Magelang. Di tengah padatnya aktivitas mengajar dan berbagai dinamika pendidikan yang terus berkembang pada akhir semester ini, para guru juga membutuhkan ruang untuk berhenti sejenak, menengok kembali perjalanan yang telah dilalui, dan menemukan kembali makna panggilan sebagai seorang pendidik.
Kesadaran inilah yang menjadi dasar pelaksanaan rekoleksi guru SMA Kolese De Britto Yogyakarta yang berlangsung pada Senin–Selasa, 22–23 Juni 2026 di Pusat Pastoral Spiritualitas Masyarakat (PPSM) Muntilan, Magelang, Jawa Tengah.
Mengusung tema “Berjalan Bersama Rekan dan Tuhan”, kegiatan ini diikuti oleh seluruh guru SMA Kolese De Britto sebagai bagian dari proses refleksi dan pengendapan pengalaman selama satu tahun ajaran.
Rekoleksi dipandu Rm. Paul Suparno, SJ yang mengajak para pendidik untuk kembali menyadari bahwa menjadi guru bukan sekadar menjalankan profesi, melainkan sebuah panggilan untuk terus bertumbuh bersama sesama dan bersama Tuhan.
Dalam suasana yang tenang dan penuh keheningan, para guru diajak untuk melihat kembali perjalanan selama satu tahun terakhir, berbagai keberhasilan yang patut disyukuri, tantangan yang menguras energi, relasi yang terbangun, serta pengalaman-pengalaman yang mungkin meninggalkan luka dan pertanyaan.
Semua pengalaman tersebut menjadi bahan refleksi untuk menemukan jejak karya Tuhan dalam setiap dinamika yang terjadi.
Rm. Paul menegaskan, spiritualitas Ignatian mengajarkan manusia untuk tidak sekadar mengalami suatu peristiwa, tetapi juga mengolah pengalaman tersebut melalui refleksi yang mendalam. Dari proses refleksi inilah seseorang dapat mengenali apa yang perlu dipertahankan, diperbaiki, dan diperjuangkan di masa mendatang.
“Apalagi sosok sebagai seorang guru sebagai pendidik dan pendamping generasi penerus bangsa, hal ini merupakan sesuatu yang mendasar utama untuk mewujudkan generasi penerus yang berkarakter utuh,” tutur Rm. Paul.

“Berjalan bersama” dalam tema rekoleksi ini memiliki makna yang mendalam. Menjadi guru di Kolese De Britto bukanlah perjalanan individual. Setiap pendidik dipanggil untuk saling menopang, saling menguatkan, dan bertumbuh bersama dalam komunitas. Di sisi lain, perjalanan itu juga tidak pernah dilepaskan dari penyertaan Tuhan yang terus bekerja dalam setiap proses pendidikan.
Selama dua hari, para guru mengikuti berbagai sesi, mulai ice breaking, refleksi pribadi, diskusi, sharing pengalaman, dan doa bersama. Suasana rekoleksi menjadi ruang bagi para guru untuk kembali menemukan energi, harapan, dan semangat baru dalam menjalankan tugas pendidikan.
Lebih dari sekadar agenda rutin tahunan, rekoleksi ini menjadi momentum penting untuk melakukan evaluasi dan peneguhan arah perjalanan sekolah ke depan. Dari berbagai refleksi yang muncul, para guru diajak menyusun prioritas dan langkah-langkah yang perlu diambil demi menghadirkan pendidikan yang semakin bermakna bagi para siswa dan semuanya dipersembahkan kepada Tuhan lewat perayaan Ekaristi syukur.
Semangat ini sejalan dengan tradisi pendidikan Jesuit yang selalu mengedepankan proses reflective practitioner, yakni pribadi yang terus belajar dari pengalaman, berani mengevaluasi diri, dan terbuka terhadap perubahan demi pelayanan yang lebih baik.
Pada akhirnya, rekoleksi ini mengingatkan kembali bahwa tugas seorang guru bukan hanya mengajar di dalam kelas, tetapi juga terus membentuk diri agar mampu menjadi pendamping yang hadir secara utuh bagi para siswa.
Sebab, pendidikan yang baik lahir dari para pendidik yang tidak pernah berhenti berefleksi, belajar, dan berjalan bersama, karena hidup yang tidak direfleksikan, tidak layak untuk dihidupi.
Dari PPSM Muntilan, para guru SMA Kolese De Britto pulang bukan hanya dengan rencana-rencana baru, melainkan juga dengan kesadaran yang semakin mendalam bahwa perjalanan pendidikan adalah sebuah peziarahan, melangkah bersama rekan, berjalan bersama Tuhan, dan terus menyalakan harapan bagi generasi yang selalu didampingi. Berani belajar mau berefleksi, berarti berani tumbuh dalam kemendalaman sebagai seorang pendidik sejati.
Chr. Danang Wahyu Prasetio Humas SMA Kolese De Britto Yogyakarta














