“Safeguarding dalam Gereja Katolik” Dukungan Majalah ROHANI dalam Membangun Budaya Aman di Gereja Katolik

News1806 Views

Bulan Maret 2023 ini, Paus Fransiskus secara khusus mendedikasikan doa untuk para penyintas kekerasan dan pelecehan seksual di dalam Gereja Katolik. Di dalam video singkat bertema safeguarding, Paus Fransiskus menyampaikan, “Menanggapi kasus pelecehan, terutama yang dilakukan oleh anggota Gereja, tidaklah cukup untuk meminta maaf dan pengampunan. Meminta maaf itu perlu, tetapi itu tidak cukup. Meminta maaf memang baik untuk para korban, tetapi merekalah yang harus menjadi ‘pusat’ dari segalanya. Gereja harus menjadi model untuk membantu memecahkan masalah ini dan mengungkapkannya dalam masyarakat dan keluarga. Gereja harus menawarkan ruang yang aman bagi para korban untuk didengarkan, didukung secara psikologis, dan dilindungi.”

Senada dengan Paus, Majalah ROHANI secara khusus juga memberikan bentuk dukungan melalui penerbitan edisi khusus Majalah ROHANI dengan tema “Safeguarding dalam Gereja Katolik”. Para penulis edisi ini juga spesial karena berasal dari pakar etika, psikologi dan spiritual. Dalam hal ini, Majalah ROHANI ingin mengajak para pembaca untuk ikut ambil bagian dalam pergulatan sekaligus pemaknaan budaya perlindungan di dalam Gereja Katolik.

Berikut ini adalah sajian istimewa edisi khusus bertema “Safeguarding dalam Gereja Katolik”:

Keadilan Restoratif bagi Korban

Rm. Antonius Sumarwan, SJ, dalam Kata Redaksi mengulas mengenai video singkat Paus Fransiskus yang mengajak Gereja untuk bertindak secara adil dan merangkul para korban pelecehan seksual. Semua anggota Gereja diminta untuk sedapat mungkin saling menjaga supaya tercipta budaya aman di dalam Gereja. 

Foto: inquirer.net

Defisit dalam Spiritualitas Ignatian: Apakah Korban Dilupakan?

Rm. Franz Magnis-Suseno, SJ, dalam tulisannya “Defisit dalam Spiritualitas Ignatian: Apakah Korban Dilupakan?” memberi refleksi dan kritik terhadap penanganan pelanggaran seksual dalam Gereja. Aparatur Gereja cederung menutup-nutupi kasus pelanggaran seksual dan melindungi para pelaku dengan dalih demi menjaga nama baik Gereja. Hal ini menurut Romo Magnis menandakan adanya suatu defisit dalam spiritualitas: tidak memperhatikan korban. Maka perlu pembaharuan dalam bidang spiritualitas, baik pada spiritualitas Ignatian, maupun spiritualitas Kristiani pada umumnya.

Berjalan Bersama Korban

Romo Sardi menunjukkan bahwa permenungan tentang akibat dosa pada Minggu I Latihan Rohani memberikan perhatian kepada korban. Namun, agar spiritualitas sungguh menjadi jalan untuk semakin dekat dengan Allah dan bukan alat untuk manipulasi pihak-pihak yang lemah, dibutuhkan kejujuran, kerendahan hati dan wawasan yang luas dan kritis.

Foto: www.stcolumbkille.org.uk

Safeguarding: Budaya yang Menjadi Beban?

 Rm. Ernest Justin, SJ dalam “Safeguarding: Budaya yang Menjadi Beban?”, memberikan gambaran dinamika safeguarding saat ini. Bahwa budaya baru ini perlu terus diupayakan dalam tanggung jawab penuh sebagai bagian dari kemuridan Kristus.

Budaya Aman dalam Gereja Katolik

Titik Kristiyani membagikan kisah hidupnya sebagai psikolog yang menemani dan mendengarkan korban kekerasan dan pelecehan seksual. Ia menekankan bahwa Gereja juga perlu serius dalam menghidupi protokol safeguarding. Selain itu, poin yang ditekankan pula adalah menciptakan budaya aman mengenai relasi para klerus dan umat.

Surat Paus Fransiskus kepada Umat

Edisi Khusus Safeguarding ini juga menyajikan Surat Paus Fransiskus kepada Umat Allah tentang Pelecehan Seksual oleh Para Klerus dan ringkasan Motu Proprio Vos Estis Lux Mundi berisi prosedur penanganan tindakan pelanggaran seksual. Juga ditampilkan pengalaman dan perjuangan para penyintas melalui sharing pribadi, sharing pendamping maupun film.

Para pemimpin tarekat, komunitas, pastor paroki maupun lembaga-lembaga Katolik dapat menggunakan edisi ini untuk memperkenalkan safeguarding kepada para anggota, karyawan, dan aktivis di institusi mereka masing-masing.

Tulisan-tulisan dalam Majalah ROHANI edisi bertema “Safeguarding dalam Gereja Katolik” ini dapat dipakai sebagai bahan rekoleksi, diskusi untuk menciptakan budaya aman, maupun memberikan pengalaman konkret atas protokol safeguarding yang mungkin telah dibuat.

Berikut ini daftar artikel selengkapnya:

1. Keadilan Restoratif bagi Para Korban Pelecehan – Antonius Sumarwan, SJ
2. Surat Paus Fransiskus kepada Umat Allah tentang Pelecehan Seksual oleh Para Klerus
3. Defisit dalam Spiritualitas Ignatian: Apakah Korban Dilupakan? – Franz Magnis-Suseno, SJ
4. Berjalan Bersama Korban – L.A. Sardi, SJ
5.  Tanggapan atas Tulisan Romo Magnis-Suseno, SJ – Priska, ADM
6. Safeguarding: Budaya yang Menjadi Beban? – Ernest Justin, SJ
7. Safeguarding dalam Gereja Katolik – Titik Kristiyani
8. Berikan kepada Anak-anak Hanya Apa yang Baik! – Hendricus Satya Wening, P., SJ
9. Mendengarkan dan Menggaungkan Suara Penyintas Kekerasan dan Pelecehan Seksual – Stella Vania Puspitasari, M. Psi
10. Motu Proprio “Vos Estis Lux Mundi”: Prosedur Penanganan Tindakan Pelanggaran Seksual -Antonius Bagas Prasetya A.N., SJ
11. Berjuang Mengatasi Trauma Seksual di Biara – Paul Suparno, SJ
12. Gereja Katolik dan Safeguarding – Fransisca Kiki Fajarwati
13. Si Bisu Dibantu Berbicara: Resensi Film Procession (2021) – Tiro A. Daenuwy, SJ
14. Safeguarding dan Rasa Solidaritas – M. Rafael FCH

Klik link di bawah untuk membeli Majalah ROHANI dan hubungi kontak berikut untuk berlangganan Majalah ROHANI:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *