Yogyakarta. Kelurahan Pandeyan, Kota Yogyakarta terus mendorong pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui penerapan nilai inovatif. Salah satu upayanya diwujudkan melalui pelatihan pengolahan sampah organik menggunakan metode Losida Vermicompost yang melibatkan dosen Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) pada Rabu, 30 September 2026.
Pelatihan ini merupakan bagian dari Program Bestari Saintek (Ekosistem Hidup Berbasis Sains dan Teknologi) yang diinisiasi Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), dengan pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Kelurahan Pandeyan memiliki empat nilai utama yang terangkum dalam BAIK, yakni Berbudaya, Inovatif, Sinergis, dan Amanah. Semangat ini tercermin dalam keterlibatan warga menjalankan program Masyarakat Jogja Olah Sampah (Mas Jos) sesuai arahan Pemerintah Kota Yogyakarta. Kekompakan warga dalam menyuarakan tepuk Mas Jos menjadi salah satu gambaran komitmen bersama terhadap pengelolaan sampah.
Lurah Pandeyan, Sugianto, S.I.P., mengatakan, pelatihan ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan keterampilan warga dalam mengolah sampah organik. Setelah sebelumnya mendapat pendampingan terkait biopori dan kompos, warga kini diperkenalkan pada metode Losida Vermicompost yang memanfaatkan cacing untuk mempercepat proses pengomposan.
“Pola ini diharapkan memang dapat dimulai dari diri sendiri dan keluarga sendiri agar bisa melakukan pengolahan sampah,” pesan Sugianto.

Materi pelatihan disampaikan dua dosen Fakultas Teknobiologi UAJY, Dra. Laurensia Indah Murwani Y., M.Si. dan Drs. Patricius Kianto Atmojo, M.Si. Keduanya memperkenalkan cara mengolah sampah organik dari rumah dengan memadukan penggunaan losida, cacing, dan biowash.
Biowash merupakan cairan yang digunakan untuk membantu proses penguraian sampah organik. Dalam pelatihan ini, warga juga mendapat penjelasan mengenai peran cacing dalam mempercepat pengomposan. Tiga jenis cacing yang diperkenalkan ialah cacing tiger, cacing merah, dan African nightcrawler.
“Sebenarnya metode ini lebih ke mempercepat dalam proses pengomposan. Vermicompost itu menggunakan cacing. Jadi mengompos dengan bantuan cacing,” terang Indah.
Antusiasme warga terlihat dalam sesi tanya jawab yang membahas proses pengolahan sampah organik dan penerapan metode tersebut di lingkungan rumah. Salah satu perwakilan RT bahkan menyampaikan rencana untuk meneruskan pengetahuan yang diperoleh kepada kelompok Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) agar manfaat pelatihan dapat menjangkau lebih banyak warga.
“Setelah ini, segera akan disampaikan kepada ibu-ibu PKK, terlebih setiap bulan mereka ada pertemuan sehingga pengolahan sampah ini bisa lebih disebarkan kepada warga sekitar,” ucapnya.
Pelatihan ditutup dengan pembagian perangkat Losida Vermicompost, cacing, dan biowash kepada warga. Melalui kegiatan ini, warga diharapkan dapat menerapkan pengolahan sampah organik secara mandiri bersama keluarga sekaligus memperluas praktik pengelolaan sampah dari lingkungan rumah.







