Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma (USD) mengembangkan video sinema edukasi berjudul “Topeng” yang dilengkapi modul bimbingan klasikal bagi guru Bimbingan Konseling (BK) jenjang sekolah menengah pertama (SMP). Inovasi ini dirancang untuk mengajak siswa merefleksikan perilaku sehari-hari dan membangun kebiasaan peduli lingkungan melalui media audiovisual.
Video Sinema “Topeng” tersebut dikembangkan oleh Tim ACTORY yang beranggotakan Antonius Satrio B sebagai Ketua, Andreas David R., Carolus Gracius D.V.B.R., dan Yunisa Prasetyani. Tim ini dibimbing oleh dosen pembimbing Antonius Ian Bayu S., M.Pd. Video Sinema edukasi modul “Topeng” juga diikutsertakan dalam Lomba Inovasi Digital Mahasiswa (LIDM) 2026 sebagai upaya menghadirkan media pembelajaran yang dekat dengan kehidupan siswa.
Tim ACTORY memilih mengangkat persoalan kesenjangan antara sikap peduli lingkungan yang ditampilkan seseorang dengan kebiasaan yang dilakukan dalam kehidupan pribadi. Melalui video tersebut, tim ingin menunjukkan bahwa kepedulian lingkungan tidak cukup hanya ditampilkan di ruang publik, tetapi perlu diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Video “Topeng” mengisahkan Aldo, sosok yang terlihat peduli lingkungan di luar rumah, tetapi membiarkan sampah menumpuk di kamar kosnya. Ketika ditegur temannya, Yuyun, Aldo beralasan bahwa kamar tersebut merupakan ruang pribadinya. Yuyun kemudian menyadari bahwa dirinya juga memiliki kebiasaan yang belum sepenuhnya sejalan dengan kepedulian lingkungan yang ditampilkan.
Melalui kisah tersebut, siswa diajak memahami bahwa setiap orang dapat memiliki kebiasaan yang belum sesuai dengan nilai yang diyakininya. Cerita ini menjadi pemantik refleksi agar siswa mampu mengenali perilakunya sendiri tanpa merasa langsung disalahkan atau dihakimi.
Video “Topeng” dilengkapi dengan modul bimbingan klasikal yang dirancang untuk satu sesi pembelajaran selama 40 menit. Dalam lembar refleksi bertajuk “Topeng-ku”, siswa diajak mengenali kebiasaan yang perlu diperbaiki, menilai keyakinan dirinya untuk berubah dalam skala 1 sampai 10, serta menentukan satu tindakan sederhana yang akan dilakukan selama satu pekan. Siswa juga memilih teman yang dapat saling mengingatkan agar komitmen tersebut dapat dijalankan secara konsisten.
Tindakan sederhana yang diperkenalkan antara lain memilah sampah organik dan anorganik, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menggunakan kembali barang yang masih layak, serta mematikan lampu dan kipas ketika tidak digunakan. Melalui langkah sederhana tersebut, siswa diharapkan dapat mulai membangun kebiasaan peduli lingkungan dari rumah dan sekolah.
Pentingnya pembiasaan tersebut sejalan dengan persoalan sampah di Indonesia. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup mencatat timbulan sampah yang dilaporkan pada 2023 mencapai 56,63 juta ton, dengan rumah tangga sebagai sumber sampah terbesar, yakni 56,7 persen. Data ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah juga berkaitan erat dengan kebiasaan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui pengembangan video dan modul ini, Tim ACTORY berharap media digital dapat menjadi alternatif pendukung layanan BK di sekolah. Sinema edukasi tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran guru, melainkan membantu menghadirkan materi yang lebih konkret dan membuka ruang diskusi serta refleksi bersama siswa.
Ke depan, video “Topeng” dan modul bimbingan klasikal ini diharapkan dapat dikembangkan serta dimanfaatkan oleh guru BK sesuai kebutuhan sekolah. Pesan yang diangkat dalam karya ini terangkum dalam slogan “Tanpa Topeng, Tanpa Penonton, Tetap Peduli”, yang mengajak siswa untuk tidak sekadar terlihat peduli, tetapi juga melakukan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Yunisa Prasetyani Universitas Sanata Dharma Yogyakarta (Humas USD)

Yunisa Prasetyani
Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
(Humas USD)











