Pada bulan November ini, masih adakah dalam memori kita Kunjungan Apostolik Paus Fransiskus ke Indonesia? Masih adakah dalam hati kita kobaran api yang sempat menyala karena kedatangan Paus Fransiskus tersebut? Atau, kita sudah lupa, larut dan terlelap dalam rutinitas seperti biasanya? Kembali menjadi biasa seperti sebelum Paus Fransiskus datang ke Indonesia.
So what’s next?
Sebuah pembicaraan dengan salah satu alumnus kolese di Jakarta dan seorang romo Jesuit pada suatu sore membawa pada pertanyaan mendesak. Obrolan yang terjadi usai pengalaman dan kesempatan beraudiensi secara pribadi antara para Jesuit dan Paus Fransiskus. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Paus datang, lalu apa? Njuk ngapa? Pertanyaan ini terus menggelisahkan dan terbisik di hati dan pikiran saya.
Menuju dua bulan usai kedatangan Paus Fransiskus, saya merasakan bahwa semua sudah kembali dengan rutinitasnya masing-masing. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa dari tanggal 3-6 September 2024 waktu itu. Semua sudah larut dalam pekerjaan masing-masing dan barangkali lupa akan Kunjungan Apostolik Bapa Paus Fransiskus dan pesan-pesan yang dibawanya serta.
Saya mencermati bahwa media sosial maupun media cetak sudah sepi dari beragam berita atau konten terkait Kunjungan Apostolis ini. Semua sudah lupa, berganti pada hal lain. Padahal sebelumnya banyak hal bergaung dan trending di berbagai platform media sosial terkait Kunjungan Apostolis Paus Fransiskus ke Indonesia.
Apa yang saya amati ini menggelisahkan saya. Lalu, apa dampak jangka panjang dari pengalaman Kunjungan Apostolik Bapa Paus Fransiskus? Apakah saat itu yang terjadi hanyalah fenomena FOMO (fear of missing out) saja? Atau, sejatinya ada sentuhan personal dalam hati masing-masing pribadi yang dialami kita semua? Saya bertanya-tanya.

Menggugah melalui homili
Seperti orang yang baru bangun dari tidurnya, tetapi bangun karena ada sesuatu yang membangunkannya. Momen Kunjungan Apostolik Bapa Suci Paus Fransiskus menggunggah kita semua dari “tidur nyenyak” kita. Banyak hal yang mengentak dan menghenyak kita, tetapi sekaligus menyentuh kita. Mulai dari kesederhanaan, cara komunikasi, hingga pembawaannya yang penuh karisma.
Semua bangun, membuka mata, terbelalak, terpesona pada pribadinya. Salah satu yang menyentuh saya dan juga ingin saya bagikan melalui tulisan ini adalah refleksi dan tanggapan saya atas homili dari Paus Fransiskus dalam Perayaan Misa Kudus di Stadion Gelora Bung Karno (GBK) pada 5 September 2024.
Hari ini, kita hidup dalam dunia yang mendewakan kesempurnaan dan mulai tidak mengenal kegagalan, dalam arti kegagalan adalah sesuatu yang sangat dihindari dan ditolak. Semua enggan mengalami kegagalan sebagai sebuah bagian dari proses dan mencari beragam cara agar tidak mengalami kegagalan.
Kegagalan adalah aib. Satu kegagalan dianggap kegagalan seluruh hidup, meruntuhkan semua hal yang sudah dibangun. Hidup tidak lagi berwarna dan loyo karena kegagalan. Sebagai orang muda, saya merasa hal ini cukup relevan dengan dunia orang muda yang juga sedang saya rasakan. Homili Paus Fransiskus pada Misa Kudus di GBK bagi saya bisa menjadi salah satu jawaban dan bingkai refleksi bagi siapa saja yang takut akan dan sedang mengalami kegagalan.
Dalam refleksi saya, Paus Fransiskus menyapa sisi kemanusiaan kita yang terkait dengan kegagalan, ketika kekecewaan dan kemandekan menjadi ujung dari kegagalan yang dialami. Beliau, melalui homilinya, mengajak untuk merefleksikan tentang kegagalan.
Sebagai seorang murid Yesus, kegagalan diatasi dengan mendengarkan dan menghidupi sabda. Mendengarkan adalah suatu sikap keterbukaan dan menghidupi sabda yang berarti mengubah seluruh cara berpikir, merasa dan bertindak dalam hidup kita. Kisah dari Injil Lukas 5:1-11 tentang Panggilan Para Murid Pertama menjadi kisah yang membantu kita merefleksikan hal tersebut.
Digambarkan bahwa orang banyak mengerumuni Yesus hendak mendengarkan Firman Allah. Dari berbagai pengalaman, saya menyetujui dan menyadari bahwa setiap pribadi memiliki hasrat untuk mencari kebenaran yang memuaskan, memberikan kelegaan dalam hidup, seperti yang disampaikan Paus Fransiskus. Ketika mengalami kegagalan-kegagalan dalam hidup, kita selalu berusaha mencari kembali kebenaran yang melegakan, mencari makna yang membebaskan.
Apa yang menyentuh saya secara lebih dari apa yang disampaikan Paus Fransiskus adalah kenyataan bahwa Yesuslah yang menawarkan diri dan menyapa pertama kali, meminta untuk masuk ke dalam perahu milik Simon Petrus. Tepat pada saat Simon Petrus mengalami kegagalan setelah semalaman menjala ikan, tetapi tidak mendapat apa-apa.
Saya setuju bahwa kita perlu belajar dari Simon Petrus yang memberi ruang bagi Yesus di atas perahunya. Di sini, saya melihat bahwa kerinduan akan kebenaran hanya akan terpenuhi ketika kita memberi ruang bagi Yesus untuk memasuki perahu kehidupan kita. Bagaimana caranya? Dengan mendengarkan-Nya, terbuka pada kehadiran-Nya, seperti yang disampaikan Paus Fransiskus.
Selanjutnya, setelah mendengarkan-Nya, Yesus menantang kita untuk menghidupi sabda itu. Ia mengundang kita untuk mengambil risiko. “Bertolaklah ke tempat yang lebih dalam,” sabda Yesus pada Petrus. Kita ingat bagaimana Petrus mengalami kegagalan menjala ikan, nihil, tidak ada hasil. Paus Fransiskus menuliskan bahwa undangan Yesus ini menuntut kita untuk mengubah cara pandang dan membiarkan diri kita dipenuhi oleh-Nya. Kita dipanggil untuk membebaskan diri dari pantai sebagai simbol kemandegan dalam hidup.

Paus Fransiskus dengan tegas menuliskan bahwa ada banyak alasan untuk menolak hal tersebut. Namun, kita dipanggil untuk belajar dari Petrus. Ia mengalami kekecewaan, kegagalan, kelesuan, tetapi berani mengambil risiko dan melakukan apa yang Tuhan minta. Hal tidak terduga terjadi, jala penuh ikan yang membuat Simon Petrus bahkan harus memanggil teman-temannya. Mukjizat terjadi, justru ketika kita berani mengambil risiko.
Pertanyaan refleksi yang bisa kita ambil dari homili Paus Fransiskus ini adalah, apakah kita mau ditawan oleh kegagalan dan menatap jala kosong? Atau, kita mau mendengarkan Sabda dan mengambil risiko untuk “bertolak ke tempat yang lebih dalam dan menebarkan jala lagi”?
Paus Fransiskus meminta kita untuk kembali berlayar, terus berlayar, menebar jala dan terus bermimpi. Dalam refleksi saya, kegagalan bukan berarti kemandekan. Pantai, malam hari, jala kosong, memang menjadi simbol kegagalan. Namun, keterbukaan pada Tuhan akan membawa kita pada lautan, cahaya, dan jala penuh ikan yang menjadi simbol mimpi yang terus dibangun tanpa lelah.
Satu kegagalan bukan berarti kegagalan untuk semuanya, bukan berarti keruntuhan seluruh hidup kita. Mari terus bermimpi, menjala, dan tidak takut mengalami kegagalan yang menjadi bagian sebuah proses mencapai mimpi itu.
Yohanes Deo Yudistiro Utomo, SJ (Frater Filosofan SJ di Jakarta)













