Serenade Pesparani 2025 Bantul: Upaya Menampilkan Jati Diri Bangsa

News1621 Views

Bantul. Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesparani Katolik Daerah (LP3KD) Kabupaten Bantul telah sukses menyelenggarakan Serenade Pesparani (Pesta Paduan Suara Gerejani) pada Sabtu, 12 Juli 2025 di Gereja Santo Paulus Pringgolayan.

Pelaksanaan Pesparani tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya yang memiliki kategori lomba, konsep Pesparani Bantul 2025 yaitu Serenade yang berarti pertunjukan musik dan nyanyian yang ditampilkan oleh masing-masing peserta.

Serenade Pesparani diikuti oleh paroki se-Kabupaten Bantul, yakni Paroki Santo Paulus Pringgolayan, Paroki Pugeran (Wilayah Padokan-Sempu), Paroki Santa Theresia Sedayu, Paroki Santo Yakobus Bantul, dan Paroki Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran.

Paroki Peserta Pesparani menampilkan paduan suara, solo vokal, dan kesenian rohani. Peserta Paduan Suara membawakan lagu-lagu inkulturasi dari Madah Bakti, di antaranya lagu Marilah Puji Namanya (gaya Ngada-Flores), Bagai Bumi Tersiram Hujan (gaya Dayak Kandayan), Persembahan Umat-Mu (gaya Batak Simalungun), Madah Pujian (gaya Jawa), Kami Datang Tuhan (gaya Tionghoa), Mari Saling Melayani (gaya Bali).

Peserta solo vokal menampilkan lagu-lagu rohani seperti lagu Penolong yang Setia, Rencanaku Tetap Indah, Tuhan Tahu, dan Ave Maria. Ditampilkan juga kesenian rohani berupa drama komedi, tarian, duet vokal, serta kolaborasi musik modern dan tradisional.

Paduan Suara Paroki St. Paulus Pringgolayan membuka Serenade Pesparani 2025 Bantul dengan lagu “Indonesia Raya”, “Himne Yubileum 2025”, dan “Mars Keuskupan Agung Semarang”.

Acara dibuka Wakil Bupati Bantul, Ketua Panitia, Romo Vikep Yogyakarta Barat, dan Romo Paroki Pringgolayan.

Ketua Panitia Serenade Pesparani Bantul 2025, Andriana Wulandari menyampaikan, “Pesparani bukan sekadar perhelatan budaya dan ajang perlombaan paduan suara yang rutin diselenggarakan, tetapi sebagai perayaan iman yang hidup. Di sini Gereja menyuarakan doanya dan mencurahkan harapannya dan menyatakan kasih-Nya melalui nada-nada yang berpadu harmoni yang menggerakkan jiwa dan semangat kebersamaan.”

Sementara itu Vikep Yogyakarta Barat Rm. Alfonsus Rodriguez Yudono Suwondo, Pr menyatakan, “Pesparani adalah upaya kita menampilkan jati diri, itulah hakikat kebudayaan. Maka, kita bisa menyaksikan pakaian daerah, menyaksikan lagu daerah, bukan untuk sekadar pertunjukan tetapi sebuah fenomena budaya. Saya menyampaikan apresiasi dan syukur bahwa di dalam diri kita berani menampilkan yang terbaik.”

Wakil Bupati Bantul Aris Suharyanta berpesan, Pesparani ini sebagai momentum untuk menegaskan kembali seruan bersama kepada anak bangsa bahwa dalam hidup berbangsa dan bernegara, hidup harus berbuah seperti pohon yang menghasilkan buah. “Buah tersebut adalah komitmen kesadaran religius kita untuk ingat jati diri kita sebagai bangsa yang Bhinneka Tunggal Ika. Hidup ber-Bhinneka Tunggal Ika sama halnya dengan paduan suara ada yang suara bas, tenor, sopran, alto. Walau berbeda ketika semua bernyanyi, yang sama hasilnya adalah harmoni. Keindahan tercipta dalam harmoni,” tutur Aris.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *