Belajar Menemukan Tuhan dalam Diri

Papan Tulis167 Views

SMA Kolese De Britto Yogyakarta kembali berbagi praktik baik dalam pendidikan dengan menghadirkan pembelajaran pengenalan examen conscientiae atau pemeriksaan kesadaran bagi para murid kelas 5 dan 6 SD Kanisius Totogan, Madurejo, Prambanan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Rabu, 7 Oktober 2026.

Kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan antarlembaga pendidikan untuk saling belajar, berbagi pengalaman, dan menumbuhkan budaya refleksi sejak usia dini.

Pengenalan examen conscientiae tidak diarahkan sekadar sebagai kegiatan keagamaan, tetapi sebagai latihan sederhana untuk membantu anak mengenali pengalaman hidupnya sehari-hari.

Para murid diajak melihat kembali apa yang telah dialami, apa yang dirasakan, hal-hal baik yang telah dilakukan, kesalahan yang mungkin terjadi, serta bagaimana dapat menentukan langkah yang lebih baik pada hari berikutnya.

Dalam semangat pendidikan Ignatian, pemeriksaan kesadaran menjadi salah satu cara untuk membantu seseorang semakin peka terhadap kehadiran Tuhan dalam pengalaman konkret.

Anak-anak tidak hanya diajak bertanya tentang apa yang telah dilakukan, tetapi juga belajar menyadari perasaan, menemukan kebaikan, mensyukuri pengalaman, dan berani memperbaiki diri.

Bagi murid sekolah dasar, proses tersebut diperkenalkan melalui bahasa dan pengalaman yang dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari. Pengalaman belajar di sekolah, hubungan dengan teman, keluarga, guru, maupun berbagai peristiwa sederhana dalam keseharian menjadi bahan untuk melakukan refleksi.

Dengan demikian, examen diperkenalkan sebagai kebiasaan untuk berhenti sejenak, melihat kembali perjalanan diri, dan menemukan makna dari setiap pengalaman.

Pendekatan tersebut menjadi penting karena pendidikan tidak hanya berbicara mengenai kemampuan akademik. Pendidikan juga membantu anak bertumbuh menjadi pribadi yang mampu mengenali dirinya, memahami orang lain, mengambil keputusan secara bertanggung jawab, dan memiliki kepekaan terhadap kebaikan.

Melalui pemeriksaan kesadaran, anak dilatih untuk tidak sekadar menjalani pengalaman, tetapi juga belajar dari pengalaman tersebut.

Kepala SD Kanisius Totogan, Kensi Jati Hananingrum, S.Pd., menyampaikan pengenalan examen conscientiae menjadi pengalaman berharga bagi para murid untuk belajar mengenali diri dan merefleksikan pengalaman sehari-hari.

Menurutnya, anak-anak perlu dibiasakan untuk tidak hanya mengetahui apa yang benar dan salah, tetapi juga mampu menyadari apa yang murid rasakan, lakukan, serta bagaimana memperbaiki diri.

“Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti pada saat anak-anak mengikuti kegiatan bersama, tetapi dapat menjadi kebiasaan sederhana dalam keseharian di sekolah untuk setiap harinya. Anak belajar melihat kembali pengalaman, bersyukur atas kebaikan yang diterima, menyadari kekurangan, dan kemudian berani memperbaiki diri. Kami berterima kasih atas kesempatan berbagi praktik baik ini karena perjumpaan seperti ini semakin memperkaya proses pendidikan di sekolah,” ungkapnya.

Jejaring pendidikan tidak hanya dibangun melalui pertemuan formal, tetapi terutama melalui kesediaan untuk saling belajar.

Kegiatan berbagi praktik baik ini sekaligus menjadi wujud nyata komitmen SMA Kolese De Britto Yogyakarta untuk terus membuka diri dan berbagi pengalaman pendidikan kepada lembaga pendidikan lain.

Sekolah melihat bahwa praktik baik tidak seharusnya berhenti menjadi pengalaman internal sebuah lembaga, tetapi dapat dibagikan, dikembangkan, dan dihidupi bersama sesuai dengan konteks masing-masing sekolah.

Perjumpaan dengan SD Kanisius Totogan, baik murid dan juga para guru, menjadi salah satu bentuk nyata dari semangat tersebut. Jejaring pendidikan tidak hanya dibangun melalui pertemuan formal, tetapi terutama melalui kesediaan untuk saling belajar.

Apa yang telah dikembangkan di satu sekolah dapat menjadi inspirasi bagi sekolah lain, sementara pengalaman dari sekolah lain juga dapat memperkaya cara pandang dan praktik pendidikan di De Britto sendiri.

Semangat ini sejalan dengan arah Sinode Pendidikan Keuskupan Agung Semarang (KAS) yang mendorong terciptanya jejaring pendidikan yang saling belajar, bertumbuh, dan menguatkan.

Pendidikan dipandang sebagai gerakan bersama. Sekolah-sekolah tidak berjalan sendiri, melainkan dapat menjadi bagian dari ekosistem pendidikan yang saling mendukung demi perkembangan pribadi peserta didik dan kehidupan masyarakat yang lebih baik.

Dalam konteks tersebut, kegiatan bersama SD Kanisius Totogan juga menjadi implementasi konkret Program 3B SMA Kolese De Britto, yakni Berkolaborasi, Berkontribusi, dan Berprestasi. Program 3B tidak berhenti sebagai slogan, tetapi terus diupayakan menjadi budaya pendidikan yang hidup dalam berbagai bentuk perjumpaan dan pelayanan.

Chr. Danang Wahyu Prasetio, S.Or., M.M., selaku pendamping dari SMA Kolese De Britto Yogyakarta, menjelaskan bahwa pengenalan examen conscientiae kepada murid sekolah dasar diarahkan agar memiliki kebiasaan berhenti sejenak dan menyadari perjalanan hidupnya.

“Examen bukan sekadar mengingat kembali apa yang sudah dilakukan, tetapi belajar membaca pengalaman dengan kesadaran, menemukan kebaikan yang terjadi, mensyukurinya, menyadari hal-hal yang perlu diperbaiki, dan melihat ke mana Tuhan mengajak kita bertumbuh. Anak-anak perlu belajar bahwa setiap pengalaman memiliki makna dan dapat menjadi jalan untuk mengenal diri, mengenal sesama, serta semakin menyadari kehadiran Tuhan. Karena itu, berbagi praktik baik seperti ini merupakan bagian dari semangat 3B De Britto (Berkolaborasi, Berkontribusi, dan Berprestasi) serta menjadi kesempatan untuk tumbuh bersama dalam jejaring pendidikan,” jelasnya.

Berkolaborasi berarti membangun ruang perjumpaan dan belajar bersama. Berkontribusi berarti membagikan apa yang dimiliki agar dapat memberi manfaat bagi yang lain. Sementara berprestasi tidak hanya dimaknai sebagai pencapaian individual, tetapi juga sebagai kemampuan untuk menghadirkan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat.

Pengenalan examen conscientiae kepada murid kelas 5 dan 6 SD Kanisius Totogan memiliki makna yang lebih luas daripada sebuah kegiatan berbagi materi. Di dalamnya terdapat upaya menanamkan kebiasaan refleksi, syukur, kesadaran diri, dan keberanian untuk bertumbuh. Nilai-nilai tersebut menjadi bekal penting bagi anak-anak dalam menjalani proses pendidikan dan kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, pemeriksaan kesadaran mengajak anak belajar dari pertanyaan sederhana, “Apa yang terjadi dalam hidupku hari ini?” dari pertanyaan itu, anak perlahan belajar mengenali kebaikan, menyadari kekurangan, mengucap syukur, dan menentukan langkah untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Dengan ruang belajar yang sederhana dan praktik baik ini menemukan maknanya, bahwa pendidikan menjadi semakin hidup ketika pengalaman dibagikan, refleksi ditumbuhkan, dan kebaikan diupayakan bersama.

SMA Kolese De Britto dan SD Kanisius Totogan pun dipertemukan dalam semangat yang sama, yaitu menjadikan pendidikan sebagai jalan untuk bertumbuh, berbagi, dan menghadirkan kehidupan yang semakin bermakna.

Chr. Danang Wahyu Prasetio
Humas SMA Kolese De Britto, Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *