PIOD, Ujung Tombak Pewartaan Iman

News1455 Views

Bantul. Tim Pelayanan atau Timpel PIOD (Pendampingan Iman Orang Dewasa) pada Bidang Pewartaan dan Evangelisasi Dewan Pastoral Paroki Santo Yakobus Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengadakan pembekalan bagi calon Timpe PIOD Tingkat Wilayah pada Minggu, 8 Maret 2026 di Aula Paroki Santo Yakobus Bantul.

Pembekalan ini dipandu Tim Komisi Kateketik Kevikepan Yogyakarta Barat (Komkat Kybar), yakni Agnes Winarsih, Cicilia Sri Isti Rahayu, Yustina Sri Hernarita, dan Mateus Andi Susanto.

Tujuan pembekalan ialah agar para timpel bisa mengerti, memahami, merencanakan, serta menyelenggarakan kegiatan untuk pendampingan iman orang dewasa, khususnya di wilayah masing-masing dan paroki pada umumnya.

Pastor Paroki Santo Yakobus Bantul Rm. Laurensius Dwi Agus Merdi Nugroho, Pr menyatakan pada tahun ini paroki mulai memberikan perhatian yang cukup besar pada pendampingan-pendampingan Formasi Iman Berjenjang dan Berkelanjutan (FIBB).

Rm. Merdi menjelaskan, dalam rangka membangun Arah Dasar (ARDAS) IX Keuskupan Agung Semarang 2026–2030 yang mengusung tema “Menjadi Gereja yang Bahagia, Menginspirasi, dan Menyejahterakan”,  Kevikepan Yogyakarta Barat membantu paroki-paroki supaya makin berkembang dan terdampingi.

“Salah satunya Paroki Santo Yakobus Bantul,” sebut Rm. Merdi sembari menyatakan upaya ini adalah gerak luar biasa dari kevikepan untuk membantu pendampingan pendamping. “Istilahnya training of trainers (ToT) atau training for trainers (TfT),” lanjutnya.

Ia menunjukkan sebagian besar (60%) dari sekitar 3.400 umat Paroki Santo Yakobus Bantul terdiri dari orang dewasa. “Kalau orang dewasa tidak terdampingi padahal jumlahnya banyak, tentu ini menjadi awal kehancuran Gereja,” tegas Rm. Merdi.

Rm. Laurensius Dwi Agus Merdi Nugroho, Pr. Orang dewasa yang tidak terdampingi, padahal jumlahnya banyak, tentu menjadi awal kehancuran Gereja. (Foto: UTUSAN/Willy Putranta)

Sebab, situasi paroki yang berada di pusat Kota Bantul menurut data sangat rentan keluarga-keluarganya. Sekitar tahun 2024-2026, semakin banyak keluarga-keluarga (orang dewasanya) dalam situasi berpisah atau bercerai.

“Maka, kalau keluarga ini tidak terdampingi, tentu tidak mustahil kasusnya justru bertambah banyak. Umat kita yang terluka karena kasus-kasus seperti ini dan lalu tidak diperhatikan, juga akan semakin banyak,” ujar Rm. Merdi mengingatkan.

Dalam situasi ini, sambungnya, menjadi waktu strategis bagi Tim Komkat Kybar untuk mendampingi pendamping orang dewasa.

Dalam pembekalan ini, sesi pertama disampaikan oleh Yustin. Ia mengungkapkan, “Pendampingan itu tidak semudah yang kita pikirkan. Di tengah kasus-kasus keluarga yang meningkat, seperti yang disampaikan Rm. Merdi tadi, semoga dengan pertemuan-pertemuan semacam ini bisa mengerem bahkan syukur dihentikan. Itulah mengapa pendampingan PIOD diperlukan karena PIOD adalah ujung tombak dalam pewartaan kita,” tegasnya.

Yustin menguraikan tujuan pendampingan PIOD antara lain membangun iman yang mendalam, menghadapi tantangan zaman, menghadirkan Kristus dalam keluarga, dan menjadi pendidik iman pertama bagi anak.

Selanjutnya, Agnes menguraikan model dan metode pendampingan dalam pertemuan pembinaan iman orang dewasa. “Dalam kurikulum yang dibuat Keuskupan Agung Semarang (KAS), pendampingan PIOD meliputi empat hal, yaitu pengetahuan iman, tradisi Katolik, moral Katolik, dan keterlibatan dalam hidup menggereja serta memasyarakat,” paparnya.

Ada enam metode efektif dalam pendampingan, antara lain sharing iman (berbagi pengalaman hidup dan karya Tuhan), diskusi kelompok (mendalami suatu tema, berbagi pemikiran), studi kasus (menggunakan contoh untuk merefleksikan nilai-nilai iman), lectio divina (membaca Kitab Suci dalam suasana doa), role play (bermain peran, mengalami langsung), dan sarasehan (metode dialog terbuka dengan pengalaman, pertanyaan, pendapat).

Dari kiri ke kanan: Cicilia Sri Isti Rahayu, Mateus Andi Susanto, Yustina Sri Hernarita, dan Agnes Winarsih. (Foto: UTUSAN/Willy Putranta)

“Metode-metode itu tidak perlu dipakai semua, karena situasi setiap wilayah berbeda-beda. Maka,pendampingan membutuhkan pendekatan yang tepat agar sampai pada tujuan pendampingan, yaitu tumbuh dalam iman akan Kristus,” kata Agnes.

Untuk mencapai itu, imbuhnya, membutuhkan metode dan model yang tepat. Setelah itu baru melaksanakan praktik pertemuannya.

Dalam sesi terakhir, Andi mengajak peserta untuk praktik membuat modul PIOD secara berkelompok. Sebelumnya, Andi mengingatkan para peserta memperhatikan karakteristik PIOD bahwa usia 36 – 60 tahun harus merasa sejajar, aman, nyaman, dan tidak merasa dipermainkan.

Contoh nyata ketika ada seseorang yang datang dalam latihan kor justru mendapat pertanyaan, “Tumben datang?”

Andi mengatakan, “Itu pertanyaan sederhana, tapi efeknya membuat orang itu tidak pernah datang lagi dan akhirnya pindah Gereja (non-Katolik-Red.). Wow, betapa hebatnya perkataan itu. Maka, betapa hebatnya peran kita sebagai pendamping untuk momong usia 36 – 60 tahun.”

Oleh karena itu, orang yang bersedia datang di tengah kecapekan karena aktivitas rutin sehari-hari hendaknya disambut dengan hangat, diberi suasana aman, dan tanpa dihakimi.

Soal ice breaking di tengah-tengah pertemuan, menurut Andi bukan tentang lucu atau tidaknya. Usia 36 – 60 tidak diberikan permainan selayaknya anak-anak. “Orang dewasa tidak selalu merasa aman dan nyaman bila diajak melakukan permainan,” ucap Andi mengingatkan.

Bonifatius Slamet. Kegiatan ini merupakan langkah awal untuk mendampingi orang-orang dewasa di tingkat wilayah. (Foto: Komsos Paroki St. Yakobus Bantul)

Ice breaking sebagai kegiatan singkat untuk mencairkan suasana dan membuka partisipasi peserta sebelum masuk ke sharing yang lebih dalam hendaknya berprinsip C-A-I-R, yaitu C – cairkan suasana, A – aktifkan peserta, I – ikat kebersamaan, dan R – relevan dengan tema.

“Mencairkan suasana itu tidak mempermainkan, tetapi ketika kita datang, kita merasa at home,” lontar Andi.

Pada akhir kegiatan, Bonifatius Slamet selaku Ketua Bidang Pewartaan dan Evangelisasi mengatakan dari delapan wilayah, setiap wilayah hanya diwakili dua orang.

“Sebenarnya kami ingin mengundang lebih banyak peserta. Tapi karena segala sesuatunya terbatas, termasuk waktu, maka hanya ini yang bisa kami undang,” ungkap Boni sembari menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan langkah awal untuk mendampingi orang-orang dewasa di tingkat wilayah.

Ia pun mengajak para peserta dari perwakilan wilayah ini supaya mencari teman untuk direkrut sebagai pendamping iman orang dewasa di tingkat wilayah.

Boni mengatakan, orang dewasa memang bisa diukur dari sisi usia, tetapi imannya belum tentu dewasa. “Tugas kitalah untuk mendewasakan iman orang-orang di sekitar kita. Selain itu kita juga menjadi teladan. Mari kita memperbaiki diri sehingga kita sebagai pendamping juga dimampukan dalam prosesnya,” pungkas Boni.

Willy Putranta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *