Menggugat “Aku” yang Abadi

Cermin572 Views

Beberapa hari lalu, seorang ibu menyampaikan keluhannya dengan nada getir. “Dokter, makin tua saya makin banyak penyakit. Kalau saja kita bisa muda selamanya. Sepertinya sekarang sudah ada teknologi yang membuat tubuh manusia hidup abadi.”

Ucapan beliau terus menggema. Sekilas ucapan itu terdengar seperti kelakar. Tetapi, di baliknya tersimpan kegelisahan yang lebih dalam, yaitu ketakutan untuk lenyap. Mengapa manusia begitu ingin hidup abadi?

Tubuh tidak bisa berbohong. Tubuh menua, sakit, dan melemah. Keriput dan gangguan degeneratif adalah penanda bahwa perjalanan ini mendekati akhir. Maka, manusia pun mencari cara untuk melawan. Semua janji tentang keabadian, baik dari mimbar agama maupun dari laboratorium, lahir dari penolakan sederhana, “aku mau selalu ada”.

Marilah kita jujur. Benarkah yang dicari adalah hidup itu sendiri, atau hanya kelanjutan cerita tentang diri? Jantung boleh berhenti, tubuh boleh hancur, tetapi yang benar-benar menakutkan adalah hilangnya panggung tempat narasi “aku” bisa terus berlanjut.

Itulah mengapa berbagai agama menjanjikan kehidupan tanpa akhir. Dalam agama-agama Abrahamik, surga dan kebangkitan tubuh menjadi penegasan bahwa diri akan tetap hadir di hadapan Allah. Ada keinginan agar tubuh dan identitas bertahan selamanya.

Ilmu pengetahuan modern kini masuk ke barisan ini. Terapi sel punca, pembekuan tubuh, sampai wacana memindahkan kesadaran ke komputer sudah digaungkan. Sekilas semua itu terdengar canggih. Namun, tetap saja yang dijaga bukanlah kehidupan itu sendiri, melainkan identitas, reputasi, dan jejak kenangan. Keabadian yang dijanjikan tak lebih dari perpanjangan umur bagi cerita tentang diri.

Ada cara pandang lain yang lebih mengganggu sekaligus membebaskan. Kelahiran dan kematian sesungguhnya hanyalah apa yang sudah ada dalam keabadian. Yang kita sebut lahir hanyalah pola yang muncul. Yang kita sebut mati hanyalah pola yang luruh. Tidak ada yang benar-benar datang dan tidak ada yang benar-benar pergi. Hanya arus yang timbul dan tenggelam di dalam kesunyian.

Mengejar keabadian tanpa membuka diri pada rahmat Allah hanyalah ilusi. Keabadian sejati sudah tersedia bagi setiap jiwa yang menerima kasih-Nya. Kesunyian tidak bertambah ketika seseorang lahir, dan tidak berkurang ketika seseorang mati. Manusia sibuk mencari kekekalan, padahal yang abadi justru ketiadaan pusat “aku” yang selama ini dipertahankan dengan segala cara.

Di sinilah terdapat ironi yang paling tajam. Keabadian bukanlah hadiah istimewa dan anugerah eksklusif bagi sebagian orang yang dianggap layak. Keabadian adalah kenyataan itu sendiri. Segala sesuatu sudah berada di dalamnya. Pada dasarnya, kenyataan itu tidak pernah sungguh muncul dan tidak pernah sungguh lenyap. Tubuh boleh runtuh, identitas boleh bubar, tetapi kehadiran Allah yang melampaui batasan ruang dan waktu tidak pernah terganggu.

Barangkali, inilah anugerah yang sejati. Bukan sekadar hidup abadi, melainkan tersingkapnya pandangan bahwa segalanya sudah ada di dalam keabadian sejak semula.

Kita berasal dari Allah, tetapi dosa menjadi selubung gelap yang menutup jalan persatuan dengan cahaya abadi. St. Teresa Avila menyebut selubung itu penghalang bagi cermin untuk memantulkan kemuliaan Allah. Anugerah Kristus meluruhkan selubung itu sehingga segalanya dapat kembali pada terang. Bila selubung itu luruh, semuanya tampak jernih sebagaimana adanya.

Sebuah pertanyaan sederhana tak bisa dihindari. Apakah kita benar-benar mendambakan keabadian, atau sekadar gentar berhenti memainkan peran sebagai “aku”? Peleburan tak akan pernah sempurna selama “aku” masih terus dijaga.

Solo Dios Basta Sleman, 15 September 2025

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana
dan Dokter Penyakit Dalam Konsultan Reumatologi
RS Bethesda Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *