Keuskupan Labuan Bajo Gunakan BIDUK Nusantara untuk Pendataan Umat

News1459 Views

Manggarai Barat. Suatu kebanggaan dan kemajuan besar bagi Keuskupan Labuan Bajo karena mulai menerapkan program aplikasi pendataan umat berbasis website. Program aplikasi bernama Basis Integrasi Data Umat Keuskupan (BIDUK) Nusantara ini merupakan kerja sama Keuskupan Labuan Bajo dengan Keuskupan Agung Jakarta.

KAJ mengirimkan enam orang tim aplikasi BIDUK, yaitu Victor Korompis, Yohanes Yamin, Johan Septian, Ivan Sangkereng, Henry Iriawan, dan Djuanedi Sunjoto yang memiliki latar belakang profesi berbeda.

Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus menerima mereka dengan seremoni adat di rumah Keuskupan Labuan Bajo pada Kamis, 29 Mei 2025.

Mereka berenam datang untuk memberikan pelatihan aplikasi BIDUK bagi para pastor paroki, sekretaris dewan pastoral paroki, dan sekretaris paroki dari 26 paroki di Keuskupan Labuan Bajo. Pelatihan ini dilaksanakan di Hotel Larensia Labuan Bajo selama dua hari, yakni sampai Jumat, 30 Mei 2025.

Agenda kegiatan ini antara lain sosialisasi aplikasi BIDUK, pengenalan operasional aplikasi BIDUK, latihan penginputan data, dan penjelasan entri data offline.

Rm. Gotfridus S. Angkur, Pr selaku Sekretaris Pelaksana Pusat Keuskupan Labuan Bajo mengucapkan terima kasih kepada Ignatius Kardinal Suharyo Hardjoatmodjo, para imam kuria, para imam, biarawan dan biarawati, umat KAJ, serta Tim BIDUK KAJ yang sudah meluangkan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk membantu Keuskupan Labuan Bajo dalam melatih dan mengembangkan keuskupan ini dengan program pendataan umat menggunakan aplikasi BIDUK.

“Sebagai keuskupan baru, pendataan umat sangatlah penting dan mendasar. Fokus tahun pertama dalam perjalanannya yaitu tata kelola partisipatif. Pendataan umat menjadi bagian integral dari tata kelola ini,” tutur Rm. Gotfridus.

Para peserta sebagai utusan paroki diharapkan bisa mengikuti pelatihan dengan serius, penuh perhatian, dan dalam suasana penuh bersaudaraan.

Selanjutnya, Victor Korompis menjelaskan, pengembangan aplikasi BIDUK dilatarbelakangi sebuah konsep bersama. Sebelumnya, setiap paroki di Jakarta memiliki sistem pendataan umat yang bersifat manual, yakni ditulis tangan, memakai Microsoft Excel, dan ada juga yang punya sistem sendiri. “Hal ini kemudian menjadi sulit untuk mendapatkan satu potret umat Jakarta itu seperti apa. Itu masih 10 tahun yang lalu,” ungkap Victor.

Para peserta sebagai utusan paroki diharapkan bisa mengikuti pelatihan dengan serius.

Akibatnya, ketika satu umat pindah dari satu paroki ke paroki yang lain, datanya tercatat di dua paroki. “Ketika ada orang datang dari keuskupan lain kemudian masuk ke sebuah paroki, kadang-kadang keuskupan lain (itu) juga tidak tahu,” lanjutnya.

Setiap tahun KAJ mengirim laporan data umat ke Vatikan. Waktu  itu, semua data dikirim secara manual. Atas dasar itulah, KAJ berinisiatif membangun sebuah sistem tersentralisasi dan mendata umat di Jakarta.

“Sepuluh tahun lalu kami baru mulai sosialisasikan sistem ini. Setelah sistem aplikasi ini diterapkan dalam proses pendataan, ditemukan (paroki) yang dulu umatnya banyak sekarang sudah menjadi turun jumlahnya,” sebut Victor.

Hal ini terjadi karena ternyata banyak umat yang tercatan di lebih dari satu paroki meski sudah pindah atau meninggal dunia. “Jadi, banyak sekali data itu tidak valid lagi,” tegas Victor.

Pendataan ini bukan sekadar mencatat. Namun, jika pelayanan berbasiskan data, maka pelayanan itu akan lebih tepat sasaran karena memotret demografi atau latar belakang umat dalam sistem yang dipakai bersama ini.

Kardinal Suharyo lantas memandang aplikasi ini dapat dipakai bersama keuskupan-keuskupan yang lain. Maka, ia mengirim surat kepada seluruh uskup untuk mempersilakan memakainya tanpa perlu mengkhawatirkan masalah biaya. Sebab, KAJ akan memelihara infrastrukturnya sekaligus menanggung biayanya.

BIDUK dibuat oleh Universitas Bina Nusantara dalam ikatan kontrak kerja sama profesional yang didasari oleh semangat ingin membantu keuskupan-keuskupan yang ada di Indonesia dalam hal pendataan umat.

Saat ini, sudah ada 18 keuskupan yang menggunakan aplikasi BIDUK Nusantara dan yang paling banyak menggunakannya adalah keuskupan-keuskupan di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Vinsen Patno

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *