Peran Integral Musik Liturgi dalam Ibadat di Gereja

Konferensi Nasional Inkulturasi Musik Liturgi 2025

News1697 Views

Yogyakarta. Lagu inkulturasi menggema pada Sabtu, 22 Maret 2025, yang juga jadi momentum penting bagi Pusat Musik Liturgi (PML) Yogyakarta dengan dimulainya Konferensi Nasional Inkulturasi Musik Liturgi 2025. Acara ini terselenggara atas gagasan alm. Rm. Karl-Edmund Prier, SJ dengan tema besar “Masihkah Kita Peduli dengan Budaya Sendiri?”.

Pimpinan PML Elizabeth Twitien Sezi Colasina dalam sesi Zoom, juga melalui tayangan YouTube PML-YK OFFICIAL yang dipandu oleh moderator Widyantoro, menerangkan, “Acara ini merupakan pemantik untuk Kongres Liturgi Nasional bulan Juli nanti. Maka, pembicara sengaja dipilih orang yang berkompeten di bidangnya, agar dapat membuat orang penasaran tentang kongres nantinya.” 

Zoom kali ini disampaikan tiga nara sumber, yakni Dr. Caecilia Hardiarini, M.Pd. (dosen pendidikan musik di Universitas Negeri Jakarta), Rm. John. Gono SVD sebagai saksi hidup perjalanan inkulturasi di Flores, Kabupaten Ngada dan Nagekeo, serta Prof. Dr. Djohan Salim (dosen Pascasarjana Institut Seni Indonesia/ISI Yogyakarta).

Hardiarini dalam paparan berjudul Pendidikan Musik untuk Kepemimpinan Liturgi mengatakan, “Musik dalam Gereja pada dasarnya dipengaruhi oleh ilmu musik secara umum, mulai dari tehnik bernyanyi, tehnik vokal, dan gaya kepemimpinannya.”

Perlu adanya upaya serta kesadaran diri petugas Gereja untuk meningkatkan potensi sebagai pelayan liturgi, mulai dari imam, dirigen, pemazmur, organis, hingga kelompok kornya. “Karena musik liturgi dalam Gereja berperan integral dalam ibadat, maka dapat membantu umat dalam berdoa dan beribadat,” tutur Hardiarini.

Sementara Rm. John secara garis besar membicarakan sejarah perjalanan musik inkulturasi di Flores, yakni dari perjalanan musik asli hingga terjadinya musik dengan sentuhan inkulturasi semenjak kedatangan tim PML yang dipimpin Rm. Prier kala itu. Banyak peristiwa penting dalam perjalanan dan perkembangan musik di Flores yang disampaikan secara detail oleh Rm. John.

Kelompok “kor kecil” Vocason memberi suasana dengan lagu inkulturasi dalam konferensi.

Contohnya tentang proses terbitnya buku yang menjadi acuan di sana, salah satunya Jubilate, hingga proses musik inkulturasi yang berkembang dan masuknya lagu inkulturasi gaya Flores dalam buku Madah Bakti yang pertama kali terbit tahun 1980-an. Sebagai pelaku perjalanan musik inkulturasi di Flores waktu itu, semua disampaikan Rm. John dengan narasi yang lugas dan jelas.

Selanjutnya, Djohan lebih menyoroti tentang tema besar “Masihkah Kita Peduli dengan Budaya Sendiri?” yang dikaitkan dengan konferensi kali ini. “Ke depan perlu dipikirkan tentang batasan dan kriteria dari apa yang ingin dicapai dalam Kongres Nasional ke depan, baik dari segi bahasannya, juga musiknya, maupun batasan-batasan lain yang ingin dicapai. Misalnya dikaitkan dengan budaya, musiknya, sesuai konteks tradisional atau etnik, yang selama ini masih abu-abu,” pesan Djohan.

Acara kali ini mendapat tanggapan cukup antusias peserta, terutama dari kalangan pencinta musik Gereja. Tercatat, peserta yang mendaftar via Google Classroom ke sekretariat PML berkisar  tiga ratusan dan via YouTube sekitar seratusan.

Acara kali ini juga dimeriahkan tampilan kelompok “kor kecil” Vocason, karena menyesuaikan tempat, dengan menyanyikan empat lagu inkulturasi dari buku Madah Bakti dengan iringan musik tradisional sesuai daerah bersangkutan. Ada suling untuk iringan lagu Jawa dalam masa Prapaska Hamba Berserah Diri (728), alat musik fatritia dari Nias untuk lagu Paskah Kristus telah Bangkit (735), bas bambu dari Flores untuk lagu Paska Tuhan dalam gaya Flores (738), serta alat musik gesek keso-keso dari Toraja untuk lagu Paskah Mari Soraklah (739).

Kesemuanya digabung dalam balutan iringan organ yang sudah diramu sedemikian rupa dengan pilihan register organ yang cocok dan sesuai (daerah) asal lagu sehingga tetap terdengar apik dan enak di telinga.

Acara tambah meriah dengan adanya doorprize bagi empat penjawab pertanyaan yang diajukan moderator acara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *