Teladan Spiritualitas St. Yakobus bagi Umat Paroki Bantul

News1965 Views

Bantul. Dalam rangka menyambut hari jadi ke-90, Paroki St. Yakobus Bantul, D.I. Yogyakarta menggelar Sarasehan Spiritualitas Santo Yakobus pada Kamis, 27 Juni 2024 di Gereja St. Yakobus Bantul.

Sarasehan bersama Rm. Agus Widodo, Pr (dosen Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma dan Fakultas Teologi Kepausan Wedabhakti Yogyakarta) ini diikuti panitia hari jadi ke-90 Paroki St. Yakobus Bantul, peserta Kursus Evangelisasi Pribadi (KEP) Angkatan 1, Persekutuan Peduli Kitab Suci (P2KS), serta perwakilan umat dari wilayah maupun lingkungan.

Pastor Paroki St. Yakobus Bantul, Rm. Laurentius Dwi Agus Merdi Nugroho, Pr, mengungkapkan, mencari spiritualitas St. Yakobus yang memang tidak mudah. “Dengan lebih mengenal St. Yakobus sebagai pelindung paroki, kita meneladani spiritualitas yang akan kita lanjutkan. Harapannya, St. Yakobus semakin mendorong kita untuk memperteguh iman, mempererat persaudaraan, dan jiwa pelayanan boleh kita alami pada hari ini sekaligus nanti pada perayaan-perayaan selanjutnya,” ucap Rm. Merdi.

Setelah mengikuti sarasehan ini, panitia, peserta, dan seluruh umat juga diharapkan memperoleh oleh-oleh yang berharga bagi lingkungan masing-masing. “Ini menjadi tugas dan PR yang perlu dilaksanakan dalam doa-doa lingkungan supaya spiritualitas St. Yakobus ini dikenali oleh seluruh umat,” imbau Rm. Merdi.

Berdiri di depan (dari kiri ke kanan): Rm. Agus Widodo, Pr dan Rm. Laurentius Dwi Agus Merdi Nugroho, Pr. (Foto: Dok. Komsos Paroki Bantul)

Salah satu pertanyaan yang ingin dijawab dalam sarasehan ini ialah siapa sebenarnya pelindung Paroki St. Yakobus Bantul. “St. Yakobus yang mana?” tanya Rm. Agus. Sebab, setidaknya dalam Kitab Suci Perjanjian Baru ada empat orang dengan nama Yakobus.

Keempat Yakobus itu antara lain Yakobus ayah Rasul Yudas, Yakobus Muda/anak Alfeus, Yakobus Tua/anak Zebedeus/saudara Rasul Yohanes, dan Yakobus saudara Tuhan Yesus/Soko Guru Gereja Yerusalem/yang diduga penulis Surat Yakobus.

“Kalau kita salah (mengidentifikasi), kita akan memahami spiritualitas yang keliru,” lanjut Rm. Agus. “Padahal, spiritualitas ini akan menjadi landasan dalam menyusun program-program pelayanan dewan pastoral paroki ketika menyusun dinamika-dinamika kegiatan.”

Berdasarkan informasi yang Rm. Agus terima, yang dimaksud sebagai pelindung Paroki St. Yakobus Bantul adalah Santo Yakobus Tua, salah satu dari rasul Yesus, anak Zebedeus dan saudara Rasul Yohanes. Sementara itu, pesta St. Yakobus Tua ini dirayakan setiap 25 Juli, seperti yang selalu dirayakan Paroki St. Yakobus Bantul.

Rm. Agus kemudian mengajak peserta untuk menimba spiritualitas Santo Yakobus dari latar belakang keluarganya, sebutan yang diberikan Yesus kepadanya, dan kisah hidupnya.

Orang tua St. Yakobus, Zebedeus dan Salome, mendidik anak-anak mereka dengan dilatih dan dilibatkan dalam bekerja, tetapi juga diberi kebebasan untuk memilih jalan dan cara hidup mereka. Ketika Yesus menghendaki dua anak mereka sekaligus, Yakobus dan Yohanes, Zebedeus tidak keberatan. Meskipun mungkin Zebedeus mengharapkan mereka untuk menjadi penerus keluarga dan usahanya, tetapi ia merelakan mereka untuk meninggalkannya supaya mengikuti Yesus.

“Luar biasa! Hal ini kiranya menjadi poin spiritualitas yang baik untuk kita hayati dalam keluarga kita masing-masing, yakni melatih dan melibatkan anak dalam pekerjaan sehari-hari, mempersiapkan masa depan mereka, tapi juga memberi kebebasan kepada mereka untuk memilih jalan hidup masing-masing asal tetap mengikuti Tuhan,” tutur anggota Komisi Liturgi Keuskupan Semarang ini.

Kemudian, tentang sebutan Boanerges yang berarti anak-anak guntur kepada Yakobus (dan Yohanes) yang diberikan oleh Yesus sendiri, menunjukkan karakter khas Yakobus sebagai orang Galilea yang religius, tangguh, rajin, pekerja keras, berani, pembela iman dan kebenaran yang gigih.

Karakter-karakter ini juga dapat menjadi inspirasi spiritualitas yang baik untuk terus-menerus ditumbuhkembangkan dalam diri para gembala, pengurus dewan pastoral, pelayan umat, dan seluruh umat.

“Kita belajar dari St. Yakobus yang kapalnya biasa ditempa kerasnya ombak, diombang-ambingkan deru lautan, dan melemparkan serta menarik jala kuat-kuat, sehingga harus mampu mengendalikan kapal itu. Maka, kita pun hendaknya memiliki energi kemuridan yang luar biasa. Sebab, hidup kita, keluarga kita, dan Gereja kita bagaikan bahtera atau kapal di tengah lautan,” ujar Rm. Agus.

Tentang kisah hidup St. Yakobus, Rm. Agus membagi menjadi tiga poin, yakni menjawab panggilan sebagai rasul, menjalani panggilan sebagai rasul, dan menjadi martir.

Ketika dipanggil dan dipilih untuk mengikuti Yesus sebagai rasul, St. Yakobus tanpa ragu meninggalkan ayahnya di dalam perahu bersama orang-orang upahannya. Ia tidak menunda, tetapi “segera”.

“Belajar dari St. Yakobus, kiranya baik kalau semangat ‘segera, tanpa menunda’ ini menjadi spiritualitas kita dalam setiap karya pelayanan. Dalam lingkup Gereja, baik tingkat lingkungan maupun paroki, kehadiran, keterlibatan, dan pelayanan kita sangat diharapkan. Dalam lingkup masyarakat, tentu kehadiran dan keterlibatan kita di RT dan perkumpulan-perkumpulan lain juga sangat dibutuhkan,” urai imam yang ditahbiskan di Yogyakarta, 29 Juni 2010 ini.

Rm. Agus menjawab pertanyaan peserta didampingi moderator Bonifatius Slamet, katekis Paroki St. Yakobus Bantul. (Foto: Willy Putranta)

Sebagai rasul, St. Yakobus dianugerahi kesempatan untuk selalu berada di dekat Yesus, masuk dalam “ring pertama” Yesus bersama Petrus dan Yohanes, serta diberi privilese untuk mengalami saat-saat istimewa bersama Yesus.

“Namun, ia juga grusa-grusu, tidak empan papan. Yesus sedang menubuatkan sengsara-Nya, kok malah meminta ‘jatah kursi’ dalam Kerajaan Surga. Ketika diminta menemani Yesus untuk berjaga dan berdoa, malah tertidur, dan ketika dibangunkan, tertidur lagi. Ketika Yesus ditangkap, malah melarikan diri,” sebut Rm. Agus dengan jenaka sehingga membuat peserta tertawa.

Rm. Agus menyebut hal itu lumrah dan manusiawi. Namun, tidak baik kalau terus-terusan begitu. Setelah melarikan diri, St. Yakobus kembali lagi berkumpul bersama para murid dan mengalami kehadiran Yesus yang bangkit. Ia pun berkomitmen untuk setia pada panggilan dan misinya menjadi saksi iman akan Kristus sampai akhir hidupnya.

St. Yakobus yang diajak Yesus untuk hadir pada saat Ia membangkitkan orang mati (anak Yairus), menjadi contoh pelayanan pastoral kematian (pangrukti laya) mestinya menjadi salah satu pelayanan unggulan kita, baik romo maupun umat.

Yakobus juga secara khusus diajak tinggal bersama Yesus dalam peristiwa transfigurasi di atas gunung dan saat Yesus berdoa di Taman Getsemani. “Maka, kegiatan-kegiatan yang menjadikan umat mempunyai sarana yang cukup untuk ‘tinggal bersama Yesus’ kiranya perlu diciptakan atau dikembangkan, misalnya adorasi. Di keluarga-keluarga dihidupkan doa bersama sebagai sarana untuk semakin terbuka menyambut kehadiran Yesus. Mungkin bisa juga dipikirkan, misalnya ‘gerakan satu jam bersama Yesus’, entah bagaimana bentuknya,” usul Rm. Agus.

Ajakan Yesus kepada St. Yakobus untuk menemani-Nya di Taman Getsemani juga merupakan ajakan untuk hadir dan menemani-Nya saat Ia mengalami peristiwa yang tidak mudah dalam hidup-Nya. “Hal ini kiranya dapat juga menjadi inspirasi gerakan-gerakan pastoral untuk memberi prioritas pelayanan kepada umat yang mengalami saat-saat yang berat dan sulit dalam hidupnya. Mereka butuh ditemani, dikaruhke, diteguhkan,” sambung staf Seminari Tinggi St. Paulus, Yogyakarta ini.

Akhirnya, St. Yakobus memahkotai hidup dan panggilannya sebagai rasul dengan menumpahkan darah. Karena imannya akan Kristus dan karena kesaksian serta pewartaannya, ia dibunuh sebagai martir oleh Raja Herodes. “Semangat apa yang dapat kita petik dari kemartiran St. Yakobus ini? Tentu, tidak perlu kemartiran yang sama persis. Namun, kita bisa meneladan militansi dan pengorbanannya,” tegas Rm. Agus.

Pada zaman sekarang, ada begitu banyak tawaran dunia yang menjadikan iman akan Kristus bukan sebagai hal yang diprioritaskan. Banyak orang meninggalkan iman, entah karena jodoh, pekerjaan, atau sebab yang lain. “Dalam situasi ini, usaha dan gerakan-gerakan agar anak-anak dan kaum muda kita makin memiliki iman yang mendalam dan tangguh atau militan, perlu diupayakan dan ditingkatkan. Entah bagaimana caranya, itu yang perlu dipikirkan dengan mempertimbangkan situasi konkret umat,” tandas Rm. Agus mengingatkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *