Empat Imam KAS Ditahbiskan Mgr. Robertus Rubiyatmoko, Dipanggil Menjadi Saksi Kristus

News550 Views

SLEMAN-Empat imam Keuskupan Agung Semarang (KAS) ditahbiskan Uskup Agung KAS Mgr. Robertus Rubiyatmoko di Kapel Seminari Tinggi Santo Paulus Kentungan, Sleman, DIY. Senin, 29 Juni 2026.

Keempat imam tertahbis itu dalam suasana syukur menerima tahbisan imam Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Uskup Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko,  yang didampingi Rektor Seminari Tinggi Santo Paulus Romo Alexius Dwi Aryanto serta Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Semarang Romo Fransiskus Xaverius Sugiyono.

Imam baru dari KAS ini adalah Feremenatos Oktafilio Adi Prasetya, Pr dari Paroki St. Maria Fatimah Banyumanik, Semarang, Patrik Diego Arbi Arwendi, Pr dari Paroki Santa Maria Kartasura, Surakarta, Yohannes Bramanda Ryan Kharisma, Pr dari Paroki Kristus Raja Ungaran dan Fransiskus Xaverius Merry Christian Putra dari Paroki Santa Teresia Lisieux Boro, Kulon Progo.

Empat Imam KAS ini dalam tahbisannya mengambil moto tahbisannya adalalh “Kamu harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku.” Moto tahbisan inilah yang di kupas oleh Uskup Rubi dalam homilinya.

Membuka homilinya, pada Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus ini, Mgr. Robertus Rubiyatmoko mengajak seluruh umat bersyukur karena Gereja merayakan dua sukacita sekaligus. Pertama adalah pesta Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus dan kedua adalah tahbisan empat imam baru. Kata Uskup Rubi kedua rasul agung iniadalah teladan pewarta Injil yang telah mengubah wajah Gereja sejak masa awal.

“Ini merupakan anugerah yang luar biasa bagi Keuskupan Agung Semarang. Setelah beberapa waktu jumlah tahbisan relatif sedikit, tahun ini Gereja menuai empat imam baru. Kita berharap panen panggilan semakin melimpah karena kebutuhan pelayanan umat masih sangat besar,” kata Uskup Rubi.

Uskup kemudian menjelaskan makna logo tahbisan yang dipilih para imam baru. Ia mengatakan pusat dari logo tersebut bukanlah sosok imam, melainkan hosti dan piala sebagai lambang Kristus dalam Ekaristi. Di sekelilingnya terdapat Kitab Suci, salib, Roh Kudus, burung pelikan sebagai simbol pengorbanan Kristus, serta pendopo yang melambangkan Gereja sebagai rumah bersama.

“Yang menjadi pusat kehidupan imam bukan dirinya sendiri, tetapi Yesus Kristus yang hadir dalam Sakramen Mahakudus. Imam hanyalah alat Tuhan untuk menghadirkan kasih Kristus kepada umat,” katanya.

Mgr. Robertus menegaskan bahwa menjadi saksi Kristus pertama-tama berarti hidup dekat dengan Tuhan. Kedekatan itu diwujudkan melalui kesetiaan merayakan Ekaristi, mendengarkan Sabda Allah, dan membangun relasi pribadi dengan Kristus.

“Tahbisan bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal panggilan untuk semakin bersatu dengan Kristus. Dari sanalah seorang imam memperoleh sumber kekuatan dalam seluruh pelayanannya,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa panggilan imam tidak identik dengan kehidupan yang nyaman. Seorang imam dipanggil untuk rela berkorban, menghadapi tantangan, penolakan, bahkan penderitaan demi pewartaan Injil. Ia mengajak para imam baru meneladani Santo Petrus dan Santo Paulus yang tetap setia mewartakan Kristus meski harus dipenjara hingga menyerahkan nyawa.

“Menjadi saksi berarti siap memberikan diri sepenuhnya, bukan mencari kenyamanan atau kemuliaan pribadi, tetapi demi kemuliaan Tuhan dan Gereja-Nya,” tegasnya.

Uskup Rubi sedang berhomili pada Tahbisan Imam Keuskupan Agung Semarang, Senin 29 Juni 2029.

Pesan lain yang ditekankan Uskup adalah pentingnya menghadirkan Gereja sebagai rumah yang terbuka bagi semua orang. Ia menggunakan simbol pendopo dalam logo tahbisan sebagai gambaran Gereja yang tanpa sekat dan menerima siapa pun.

“Pendopo tidak memiliki pintu. Semua orang boleh datang dan merasa aman. Demikian pula imam dipanggil untuk merangkul semua orang tanpa membeda-bedakan, sehingga Gereja menjadi tempat setiap orang mengalami kasih Allah,” katanya.

Menurutnya, keberhasilan pelayanan seorang imam tidak diukur dari banyaknya pekerjaan yang dilakukan, melainkan dari seberapa banyak orang yang dibimbing semakin dekat kepada Kristus.

Menutup homilinya, Mgr. Robertus mengajak seluruh umat mendoakan para imam baru agar tetap setia hingga akhir hidupnya. Ia berharap mereka mampu menghayati panggilan sebagai pelayan yang bersaksi, rela berkorban, dan menjadi gembala yang merangkul seluruh umat.

“Kita mohon anugerah Roh Kudus agar para imam baru ini sungguh menjadi pelayan Kristus yang setia, menghadirkan Gereja yang membahagiakan, menginspirasi, dan menyejahterakan umat,” tuturnya.

Tahbisan empat imam baru tersebut menjadi tanda harapan baru bagi Keuskupan Agung Semarang di tengah kebutuhan pelayanan pastoral yang terus berkembang. Dengan semangat moto “Kamu harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku,” keempat imam diharapkan menjadi saksi Kristus yang setia, menghadirkan kasih Allah melalui Ekaristi, pewartaan Sabda, dan pelayanan yang merangkul seluruh umat tanpa membedakan latar belakang maupun keadaan hidupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *