Sebagai seorang gadis berusia 21 tahun, aku menyadari perjalanan hidup yang kulalui telah mengajarkan banyak hal tentang kemandirian, keteguhan hati, dan iman kepada Tuhan.
Sejak berusia 12 tahun, aku sudah meninggalkan rumah untuk menempuh pendidikan. Pengalaman merantau sejak bangku SMP menjadi awal perjalanan panjang yang membentukku menjadi pribadi yang lebih tangguh dan dewasa.
Saat SMP itu, aku bersekolah di Medan, sementara kedua orang tua tinggal di Pekanbaru. Selama tiga tahun, aku tinggal bersama Bibi.
Dulu, aku anak yang manja dan belum banyak memahami kehidupan. Jauh dari orang tua mengajarkanku untuk beradaptasi, bertanggung jawab, serta belajar menghadapi berbagai keadaan secara mandiri.
Dari pengalaman itu, aku mulai memahami kalau kedewasaan tumbuh melalui proses, termasuk ketika kita harus berani keluar dari zona nyaman.
Setelah lulus SMP, aku kembali ke Pekanbaru untuk melanjutkan SMA. Namun, karena rumah berada jauh dari pusat kota, aku harus indekos dan tinggal di rumah seorang pendeta.
Setiap pagi, aku dibiasakan mengikuti saat teduh dan membaca firman Tuhan. Kebiasaan sederhana itu menjadi bagian penting dalam perjalanan imanku.
Aku pun belajar, kehidupan rohani bukan hanya tentang berdoa, melainkan juga tentang membangun kebiasaan baik yang menolong kita menjalani kehidupan sehari-hari.
Selepas SMA, aku memutuskan melanjutkan pendidikan tinggi di Yogyakarta. Orang tua mengizinkanku merantau kembali. Aku mengira, perjalanan ini akan berjalan lancar, tetapi kenyataannya jauh berbeda dari bayanganku.
Pada semester pertama, aku sering menangis karena belum terbiasa dengan dinamika perkuliahan. Nilai akademikku pun masih rendah. Memasuki semester kedua, pergumulan itu berlanjut hingga aku jatuh sakit akibat tifus dan harus menjalani rawat inap selama empat hari.
Saat itu, aku merasa kesulitan menghadapi kehidupan sebagai mahasiswa perantau. Aku harus belajar menerima keadaan sekaligus mengumpulkan keberanian untuk melanjutkan langkah.
Perlahan, keadaan mulai membaik. Nilai akademikku meningkat sedikit demi sedikit. Pada semester ketiga, aku mulai mampu beradaptasi dengan perkuliahan dan tidak lagi sesering dahulu menangis karena rindu rumah atau homesick.
Aku belajar bahwa perubahan tidak selalu terjadi secara cepat. Ada proses panjang yang menuntut kesabaran dan kemauan untuk terus mencoba.
Namun, semester keempat kembali menjadi ujian. Aku mengalami anemia dan infeksi saluran kemih hingga harus dirawat di rumah sakit selama kurang lebih satu minggu.
Dalam keadaan sakit, aku merasa kesepian karena merindukan perhatian dan dukungan dari orang-orang terdekat.
Aku juga menghadapi persoalan akademik ketika berkas ujianku di Google Drive terhapus akibat tindakan sengaja salah satu teman yang sampai sekarang tak kuketahui siapa orangnya.
Peristiwa itu menambah beban pikiran dan berdampak pada kesehatan serta nilai akademikku yang menurun drastis. Meski begitu, aku tidak ingin menjadikan pengalaman itu menjadi alasan untuk berhenti berjuang.
Memasuki semester kelima, aku mencoba bangkit dengan semangat baru. Sedikit demi sedikit, nilai akademikku kembali stabil dan terus meningkat hingga semester keenam. Aku menyadari, kegagalan dan kekecewaan memang dapat melukai, tetapi keduanya tidak harus menentukan akhir perjalanan kita.
Dari seluruh pengalaman ini, aku belajar bahwa iman bukanlah jaminan bahwa hidup akan selalu berjalan mudah. Iman justru menjadi pegangan ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan.
Kebiasaan berdoa dan membaca firman Tuhan yang kupelajari sejak SMA mengingatkanku untuk tetap memiliki harapan, berusaha, dan menyerahkan hal-hal yang tidak mampu kukendalikan kepada Tuhan.
Kini, aku telah memasuki semester ketujuh. Perjalanan menuju wisuda masih harus kutempuh, dan aku tahu tantangan mungkin akan kembali datang. Namun, aku tidak lagi memandang setiap kesulitan semata-mata sebagai penghalang. Aku ingin belajar melihatnya sebagai kesempatan untuk bertumbuh, mengenal diri sendiri, dan memperdalam iman.
Aku percaya, setelah hujan akan ada pelangi. Selama kita mau berusaha, berdoa, dan berserah kepada Tuhan, selalu ada kesempatan untuk bangkit dan memulai kembali.
Bagiku, perjalanan merantau bukan sekadar usaha meraih pendidikan dan cita-cita, melainkan juga perjalanan untuk mengenal kehidupan, menguatkan iman, dan menjadi pribadi yang lebih dewasa.
Aku belum sampai pada garis akhir, tetapi aku ingin terus melangkah dengan keyakinan bahwa setiap proses memiliki makna. Sebab, hidup bukan hanya tentang seberapa cepat kita mencapai tujuan, melainkan juga tentang bagaimana kita tetap bertahan, bertumbuh, dan memelihara harapan di tengah perjalanan.
Mega Dayana Sari













