-orang yang berbeda ini.
“Ketika berteman dengan teman-teman Tionghoa, saya melihat mereka nggak seperti yang orang tua saya katakan, yakni orang di luar kami nggak boleh dijadikan teman. Itu membuat saya ingin punya teman selain orang Aceh dan Islam,” tutur staf desain dan media YIPC Newsletter PeaceNews ini.
Lulus SMA, Annisa memilih kuliah S-1 di luar Aceh. “Alhamdulillah, saya diterima di UIN Sumatera Utara, Medan. Di sanalah saya pertama kali mengenal komunitas YIPC yang tersebar di beberapa kota,” ucap Annisa.
Tahun 2019, saat melanjutkan studi S-2 di Program Studi Kajian Komunikasi dan Masyarakat Islam UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Annisa tetap bergabung dengan YIPC setempat dan justru mendapatkan pengalaman yang lebih beragam daripada di Medan. Ia bertemu banyak teman dari kepercayaan lokal, berkunjung ke aneka tempat seperti Kolsani, dan sebagainya.
“Pertama kali menginjakkan kaki di tempat seperti Kolsani, sebagai muslimah yang belum pernah punya pengalaman seperti ini, saya masuk dengan berbagai pertanyaan. Tempat yang dipakai orang Katolik untuk belajar itu apa saja sih? Orangnya seperti apa sih?” akunya lugas.
Setiap kali YIPC diundang ke Kolsani untuk silaturahmi atau berdiskusi, Annisa merasa mendapatkan suasana penerimaan yang membuatnya nyaman hingga akhirnya tergerak untuk terus datang ke Kolsani.
“Kolsani bukan hanya tempat berdiskusi, berdialog, bertukar pengetahuan, tapi juga bisa bertemu teman-teman dari berbagai daerah dan latar belakang. Itu sesuatu yang nggak saya dapatkan di kampung halaman. Saya pun melihat, Kolsani yang kalau dilihat dari luar kadang sepi, tapi kalau masuk ke dalamnya penuh dengan penerimaan dan kehangatan,” saksi Annisa tulus.
Selama di Yogyakarta, para frater yang Annisa kenal di Kolsani telah menjadi imam dan beberapa di antaranya sudah tidak di kota ini. “Ketika orang-orang datang dan pergi, menjaga hubungan itu kadang susah, apalagi pada masa pandemi lalu. Walau orang-orangnya silih berganti, semoga Kolsani tetap menjadi rumah bagi anak muda yang punya keinginan untuk datang ke sana, berjumpa dengan orang-orang yang berbeda. Sebab, nggak mudah menemukan tempat yang membuka pintu,” harap Annisa sembari menambahkan, “Semoga anak-anak muda di Yogyakarta bisa terus kolaborasi serta menjadikan Kolsani sebagai ruang pertemuan bagi siapa saja.”








