Gereja St. Athanasius, Rumah Kedua Mahasiswa Katolik UGM

Sambut Tahun Akademik Baru 2026/2027, UKM Misa Kampus UGM Gelar Misa Syukur 2026

News140 Views

Sleman. Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Misa Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) Perayaan Misa Syukur Bersama Keluarga Mahasiswa Katolik UGM untuk menyambut dimulainya tahun akademik 2026/2027.

Agenda rohani tahunan pada Sabtu, 12 September 2026 di Gereja Katolik St. Athanasius, Fasilitas Kerohanian UGM ini diharapkan menjadi sarana berbagi kasih dan menjalin persaudaraan yang semakin erat di antara seluruh mahasiswa Katolik di UGM Yogyakarta.

Selain itu, mahasiswa dapat menyambut tahun akademik 2026/2027 dengan sukacita, kebahagiaan, keyakinan, dan iman yang semakin kuat karena diawali dengan Misa bersama sebagai wujud syukur dan permohonan berkat dari Tuhan.

Tujuan kegiatan dengan tema besar “Called to Be a Source of Joy, Inspiration, and Blessing” (Dipanggil Menjadi Sumber Sukacita, Inspirasi, dan Berkat) dan tagline “Be the Joy, Be the Light, Be the Bless” ini menjadi sarana pembinaan rohani, penguatan iman, serta pendorong persatuan seluruh sivitas akademika Katolik UGM.

Meski duduk di luar, umat yang hadir tetap mengikuti Misa Syukur dengan khidmat. (Foto: Dr. drg. Alma Linggar Jonarta, M.Kes.)

Terdapat dua acara dalam rangkaian kegiatan ini. Kegiatan yang pertama adalah pre-event pada 23 Agustus 2026 dengan melaksanakan pemeriksaan kesehatan umum, gigi, dan mulut secara gratis, sarapan bersama, serta lomba interaktif yang berlokasi di halaman kompleks Fasilitas Rohani UGM.

Acara ini dihadiri sekitar 150 peserta meliputi sivitas akademika UGM dan warga sekitar. Acara dibuka dengan sambutan Fransiska Xaveria Nimas Darani Azalea sebagai Ketua Panitia Misa Syukur 2026, Prof. Ir. Indra Perdana. S.T., PH.D., IPM. sebagai Pembina UKM Misa Kampus, serta Fernando Marpaung S.T., M.SC. sebagai perwakilan Direktorat Kemahasiswaan UGM

Sementara itu, acara pokok berupa Perayaan Misa Syukur Pembukaan Tahun Akademik 2026/2027 dipimpin selebran utama Vikaris Episkopal (Vikep) Yogyakarta Timur Rm. Marcellinus Tanto, Pr didampingi konselebran Rm. A. Daryanto, SJ (Romo Pusat Pastoral Mahasiswa DIY), Rm. A. Pabendon, Pr (Rektor Seminari Tinggi Anging Mammiri), Rm. P. Sugiarto, SCJ (Rektor Skolastikat SCJ), serta Rm. Y. Rianghepat, SSCC (Romo Staff Formator Skolastikat SSCC).

Misa dihadiri dosen, tenaga kependidikan dan mahasiswa Katolik UGM, purnakarya, orang tua mahasiswa, alumni UGM, serta umat Katolik yang berdomisili di sekitar UGM.

Sebanyak 20 frater pendamping dari berbagai kongregasi mendampingi 20 kelompok Keluarga Mahasiswa Katolik (KMK) UGM. (Foto: Dr. drg. Alma Linggar Jonarta, M.Kes.)

Dr. Drs. Mustofa Anshori Lidinillah, M.Hum. Selaku Sekretaris Direktorat Kemahasiswaan (Ditmawa) di Universitas Gadjah Mada (UGM) menyebut universitas ini sesungguhnya perguruan tinggi umum, tetapi nuansa religiusnya sangat intens.

“Saya merasa ini seperti di perguruan tinggi agama. Kegiatan-kegiatan keagamaan sangat marak. Tetapi ini patut kita syukuri,” ungkap Mustofa.

Menurutnya, di tengah upaya mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, kepedulian dan berpegang teguh pada ajaran agama masih kuat. Maka, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di UGM, khususnya, serta Indonesia pada umumnya diharapkan dapat berpihak pada kemanusiaaan dan menyejahterakan rakyat Indonesia.

Mustofa juga mensyukuri suasana kehidupan UGM yang tidak eksklusif. Perbedaan Iman bukan sekat yang memisahkan. “Kalau di masyarakat ada istilah mayoritas dan minoritas, di UGM, kedua kata itu sudah hilang,” tegasnya.

Sebab, iman justru menyatukan, bukan menekan, tetapi menjadi akar tumbuh kembang kemanusiaan. “Sore ini saya merasakan iman itu tumbuh luar biasa di gereja ini,” ucap Mustofa.

Hal yang lebih penting, imbuh Mustofa, inklusivitas adalah nilai yang dijunjung tinggi di UGM. Semua agama memperoleh kesempatan beribadah dan mendapat fasilitas yang sama. UGM peduli pada misi pengabdian sehingga fasilitas kerohanian ini juga terbuka untuk masyarakat umum.

Dr. Drs. Mustofa Anshori Lidinillah, M.Hum. Perbedaan Iman bukan sekat yang memisahkan. (Foto: Komsos Keuskupan Agung Semarang)

Sementara itu, Rm. Tanto mengatakan ketika mengawali tahun akademik yang baru, selain mengandalkan pikiran dan hati, tetapi juga pada Tuhan. “Karena tidak memungkinkan kita berjalan sendiri tanpa rahmat Allah. Semoga ini menjadi momen yang boleh terus-menerus kita upayakan,” tuturnya.

Selain rasa syukur, imbuhnya, tetapi juga memohon pendampingan bagi proses ini, baik di UGM maupun kampus-kampus lain untuk memulai tahapan baru kembali setelah rihat sejenak atau liburan. “Mungkin ada yang selama liburan tetap memikirkan skripsi. Maka, kita serahkan kepada Tuhan, memohon berkat untuk perjalanan yang baru ini,” pesan Rm. Tanto.

Ia berharap perjumpaan seperti ini terus terjadi di antara para dosen, baik yang masih aktif maupun purnakarya, juga para mahasiswa bersama Rm. Daryanto dan para romo lain yang mempunyai hati untuk mendampingi mereka semua.

Kemudian, dalam homilinya, Rm. Tanto menyebut bacaan Injil dari Matius 18:21-35 terkait dengan situasi yang tidak mudah atau sukar untuk berdamai. “Itu sering kali membawa kekesalan di dalam diri kita. Maka kalau bacaan hari ini memberikan penegasan tentang kesalahan dan pengampunan, semoga relate dengan keseharian kita yang sering kali mengalami hal itu,” urainya.

Rm. Marcellinus Tanto, Pr. Memulai tahapan baru kembali setelah rihat sejenak atau liburan. (Foto: Komsos Keuskupan Agung Semarang)

Rm. Tanto menyatakan, pengampunan dan kesalahan itu manusiawi. “Tuhan Yesus mengajari kita matematika yang kadang kala berbeda dengan hitungan manusia. Apakah Anda mengampuni sampai di angka 489? Kuotanya tinggal satu (dari 490-Red.). Matematikanya Yesus itu tak terbatas,” ujarnya.

Menurut Rm. Tanto, pengampunan bukan matematika maupun sistem poin yang ada limit atau kuotanya. “Di sinilah kadang kala kita, manusia tidak mampu. Sebenarnya bukan tidak mampu, melainkan tidak mau. Karena ukurannya adalah saya atau diri sendiri,” tunjuknya.

Oleh karena itu, bacaan hari ini menjadi inspirasi untuk memulai langkah baru. Rm. Tanto mengajak umat untuk dalam hening mencoba berkata pada Tuhan agar dapat menerima luka dan memohon rahmat Allah untuk mengampuni diri, menerima luka itu, dan melepas beban agar ringan melangkah.

Prof. Dr. Drg. Regina TC Tandelilin, MSc., PBO. Gereja St. Athanasius sudah menjadi rumah kedua bagi mahasiswa Katolik UGM. (Foto: Komsos Keuskupan Agung Semarang)

Di pengujung Misa, Ketua Pengurus Gereja St. Athanasius UGM Prof. Dr. Drg. Regina TC Tandelilin, MSc., PBO bersyukur karena untuk pertama kalinya Misa Syukur awal tahun akademik 2026/2027 dilaksanakan di Gereja St. Athanasius UGM.

Regina menyebut Gereja St. Athanasius sudah menjadi rumah kedua bagi mahasiswa Katolik UGM. “Gereja ini juga tempat untuk berdoa, bersyukur, bertumbuh dalam iman, dan membangun persaudaraan,” tambahnya.

Tema yang diangkat mengajak para mahasiswa menyadari kehadiran mereka di UGM bukan hanya untuk belajar dan meraih keberhasilan bagi diri sendiri, tetapi juga dapat membawa sumber sukacita dan menjadi inspirator hingga menjadi berkat bagi sesama.

“Semoga dalam tahun akademik baru ini, kita tidak hanya bertumbuh dalam pengetahuan, tetapi juga semakin mampu menghadirkan kebaikan di mana pun kita berada,” harap Regina.

Rm. A. Daryanto, SJ. Setiap tahun ada 500 hingga 600 mahasiswa Katolik yang diterima di UGM. (Foto: Komsos Keuskupan Agung Semarang)

Selanjutnya, Rm. Daryanto mengucap syukur karena komunitas Katolik di UGM pelan-pelan semakin bertumbuh, berkembang, dan kelihatan orang-orangnya. “Kita juga punya rumah di sini. Rumah Tuhan, rumah kita semua. Inilah tempat kita, meskipun ada yang duduk di luar atau berdesak-desakan. Tetapi saya kira ini hal baik yang nanti bisa kita evaluasi,” katanya sembari berharap Misa Syukur awal tahun akademik selalu ada setiap tahun.

Rm. Daryanto menyebut setiap tahun ada 500 hingga 600 mahasiswa Katolik yang diterima di UGM. “Bersama dosen dan tenaga kependidikan, ada sekitar 2.000 umat Katolik di UGM. Bisa jadi paroki sebenarnya,” candanya sembari mengatakan tidak mungkin karena merupakan kelompok kategorial.

Ia lantas mengumumkan 20 frater pendamping mahasiswa dari Skolastikat SCJ, Seminari St. Paulus Kentungan, Seminari Tinggi OMI, Skolastikat SS.CC, Seminari Tinggi Anging Mammiri, dan Skolastikat MSF yang mendampingi 20 kelompok Keluarga Mahasiswa Katolik (KMK) UGM.

Usai Misa, di halaman Fasilitas Rohani UGM sudah ditata anjungan-anjungan yang menampilkan kegiatan KMK dari fakultas-fakultas di UGM dengan diiringi musik akustik oleh mahasiswa Katolik UGM.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *