Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Pasal 1 tentang Guru dan Dosen menyebutkan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini melalui jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah (Depdiknas, 2005).
Sebagai konsekuensi logis dari amanat dari Undang-Undang tersebut, pendidikan seharusnya dijalankan dengan baik oleh para pemangku kepentingan, baik pemerintah, masyarakat, dan sekolah, termasuk guru.
Melalui cara yang serius dan terprogram, maka pendidikan dapat berjalan dengan baik dan maksimal. Melihat hal di atas, maka guru merupakan elemen kunci dalam sistem pendidikan, khususnya di sekolah. Komponen lain, mulai dari kurikulum, sarana prasarana, biaya, dan sebagainya tidak akan banyak berarti apabila esensi pendidikan dan pembelajaran, yaitu interaksi guru dengan peserta didik, tidak dilaksanakan dengan baik.

Begitu pentingnya peran guru dalam mentransformasikan ilmu-ilmu dalam pendidikan sehingga sekolah tidak akan ada perubahan atau peningkatan kualitas tanpa adanya perubahan dan peningkatan kualitas guru.
Gereja Katolik memberikan perhatian sangat besar terhadap dunia pendidikan. Gereja melihat, pendidikan mempunyai makna yang sangat penting dalam kehidupan manusia dengan segala seginya, baik segi kebudayaan, segi keagamaan, segi politik, dan segi ekonomi.
Pendidikan juga dipandang sebagai bagian tidak terpisahkan dari tugas Gereja untuk mewartakan misteri keselamatan Kristus kepada semua orang di seluruh dunia. Perhatian Gereja Katolik terhadap dunia pendidikan itu tercermin di dalam dokumen Gravissimum Educationi (GE).
GE adalah dokumen pernyataan Gereja tentang Pendidikan Katolik, salah satu hasil Konsili Vatikan II. Dokumen ini secara umum berbicara tentang asas-asas dasar pendidikan Katolik.
Nada dasar yang mengawali pernyataan ini adalah “sangat pentingnya pendidikan di dalam kehidupan manusia, serta dampak pengaruhnya yang sangat besar terhadap kemajuan dunia dan masyarakat zaman sekarang”. GE menjadi bukti perhatian Gereja terhadap dunia pendidikan sehingga perlu peran semua pihak untuk memperhatikan pentingnya pendidikan dilaksanakan zaman sekarang.
Pendidikan merupakan salah satu jalur bagi Gereja dalam menunaikan tugas perutusannya di dalam dunia. Gereja yang mengemban tritugas Kristus, hadir dalam dunia untuk mewartakan kabar gembira, melayani, dan menguduskan. Kehadiran Gereja dalam dunia pendidikan tidak lain untuk mewartakan kabar keselamatan Kristus kepada seluruh umat manusia.
SMP Kanisius Kalasan merupakan salah satu sekolah swasta Katolik yang menanggapi amanat Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 dan Gravissium Educationis serta melaksanakan tugas perutusan Gereja melalui jalur pendidikan.
Dengan meneladan semangat spiritualitas yang kuat dan mendalam dari Santo Petrus Kanisius dan Santo Ignatius Loyola yang memiliki pengaruh besar pada perkembangan Gereja dan pendidikan Katolik, SMP Kanisius Kalasan mempersiapkan guru sebagai elemen kunci dalam pendidikan untuk mewartakan kabar keselamatan dengan penuh kegembiraan demi terwujudnya peserta didik yang siap terjun dalam hiruk-pikuk kehidupan yang sesungguhnya.
Spiritualitas menjadi hal yang penting dalam lembaga pendidikan karena sangat bermanfaat bagi setiap pribadi dan bermanfaat juga untuk lembaga pendidikan. Spiritualitas merupakan penyebab meningkatnya komitmen guru dan karyawan di tempat kerja sehingga akan bekerja lebih keras dan bahagia.
Spiritualitas mengajarkan orang untuk mengekspresikan dan memberi makna pada setiap tindakannya. Bila ingin menampilkan kinerja yang baik, maka dibutuhkan kecerdasan spiritual. Kecerdasan tersebut menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bernilai dan bermakna.
Menyadari akan pentingnya spiritualitas bagi perkembangan sekolah, SMP Kanisius Kalasan memberi ruang bagi guru dan karyawan mempelajari pentingnya spiritualitas bagi perkembangan pribadi dan lembaga pendidikan.

Didampingi Rm. Agustinus Setyodarmono, SJ alias Rm. Nano, SMP Kanisius Kalasan memperdalam pemahamanan tentang spiritualitas Ignatian. Spiritualitas Ignatian berasal dari Latihan Rohani Ignatius Loyola yang bertujuan untuk membantu seseorang untuk “menaklukkan diri sendiri dan mengatur hidupnya”.
Spiritualitas merupakan semangat hidup yang didasarkan pada relasi pribadi seseorang dengan Tuhan pencipta. Relasi pribadi ini akan memengaruhi cara pandang orang tersebut terhadap Sang Pencipta, dunia, dan segala makhluk ciptaan. Contohnya, bila seseorang merasakan pengalaman dicintai oleh Tuhan, maka seseorang itu akan memandang dunia ini sebagai anugerah yang harus disyukuri dan dijaga, termasuk ketika seseorang itu memandang sesamanya.
Pengalaman dikasihi ini akan mendorongnya untuk mengasihi sesama dan seluruh makhluk ciptaan. Dengan demikian, Spiritualitas Ignatian merupakan semangat hidup yang dimiliki Santo Ignatius terkait pengalaman batinnya dengan Tuhan Sang Pencipta. Pengalaman batin ini mengobarkan dirinya untuk mengabdi Tuhan dan mencintai manusia demi keselamatan jiwa-jiwa.
Salah satu hal penting dalam Spiritualitas Ignatian adalah asas dasar. Pada prinsipnya, asas dasar mengandung tiga unsur, yakni (1) rumusan tujuan hidup, (2) sarana dan sikap untuk mencapai tujuan tersebut, dan (3) bagaimana menempatkan Tuhan dalam mencapai tujuan tersebut.
Dalam kegiatan pendampingan spiritualitas bersama Rm. Nano, ada tiga pertanyaan yang dilontarkan bagi para guru dan karyawan, yaitu (1) Siapakah saya?; (2) Mengabdi kepada siapa?; dan (3) Mau melakukan apa? Setiap pribadi diajak menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut sehingga mampu menemukan energi yang menggerakkan diri untuk memberikan yang terbaik.
Rm. Nano juga mengajak SMP Kanisius Kalasan untuk terus menghidupi sinodalitas sehingga bisa mempersiapan dan merencanakan formasi kegiatan yang terbaik dan bermakna bagi peserta didik.

Pendidik merupakan profesi yang harus dijalani dengan penuh tanggung jawab. Menjadi pendidik bukanlah suatu profesi biasa, melainkan sebuah panggilan hidup. Menjadi pendidik membutuhkan tangung jawab yang besar kasih sayang, ketulusan, dan kepedulian.
Pada akhir kegiatan, Rm. Nano memberikan peneguhan dan berkat supaya gerak langkah di SMP Kanisius Kalasan senantiasa meneladan semangat Santo Petrus Kanisius dan Santo Ignatius Loyola.
Heffi Widyaningrum, S.Pd.Si. (Guru SMP Kanisius Kalasan)














