Pemazmur Jangan Sampai Bernyanyi untuk Diri Sendiri

Memahami Mazmur dalam Liturgi dan Menginterpretasikan Lirik Nyanyian Mazmur

News2762 Views

Sleman. Gereja Katolik di Indonesia menetapkan bulan September sebagai Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) untuk mengajak seluruh umat menjadi lebih akrab dengan Kitab Suci.

Dalam BKSN tahun 2024, PT Kanisius bekerja sama dengan Komisi Kitab Suci Keuskupan Agung Semarang (KAS) dan bersinergi dengan Komisi Liturgi Kevikepan Yogyakarta Timur serta Komisi Liturgi Kevikepan Yogyakarta Barat untuk mengadakan berbagai rangkaian kegiatan.

Salah satunya workshop untuk para pemazmur Gereja dengan tema “Memahami Mazmur dalam Liturgi dan Menginterpretasikan Lirik Nyanyian Mazmur” pada Minggu, 8 September 2024 di Ruang Kepodang PT Kanisius.

Narasumber workshop ini adalah Rm. Bonifasius Dwi Yuniarto Nugroho, Pr selaku Koordinator Tim Musik Liturgi KAS dan Maria Octavia Rosiana Dewi, S.Sn., M.A., Dosen Penciptaan Musik di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Kegiatan ini diharapkan dapat membantu pemazmur memahami Mazmur dari sisi biblis dan teologis. Pemazmur Gereja juga diharapkan dapat memahami peran dan tugasnya saat bertugas di dalam ibadat. Selain itu, pemazmur diharapkan dapat menambah keterampilan membawakan Mazmur dalam liturgi dan menyanyikannya dengan didasari teknik bernyanyi.

Workshop ini diikuti para pemazmur Gereja dari Kevikepan Yogyakarta Timur, Kevikepan Yogyakarta Barat, dan Kevikepan Kedu.

Margaretha Sulistyorini berharap para peserta belajar menghayati tugas mereka sebagai pemazmur.

Margaretha Sulistyorini, Direktur PT Kanisius, mengungkapkan PT Kanisius sangat berbahagia karena dapat mendukung sepenuhnya usaha yang dilakukan KAS dalam mewartakan Kabar Gembira dan menjadikan Kitab Suci sebagai sumber inspirasi hidup umat beriman Kristiani.

 “Salah satu kitab yang paling sering kita dengar tentunya adalah Mazmur. Karena dalam setiap Perayaan Ekaristi, kita mendengar Kitab Mazmur ini dilagukan oleh pemazmur. Saat kita mendengarkannya, kita tentu tergerak membayangkan bagaimana penulis Mazmur menghayati dan mengungkapkan keagungan kasih Tuhan dan memberikan cinta-Nya yang besar kepada kita semua,” tutur Sulistyorini.

Ia berharap melalui kegiatan ini para peserta belajar menghayati tugas mereka sebagai pemazmur. Dengan demikian, mereka tidak sekadar menyanyikan sesuai lirik dan nadanya, tetapi sungguh bisa merasa-rasakan dan membayang-bayangkan bagaimana penulis Kitab Mazmur merefleksikan cinta dan keagungan Tuhan.

Rm. St. Arief Gunawan, Pr. Apa yang diterima di sini, bisa dibagikan pula kepada para pemazmur di paroki masing-masing.

Sementara itu, Rm. St. Arief Gunawan, Pr, Ketua Komisi Liturgi Kevikepan Yogyakarta Timur, menegaskan menjadi pemazmur itu penting dalam peribadatan umat Katolik, terutama Perayaan Ekaristi. “Mazmur itu ‘kan menyambung antara bacaan pertama ke bacaan kedua dan sebagai pengantar Injil,” terangnya.

Ia berharap melalui workshop ini para peserta makin banyak menimba wawasan atau pengetahuan secara biblis, teologis, juga bagaimana membawakan Mazmur. “Apa yang diterima di sini, bisa dibagikan pula kepada para pemazmur di paroki masing-masing,” pesan Rm. Arief.

Pada sesi pertama, Rm. Boni menjelaskan tentang tinjauan Mazmur dari sisi biblis dan teologis serta peran dan tugas pemazmur. Dijelaskannya, Mazmur adalah doa yang berisi ulangan dan bait sehingga pada saat umat menyanyikan Mazmur tanggapan, maka pada saat itu pula umat sedang berdoa.

“Dalam tugasnya, pemazmur harus menguasai cara melagukan Mazmur dan mempunyai suara yang lantang serta ucapan yang jelas,” tegas Rm. Boni.

Rm. Bonifasius Dwi Yuniarto Nugroho, Pr. Tidak semua orang memilih lagu dengan bijak.

Apabila tidak ada pemazmur, lektor boleh membawakan Mazmur Tanggapan sesudah saat hening yang menyusul bacaan pertama. Kalau tidak ada pemazmur dan lektor, imam sendiri yang membawakan Mazmur Tanggapan.

Mazmur Tanggapan adalah tanggapan atas Sabda Tuhan sehingga tempatnya di tengah-tengah antara bacaan pertama dan (apabila ada) bacaan kedua atau dengan bacaan Injil.

Mazmur sudah disiapkan para ahli liturgi sesuai tema-tema yang ada dari bacaan pertama. “Maka, untuk memudahkan umat dalam mencari tema bacaan mingguan atau harian pada hari itu, bacalah Mazmur tanggapan pada bagian ulangan atau refrein,” ungkap Rm. Boni sembari menambahkan tip ini bermanfaat bagi prodiakon yang memimpin ibadat sabda.

Ini juga dapat diterapkan ketika memilih lagu. “Sebab, tidak semua orang memilih lagu dengan bijak. Ada yang memilih berdasarkan selera atau kemampuan, yang gampang dan semua orang bisa. Maka, untuk memilih lagu, kita tengok Mazmur Tanggapan dalam perayaan kita. Itu membantu untuk melihat isi bacaan-bacaan,” tunjuk Pastor Paroki St. Maria Fatima Magelang ini.

Selanjutnya, pada sesi kedua, Maria Octavia Rosiana Dewi yang akrab disapa Vivi, menjelaskan bagaimana membawakan Mazmur dalam liturgi dan membekali peserta dengan teknik dasar bernyanyi Mazmur.

Maria Octavia Rosiana Dewi, S.Sn., M.A. Tugas pemazmur bukan menunjukkan kemampuan teknik vokal semata.

Vivi menjelaskan, pemazmur membantu umat dalam menghayati Mazmur sebagai tanggapan dari Sabda Tuhan. “Jangan sampai pemazmur bernyanyi untuk diri sendiri, yang dia nyanyikan harus dapat diterima dan ditanggapi umat dengan baik,” tegasnya.

Oleh karena itu, tugas pemazmur bukan menunjukkan kemampuan teknik vokal semata. Pemazmur tidak perlu mempunyai suara dengan vibrasi, tetapi memang ada tuntutan bagi pemazmur dalam menyanyikan Mazmur, yaitu dengan lantang dan jelas.

“Supaya umat dalam menanggapi tidak bingung sehingga ada tuntutan pemazmur harus mempunyai kemampuan musikal yang baik, misalnya menyanyikan dengan nada yang tepat, belajar bagaimana membawakannya, dan mengekspresikan isi nyanyian Mazmur dengan tepat,” sebut Vivi.

Ada beberapa hal yang perlu disiapkan pemazmur, yaitu persiapan spiritual, membaca ayat-ayat Mazmur sebelum bertugas, mempelajari melodi, melatih vokal dan membawakan ayat, menghafal lagu, serta latihan bersama organis atau kelompok kor.

Tentang pembawaan bernyanyi Mazmur, ada beberapa hal yang harus dipahami oleh pemazmur, yaitu dinamika suara, artikulasi, tempo, irama, pemenggalan kalimat yang sesuai dengan makna kalimat Mazmur (phrasering), dan penekanan kata.

“Beberapa teknik dasar bernyanyi yang perlu dikuasai yaitu teknik vokal, pernapasan, resonansi suara, intonasi, serta pendengaran yang baik dalam membedakan nada dan menghasilkan nada yang akurat,” tambah Vivi.

Kemudian, Vivi mengajak peserta untuk mempraktikkan secara singkat teori yang telah didapatkan agar dapat memperoleh masukan dari narasumber jika ada hal-hal yang perlu ditingkatkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *