Iman yang Hidup

Cermin416 Views

Beberapa waktu lalu, saya merasa ragu terhadap diri sendiri. Saya sadar. Cara saya memahami dan menghidupi iman berbeda dari sebagian besar orang di komunitas saya. Bagi sebagian orang, Iman Katolik seringkali dianggap sebagai suatu kepastian, yang harus dipercaya tanpa dipertanyakan. Kita mengucapkan kredo yang sama, merayakan sakramen yang sama, dan menerima ajaran yang sama dari generasi ke generasi. Iman ini selesai dan jelas. Sementara, saya justru masih bertanya, masih mencari, bahkan masih merasa ada ruang yang belum sepenuhnya dapat dipahami.

Berbagai macam pertanyaan berkecamuk. Apakah iman saya kurang? Apakah karena saya masih bergumul, berarti saya belum cukup percaya? Refleksi ini ditulis karena kegelisahan itu. Saya bersyukur mendapatkan bimbingan dari orang-orang yang membuka ruang pertanyaan dan pencarian, bukan menutupnya. Melalui mereka, saya belajar bahwa kesetiaan tidak bertentangan dengan kejujuran intelektual, dan bahwa iman tidak menjadi lebih lemah hanya karena ia terus digumulkan.

Saya teringat St. Thomas yang meragukan kebangkitan Yesus. Yesus justru memberikan jawaban kepadanya, dan tidak mencela. Dari peristiwa itulah terucap ungkapan iman: “Ya Tuhanku, Ya Allahku” (Yoh 20:28). Itu adalah bukti nyata bahwa Allah menjawab apa yang kita pertanyakan, supaya kita dapat menyelami Misteri Ilahi.

Sepanjang sejarah Gereja, iman tidak pernah tumbuh tanpa pergumulan. Rumusan-rumusan yang hari ini kita ucapkan dengan tenang, lahir dari proses panjang pencarian, perdebatan, penyaringan, dan pemurnian. Konsili-konsili besar menggambarkan perjalanan Gereja untuk semakin memahami dan merumuskan misteri yang diwahyukan. Kepastian yang kita warisi bukanlah hasil dari iman yang berhenti bertanya, melainkan iman yang terus berusaha setia dalam memahami misteri yang jauh melampaui kita.

Tradisi rohani Gereja menunjukkan dinamika yang sama. St. Teresa Avila menggambarkan perjalanan jiwa sebagai proses yang terus dimurnikan. St. Ignatius Loyola mengajarkan pembedaan roh yang sedemikian dinamis. Dalam dinamika itu, iman bukanlah sesuatu yang dimiliki sepenuhnya, melainkan relasi yang dijalani hari demi hari. Manusia berulangkali melakukan dosa, mengkhianati relasi dengan Allah. Namun, dosa ini diakui, kemudian diampuni. Karena itulah manusia bertransformasi. Ini bukan proses yang sekali jadi.

Misteri Allah tidak pernah habis oleh satu generasi, satu pendekatan, atau satu bentuk ungkapan. Allah yang begitu besar tidak pernah dapat dipahami secara utuh oleh pikiran dan hati manusia. Setiap rumusan iman, betapapun luhur dan benar, tetaplah upaya manusia yang terbatas untuk menanggapi Misteri yang tak terbatas. Karena itulah, selalu ada kerinduan untuk mengenal lebih dalam, untuk dimurnikan, dan untuk dibentuk kembali. Kerinduan ini justru menjadi tanda bahwa iman masih dapat bertumbuh.

Setiap orang menghidupi iman dengan ritme yang berbeda. Ada masa ketika iman terasa terang dan mantap; ada pula masa ketika iman bergumul dalam pertanyaan. Gereja tidak pernah terdiri dari orang-orang yang berada pada titik yang sama. Gereja terdiri dari para peziarah yang berjalan bersama. Masing-masing anggota memiliki dinamikanya.

Dalam tradisi intelektual Gereja, iman tidak dimaksudkan untuk menjadi tertutup. St. Anselmus merumuskan “Fides quaerens intellectum” (iman yang mencari pengertian). St. Agustinus pernah menulis, “Jika engkau mengerti sepenuhnya, itu bukan Allah.” Pernyataan itu merupakan pengakuan akan kebesaran Allah yang melampaui batas-batas pemahaman manusia.

Ekaristi yang kita rayakan setiap hari adalah misteri yang sama, namun tidak pernah identik dalam pengalaman batin. Kita menerima Tubuh Kristus yang sama, tetapi kita tidak pernah memahami-Nya secara tuntas. Di situlah iman tetap hidup: setia pada Kristus, sekaligus sadar akan kedalamannya yang tak terselami.

Allah tidak memanggil kita kepada iman yang beku, melainkan kepada iman yang terus diperbarui. Seperti napas yang kita hirup dan hembuskan, iman pun diperbarui dalam setiap perjumpaan, dalam setiap pertanyaan yang jujur, dalam setiap pertobatan yang kita lakukan. Bagi saya, iman bukanlah tujuan final, melainkan relasi yang terus dihidupi.

Iman menjadi hidup bukan karena merasa telah selesai, melainkan karena berakar pada Kristus dan terus bertumbuh di dalam-Nya. Iman ini percaya, sekaligus tetap belajar. Iman ini yakin, sekaligus tetap terbuka. Selama masih ada kerinduan untuk mengenal Allah lebih dalam, selama masih ada kejujuran untuk bertanya tanpa kehilangan kesetiaan, selama masih ada kerendahan hati untuk mengakui bahwa misteri selalu lebih besar daripada konsep, di situlah iman tetap dapat hidup dan bertumbuh.

Sleman, 1 Februari 2026
Lisa Kurnia Sari, Sp.PD-KR, FINASIM
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana
dan Dokter Penyakit Dalam Konsultan Reumatologi
RS Bethesda Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *