Sebuah pencapaian menganggumkan diperoleh Dosen Program Studi ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Ama Jaya Yogyakarta (UAJY) Desideria Cempaka Wijaya M. S.Sos, M.A., Ph.D. Ia meraih Alumni Engagement Innovation Fund (AEIF) 2026 dari United States Department of State.
Hibah internasional ini diperoleh melalui proposal program pelatihan kewirausahaan berbasis Artificial Intelligence (AI) bagi 60 pengusaha di Indonesia berjudul Youthpreneur Lab.
Hibah ini dicapai melalui program yang melibatkan tiga perguruan tinggi. Desideria sebagai ketua tim, bersama Lani Hartanti, Wakil Rektor I Universitas Katolik Widya Mandala, dan William Sandy, Wakil Rektor I Institut Teknologi dan Bisnis Sabda Setia.
Program pelatihan ini diikuti 60 peserta dan sebanyak 20 peserta yang mengikuti berasal dari UAJY, yang melibatkan mahasiswa, alumni, maupun mitra FISIP UAJY. Ketiganya memiliki minat yang sama dalam pengembangan inovasi dan kerja sama dengan mitra industri, termasuk gagasan mengenai Innovation Hub.
Pelaksanaan program ini akan berlangsung selama 6 bulan mulai Oktober 2026 hingga Februari 2027. Program ini akan dimulai dengan pelatihan di Surabaya bersama Consulate General of The United States. Selanjutnya proses inkubasi akan berlangsung di masing-masing perguruan tinggi. Setelah proses inkubasi berhasil di masing-masing kampus maka selanjutnya akan diadakan penutupan program dengan pameran hasil pengembangan produk di bulan Februari 2027 berlokasi di Consulate General of The United States, Surabaya.
Menurut Desideria, program ini tidak hanya berfokus pada pemanfaatan teknologi AI. Ia sendiri juga mendorong peserta mengembangkan kreativitas dan inovasi dalam membangun usaha. Innovation Hub menjadi harapannya dan pengembangannya dilanjutkan di masing-masing universitas.
“Tujuan untuk Indonesia adalah untuk mempunyai entrepreneur-entrepreneur yang punya literasi AI. Yang bisa mengembangkan endless creativity, endless innovation dengan mempergunakan AI,” jelasnya.
Bagi Desideria, perolehan AEIF 2026, tidak hanya menjadi pencapaian personal tetapi juga menjadi kesempatan bagi UAJY untuk memperluas jejaring dengan ekosistem pendidikan, industri, dan perusahaan di Amerika Serikat.
Ia memandang keberhasilan memperoleh hibah internasional tersebut sebagai hasil dari proses trial and error dalam pengajuan berbagai hibah pada tahun-tahun sebelumnya. Kegagalan dalam proses sebelumnya justru menjadi pembelajaran untuk memperbaiki gagasan dan strategi pengajuan hibah.
“It’s okay to fail because as long as you learn from your failure, itu menjadi sebuah aset buat kamu,” tegasnya.
Desideria berharap bahwa kedepannya Youthpreneur Lab dapat menjadi langkah pengembangan Innovation Hub di masing-masing perguruan tinggi. Melalui keberlanjutan program tersebut, UAJY diharapkan dapat memperkuat kolaborasi dengan entrepreneur, UMKM, dan mitra industri agar menciptakan ruang inovasi yang saling berkontribusi.







