Bantul. Tahun ini, Paroki St. Yakobus Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merayakan hari jadi ke-92. Salah satu kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka menyambutnya yakni Mlampah TDWK (Taman Doa Wajah Kerahiman) pada Sabtu, 4 Juli 2026.
Mlampah TDWK merupakan kegiatan berjalan (mlampah) dari gereja pusat yang beralamat di Jl. Mgr. Albertus Sugiyopranoto 1 Bantul menuju Taman Doa Wajah Kerahiman (TDWK) di kompleks Gereja St. Yakobus Alfeus, Pajangan, Wilayah Maria Rosari dengan jarak sekitar 8 kilometer.

Niti Dalan, Nguwatake Paseduluran (menempuh jalan, memperkuat persaudaraan) menjadi tema kegiatan Mlampah TDWK. Yohanes Sulistya Wibowo selaku koordinator lapangan menjelaskan, tema ini bermakna melangkah setapak demi setapak menghadapi lelah, keraguan, dan sukacita di hadapan Tuhan dengan hati yang diperbarui. “Kita semua adalah peziarah yang sedang berjalan bersama menuju Tuhan,” tegas Sulis.
Lebih lanjut ia memaparkan, kegiatan ini mempunyai dua tujuan. Pertama, Mlampah TDWK bukan hanya perjalanan fisik, tetapi perjalanan batin (rohani/spiritual) menuju Tuhan melalui refleksi hidup, pencarian makna, penyembuhan batin, dan pengalaman spiritual.
“Kedua, kami juga ingin memperkenalkan TDWK sebagai destinasi ziarah Katolik, tempat doa dan refleksi, sarana memperdalam iman, serta ruang mengalami kasih dan kerahiman Tuhan,” ungkap Sulis.

Mlampah TDWK diikuti sekitar 230 peserta, mayoritas dari Paroki St. Yakobus Bantul dan ada pula umat dari paroki lain yang antusias mengikuti kegiatan ini, termasuk dari Paroki Santa Theresia Jombor, Klaten, Jawa Tengah.
Perjalanan dimulai pukul 18.00 di Gereja St. Yakobus Bantul dan peserta yang terbagi menjadi sembilan kelompok ini paling akhir tiba di Gereja St. Yakobus Alfeus sekitar pukul 21.00.
Meski Mlampah TDWK adalah dari agenda hari jadi paroki dengan kepanitiaan dari Wilayah Maria Assumpta, tetapi kepanitiaan kegiatan ini dilaksanakan Lingkungan St. Benediktus, Wilayah Maria Tak Bernoda.

Vincentius Suparjan, Ketua Lingkungan St. Benediktus sekaligus Ketua Panitia Mlampah TDWK, berharap kegiatan perdana ini dapat terus berlanjut di masa mendatang.
“Ini memang baru pertama kali diselenggarakan. Apabila ada kekurangan, tentu karena kami belum ada pengalaman. Di lingkungan kami sendiri, kami baru punya satu pengalaman berjalan dengan rute yang sama pada malam 1 Sura kemarin. Perjalanan waktu itu diikuti sekitar 30 umat Lingkungan St. Benediktus,” terang Parjan.
Sementara itu, Pastor Paroki St. Yakobus Bantul Rm. Laurentius Dwi Agus Merdi Nugroho, Pr menyampaikan Mlampah TDWK dimaknai sebagai perjalanan rohani, bukan hanya mencari lelah, olahraga, atau pelarian dari aneka macam permasalahan.

Rm. Merdi menjelaskan, menurut salah satu tradisi, setelah peristiwa Pentakosta, para rasul menyebar ke seluruh penjuru dunia. Menurut tradisi itu, St. Yakobus berjalan sampai ke Spanyol.
“Ada perjalanan yang terkenal di Spanyol, namanya Camino de Santiago. Camino berarti jalan, Santiago itu St. Yakobus,” sebut Rm. Merdi.
Dalam perjalanan menuju Katedral Santiago de Compostela, Spanyol, tempat St. Yakobus menurut tradisi dimakamkan, banyak orang melakukan perjalanan yang sungguh-sungguh berjalan kaki dengan jarak 100 hingga 200 kilometer, kalau bersepeda 200 hingga 300 kilometer melewati beberapa negara.

“Inti dari perjalanan itu adalah mengingatkan kembali bahwa hidup ini adalah sebuah perjalanan atau peziarahan menuju Allah. Yang utama bukan tiba di tempat tujuan, tetapi mengalami hidupnya diperbarui dalam Tuhan,” tutur Rm. Merdi.
Ia menambahkan, pesta pelindung paroki tahun ini ditandai dengan perjalanan Mlampah TDWK. “Entah yang sampai di tujuan atau tidak, semoga semuanya bisa menemukan hidupnya diperbarui oleh Tuhan,” harap Rm. Merdi.
Setiba di TDWK, peserta beristirahat sejenak sembari berganti pakaian. Setelah itu, peserta mengikuti ibadat singkat yang dipimpin Rm. Merdi. Di pengujung ibadat, Rm. Merdi membakar kertas ujud doa yang dikumpulkan peserta pada saat registrasi.

Setelah itu, Pastor Vikaris Paroki St. Yakobus Bantul Rm. Chosmas Christian Timur, Pr memandu sharing dan refleksi. Ia berpesan kepada peserta agar jangan pulang hanya membawa lelah, tetapi dengan berbagai macam berkat.
Pemadaman listrik di separuh awal perjalanan menjadi refleksi yang disampaikan Rm. Oot, sapaan akrabnya. “Ini jawaban dari apa yang saya pribadi pikirkan. Perjalanan yang gelap, itulah kehidupan kita. Kalau kita mau berjalan terus, tetap mengikuti jalan yang Tuhan berikan, semuanya sampai pada terang seperti pada malam ini di sini,” tuturnya.

Kepada para peserta Rm. Oot mengatakan, “Bagi Anda yang membawa permohonan dan ditulis dengan sungguh-sungguh, dibawa dalam perjalanan dan didoakan sampai ke sini, percayalah, Tuhan akan memberikan jalan.”
Ia pun menegaskan, Mlampah TDWK adalah perjalanan rohani, bukan gerak jalan. “Kalau gerak jalan, pemenangnya adalah kita. Kalau perjalanan rohani, pemenangnya tetaplah Tuhan sendiri,” ujar Rm. Oot.
Sebelum pulang, para peserta menikmati bubur khas TDWK yang selalu disajikan setiap kali Novena Kerahiman Ilahi diselenggarakan di depan patung Wajah Kerahiman.
Willy Putranta













