Kerja Bakti Lintas Agama di TMP Kraksaan: Jembatan Pemersatu Masyarakat

News44 Views

Probolinggo. Taman Makam Pahlawan (TMP) Kraksaan, Probolinggo, Jawa Timur menjadi tempat peristirahatan terakhir para pahlawan berbeda. Di tempat 43 pejuang bangsa dimakamkan ini, ideologi Pancasila dimaknai lebih dalam oleh masyarakat sekitar pada Sabtu pagi, 31 Oktober 2026. Wujud toleransi dan gotong royong lintas iman menjadi dasar kegiatan yang diadakan di situ.

Diawali apel bersama pukul 06.15, acara kerja bakti lintas agama di TMP yang diinisiasi Rm. Damianus Fadjar Tedjo Soekarno, Pr bersama Seksi Kematian Gereja Katolik Santo Paulus Kraksaan ini dihadiri seratusan peserta dari berbagai latar belakang agama dan organisasi kemasyarakatan.

Melalui kolaborasi indah bersama Jemaat Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Kraksaan, GP Ansor, dan elemen ormas lainnya, tempat suci penghormatan para pahlawan tersebut menjadi arena nyata perwujudan persatuan bangsa.

Apel pembuka dipimpin Zainudin, Kepala SMPK Santo Paulus, dengan inspektur upacara Gunawan Napitu selaku perwakilan DPP Paroki Santo Paulus Kraksaan.

Gunawan menekankan betapa krusialnya menjaga kerukunan antarumat beragama sekaligus merawat warisan sejarah serta tempat peristirahatan terakhir para pahlawan. Ia menggarisbawahi pentingnya moderasi beragama sebagai benteng untuk menghindari pemikiran ekstrem dalam kehidupan berbangsa.

Usai apel, apresiasi mendalam disampaikan Pemerintah Kabupaten Probolinggo melalui Siti Mariam, S.Sos., M.A.P., Sekretaris Dinas Sosial yang hadir mewakili Kepala Dinas Sosial Pemkab Probolinggo.

Didampingi Ninuk Fris Handayani, S.IPem., M.M., Kabid Pemberdayaan Sosial, Siti Mariam menyampaikan kolaborasi ini adalah wujud nyata Pancasila. “Baru kali ini ada kegiatan lintas agama yang hebat seperti ini, yang sesuai dengan pengamalan Pancasila sila pertama dan sila ketiga. Semua agama bersatu padu kerja sama untuk Probolinggo Sae,” tuturnya penuh semangat.

Ia menambahkan, selain bertepatan untuk menyongsong peringatan Hari Pahlawan di TMP Kraksaan pada 10 November 2026, suasana makam yang bersih tentunya juga akan sangat mendukung pelaksanaan acara apel bersama tersebut.

Setelah apel, keceriaan dan keakraban langsung membuncah di seluruh sudut area makam. Para peserta berhamburan membawa perlengkapan kerja bakti yang telah disiapkan dari rumah, mulai dari sapu lidi, sabit, pengki, kain lap, cangkul, hingga kuas cat dan tempat cat.

Suasana gotong royong terasa semakin berwarna dengan keterlibatan aktif para siswa SD Santo Pius dan SMP Santo Paulus Kraksaan. Dengan penuh semangat dan sukacita, anak-anak sekolah memunguti sampah, membantu kegiatan pembersihan, dan membersihkan makam para pejuang.

Mempererat persatuan tidak selalu harus dimulai dari gerakan besar.
Kepedulian sosial dan penghormatan jasa pahlawan

Bagi mereka, momen ini bukan sekadar aksi fisik, melainkan sarana pembelajaran lapangan dan nilai praktik agama langsung tentang kepedulian sosial serta penghormatan pada jasa pahlawan.

Sesekali terdengar pekik kecil dari peserta kerja bakti karena digigit semut rangrang yang hidup di sekitaran makam. Alih-alih mengeluh, para peserta malah menjadikan hal itu sebagai bahan cerita dan canda yang meramaikan suasana.

Semangat kebersamaan semakin erat manakala aksi fisik menyatu dengan sentuhan kreativitas. Selain menyapu dan membersihkan rumput liar, peserta juga bahu-membahu merapikan makam serta mengecat tembok dan batu paving di sekitar TMP agar kembali asri.

Aris Prasetyo dan Misiyani dari GKJW Jemaat Kraksaan, mengungkapkan rasa bahagia dan bangganya dapat berpartisipasi dalam momen bersejarah ini.

“Ini pengalaman yang sangat menggembirakan dan membanggakan. Pokoknya selesai dari sini semua bersih dan kinclong. Dengan rukun, kita bisa menciptakan damai dan sejahtera untuk masyarakat,” ungkap mereka seraya tersenyum sumringah.

Keakraban lintas iman ini tidak hanya tercermin dari peluh yang menetes bersama, tetapi juga dari kehangatan saat istirahat. Sesuai dengan imbauan panitia, seluruh peserta saling berbagi makanan ringan dan kudapan yang mereka bawa. Canda tawa dan obrolan hangat mencairkan sekat perbedaan agama maupun suku.

Kompleks TMP Kraksaan tampak bersih, rapi, dan megah kembali.
Hal kecil dengan cinta yang besar

Pdt. Josephine Christiana Sutrisno, S.Si.Teol. dari GKJW Jemaat Kraksaan menyebut momen kebersamaan ini sebagai “hal kecil dengan cinta yang besar”. Menurutnya, mempererat persatuan tidak selalu harus dimulai dari gerakan besar, melainkan dari langkah-langkah nyata di tingkat lokal seperti yang ditunjukkan warga Kraksaan pagi itu.

Ibu Gembala GKJW ini juga memberi ucapan selamat atas peringatan 100 Tahun Keuskupan Malang sekaligus menyampaikan harapan agar Keuskupan Malang terus menjadi inspirasi dalam merawat persatuan, menumbuhkan toleransi, serta merayakan persekutuan yang indah demi kemuliaan Tuhan dan kesejahteraan sesama.

Dukungan dan apresiasi serupa turut mengalir dari elemen ormas pemuda. Abdurrahman dari Pimpinan Cabang GP Ansor menegaskan bahwa aksi bersih-bersih ini membawa pesan simbolis sekaligus praktis yang sangat kuat.

“Ini bentuk dan simbol toleransi kerukunan umat beragama kita dalam satu naungan besar NKRI, sekaligus aksi nyata menjaga kebersihan lingkungan. Harapan ke depan, ini bisa menjadi rutinitas yang dilakukan semua kalangan tanpa memandang suku, ras, maupun agama,” tegas Abdurrahman.

Semangat ini menunjukkan bahwa isu lingkungan dan rasa hormat pada leluhur merupakan jembatan pemersatu yang sangat efektif.

Rangkaian acara yang penuh makna ini diakhiri dengan prosesi tabur bunga di atas pusara para pahlawan. Dengan khidmat dan penuh rasa hormat, para siswa sekolah, orang tua, tokoh agama, serta seluruh peserta yang hadir berjalan mengelilingi makam untuk menaburkan bunga segar.

Prosesi tabur bunga tersebut sekaligus memperingati jasa-jasa pejuang yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi kemerdekaan bangsa. Senyum kepuasan memancar dari wajah para peserta saat melihat kompleks TMP Kraksaan tampak bersih, rapi, dan megah kembali.

Melalui kerja bakti lintas agama ini, masyarakat Kraksaan telah memberikan teladan konkret bahwa keanekaragaman keyakinan bukanlah penghalang untuk bersatu.

Semangat gotong royong, kepedulian sosial, dan toleransi tinggi yang diperlihatkan oleh segenap warga, tokoh agama, pemerintah, hingga generasi muda sekolah menjadi fondasi utama dalam merawat keutuhan serta keharmonisan hidup berbangsa dan bernegara di Kabupaten Probolinggo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *