Terik sinar matahari tidak menghentikan langkah kami. Pada Kamis, 1 Oktober 2026, seluruh keluarga besar SMA Stella Duce 2 Yogyakarta (Stero) turun ke jalan menyemarakkan HUT ke-270 Kota Yogyakarta dengan karnaval budaya. Murid, guru, dan karyawan berjalan bersama diiringi maskot warna-warni dan lagu-lagu khas Yogyakarta.
Sebelum rombongan keluar gerbang, suasana sekolah sudah terasa lain. Murid kelas X, XI, dan XII bersama teman sekelasnya, masing-masing membawa maskot dan properti yang sudah mereka siapkan sebagai ungkapan cinta kepada Kota Yogyakarta.
Di barisan lain, bapak dan ibu karyawan tampil dengan kostum buta (raksasa) dan membawa gunungan. Gunungan itu bukan sekadar pelengkap. Ia dibawa sebagai lambang rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas usia kota yang kini genap 270 tahun dan kehadirannya memberi sentuhan khidmat di tengah keriuhan.
Karnaval dimulai seusai upacara Hari Kesaktian Pancasila di lapangan sekolah. Begitu upacara usai, semua warga sekolah berkumpul di halaman depan, lalu berjoget bersama diiringi lagu-lagu khas Yogyakarta, salah satunya Buta-Buta Galak.
Irama yang riang itu membuat semua orang ikut bergoyang, apalagi di barisan karyawan yang berkostum buta. Bagi banyak murid, lagu-lagu daerah seperti ini terasa akrab, karena sebagian besar dari mereka berasal dari luar Yogyakarta. Di kota inilah mereka belajar, tinggal, dan bertumbuh, hingga Yogyakarta terasa seperti rumah sendiri.
Tidak ada yang hanya menonton. Murid, guru, dan karyawan bergerak dalam irama yang sama, dan sejenak sekat antara kelas, jabatan, dan usia terasa mencair. Tawa mulai pecah di sana-sini. Dari situlah semangat karnaval benar-benar menyala.
Rombongan kemudian berjalan dari halaman depan sekolah menuju Lapangan Mandala Krida, melewati Jalan Soka dan Jalan Tunjung, lalu kembali ke sekolah. Matahari menyengat, keringat mulai membasahi wajah, tetapi langkah tidak berhenti. Justru karena dijalani bersama, perjalanan di bawah terik itu terasa lebih ringan, dan panas menjadi bagian dari cerita yang ikut mereka rayakan.
Sepanjang rute karnaval, maskot-maskot kelas membuat pawai terus hidup. Ada yang tampil dengan kostum pewayangan, ada yang berdandan sebagai aneka sayuran, ada yang membawa permainan tradisional, dan ada pula yang mengusung ucapan selamat ulang tahun untuk Kota Yogyakarta.
Setiap kelas membawa idenya sendiri, tetapi semuanya bertemu dalam satu tujuan: merayakan kota tempat mereka tumbuh dan belajar. Permainan tradisional yang dibawa pun mengingatkan bahwa budaya bukan hanya benda untuk dipajang, melainkan kebiasaan yang bisa terus dimainkan dari generasi ke generasi.
Di balik kemeriahan itu, ada pelajaran yang tidak kalah penting. Karnaval ini menjadi ruang untuk menghidupi nilai community, salah satu nilai CC5+ Tarakanita. Agar bisa tampil serempak, setiap kelas perlu bersepakat tentang konsep maskot, berbagi tugas menyiapkan properti, dan menjaga barisan tetap rapi selama berjalan.
Semua itu hanya mungkin terwujud bila setiap anggota komunitas mau mendengarkan, menghargai pendapat teman, dan mengambil keputusan lewat mufakat, bukan memaksakan kehendak. Kekompakan yang terlihat di jalan sebenarnya tumbuh jauh sebelum hari perayaan, dari obrolan, kesepakatan, dan kerja sama kecil yang mungkin luput dari mata penonton.
Semangat itu sejalan dengan tema HUT ke-270 Kota Yogyakarta, “Otentik, Konkret”. Lewat kostum pewayangan, permainan tradisional, lagu daerah, dan gunungan, warga sekolah menampilkan jati diri budaya Yogyakarta apa adanya.
Cinta kepada kota pun tidak berhenti pada ucapan. Ia diwujudkan lewat tindakan nyata: bergotong royong menyiapkan karnaval, berjalan bersama, dan merayakan ulang tahun kota dengan sukacita.
Karnaval ditutup dengan foto bersama di depan lapangan basket yang bertuliskan “SMA Stella Duce 2 Yogyakarta”. Wajah-wajah lelah namun bahagia memenuhi bingkai foto, seakan menyimpan cerita tentang hari yang dijalani bersama.
Bagi murid-murid yang merantau dari berbagai daerah, Yogyakarta bukan lagi sekadar tempat bersekolah, melainkan rumah kedua yang layak dirayakan ulang tahunnya. Mereka berharap rasa cinta pada budaya dan kota ini terus tumbuh, bersama kebiasaan bekerja sama dan bermufakat dalam hidup berkomunitas, di sekolah maupun di tengah masyarakat.
Chris Cerly Rika Saraswati Guru Pendidikan Agama Katolik SMA Stella Duce 2 Yogyakarta







