Di tengah ritme pekerjaan yang padat dan berbagai tuntutan pelayanan di dunia pendidikan, setiap pribadi yang berkarya di sekolah membutuhkan ruang untuk berhenti sejenak, menata kembali hati, serta merefleksikan makna panggilannya.
Kesadaran inilah yang menjadi dasar pelaksanaan Rekoleksi Karyawan SMA Kolese De Britto Yogyakarta yang berlangsung pada Kamis–Jumat, 25–26 Juni 2026 di Panti Semedi Sangkal Putung, Klaten, Jawa Tengah, dengan tema “Berjalan Bersama Rekan dan Tuhan”.
Rekoleksi yang dibimbing Br. Antonius Dieng Karnedi, SJ ini menjadi momen berharga bagi seluruh karyawan untuk sejenak meninggalkan rutinitas pekerjaan dan memasuki ruang keheningan, perjumpaan, serta refleksi bersama.
Dalam suasana Panti Semedi yang tenang dan asri, para peserta diajak untuk menyadari kembali bahwa bekerja di sebuah lembaga pendidikan, terlebih di sekolah Jesuit, bukan sekadar menjalankan tugas administratif atau pekerjaan sehari-hari, melainkan sebuah panggilan untuk bertumbuh dan berjalan bersama.
Kegiatan dimulai pada Kamis sore, 25 Juni 2026, dengan kebersamaan sederhana melalui snack bersama sebelum memasuki sesi pengantar rekoleksi. Dalam pengantar tersebut, Br. Dieng mengajak seluruh peserta untuk membuka diri terhadap pengalaman rekoleksi sebagai kesempatan mendengarkan suara Tuhan yang sering kali tenggelam di tengah kesibukan hidup.
Sesi utama pada malam pertama mengangkat tema Sinodalitas. Tiga Pilar Sinodalitas yaitu persekutuan (communion), partisipasi (participation), dan perutusan (mission). Ketiga pilar ini menjadi dasar bagi Gereja dan komunitas untuk terus bertumbuh dalam semangat berjalan bersama.
Melalui pemaparan dan refleksi yang mendalam, peserta diajak menyadari bahwa setiap orang memiliki peran penting dalam membangun komunitas kerja yang saling mendukung dan saling mendengarkan.
Bagi keluarga besar SMA Kolese De Britto, semangat sinodalitas memiliki makna yang sangat relevan. Sekolah bukan hanya tempat bekerja, melainkan sebuah komunitas yang dibangun atas dasar kepercayaan, kerja sama, dan kepedulian satu sama lain.
Karena itu, berjalan bersama tidak hanya berarti bekerja bersama, tetapi juga belajar menerima perbedaan, menghargai peran setiap orang, dan bersama-sama mencari kehendak Tuhan dalam setiap pelayanan.
Suasana rekoleksi semakin hangat melalui kegiatan menonton film dan rekreasi bersama. Di tengah canda dan tawa, para peserta kembali mengalami bahwa kebersamaan sering kali lahir dari momen-momen sederhana. Kebahagiaan ternyata tidak selalu ditemukan dalam hal-hal besar, tetapi justru dalam kesempatan untuk hadir dan berbagi dengan sesama rekan kerja.
Menjelang malam, seluruh peserta diajak memasuki keheningan melalui examen dan doa malam. Dalam tradisi spiritualitas Ignatian, examen menjadi sarana untuk melihat kembali perjalanan sehari, menemukan jejak kehadiran Tuhan, serta mensyukuri setiap pengalaman yang telah dialami. Di tengah keheningan malam, setiap peserta diajak untuk merefleksikan relasi dengan Tuhan, sesama, dan diri sendiri.

Hari kedua rekoleksi diawali dengan doa pagi bersama yang dilanjutkan dengan sarapan. Suasana hening dan penuh kedamaian sejak pagi menjadi bekal bagi peserta untuk memasuki sesi berikutnya, yakni “Seeing Different Level of Synodality”.
Dalam sesi ini, Bruder Dieng mengajak peserta melihat dan memahami berbagai tingkatan dalam menghidupi semangat sinodalitas, mulai dari relasi pribadi, relasi dalam komunitas, hingga perutusan bersama.
Peserta diajak menyadari bahwa perjalanan bersama tidak selalu mudah. Perbedaan karakter, cara pandang, dan pengalaman hidup sering kali menjadi tantangan dalam membangun kebersamaan. Namun, justru melalui perbedaan itulah setiap orang dipanggil untuk belajar mendengarkan, memahami, dan berjalan bersama.
Pemahaman tersebut semakin diperdalam melalui sesi sharing kelompok. Dalam suasana yang hangat dan terbuka, para peserta berbagi pengalaman, tantangan, serta harapan selama berkarya di SMA Kolese De Britto.
Momen ini menjadi ruang perjumpaan yang mempererat relasi antarkaryawan dan menghadirkan kesadaran bahwa setiap orang sesungguhnya sedang menempuh perjalanan yang sama, yakni memberikan pelayanan terbaik bagi perkembangan peserta didik.
Puncak rekoleksi ditandai dengan Perayaan Ekaristi. Dalam perayaan ini, seluruh peserta diajak untuk mensyukuri rahmat kebersamaan dan menyerahkan kembali seluruh karya pelayanan kepada Tuhan.
Ekaristi menjadi pengingat bahwa setiap pekerjaan, sekecil apa pun, dapat menjadi bentuk pelayanan yang bermakna apabila dilakukan dengan kasih dan semangat pengabdian.
Setelah makan siang dan beres-beres, seluruh peserta pulang dengan hati yang diperbarui. Rekoleksi ini tidak berhenti sebagai kegiatan dua hari semata, melainkan menjadi undangan untuk terus menghidupi semangat “Berjalan Bersama Rekan dan Tuhan” dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui rekoleksi ini, para karyawan SMA Kolese De Britto kembali diingatkan bahwa membangun sekolah yang unggul tidak hanya ditentukan oleh program dan sistem yang baik, tetapi juga oleh kualitas relasi antaranggota komunitas.
Ketika setiap pribadi mampu berjalan bersama, saling mendukung, dan menempatkan Tuhan sebagai pusat perjalanan, maka komunitas sekolah akan menjadi ruang yang menghadirkan harapan, sukacita, dan pelayanan yang semakin bermakna bagi sesama.
Karena pada akhirnya, perjalanan hidup dan karya pendidikan bukanlah perjalanan seorang diri. Melainkan perjalanan bersama-bersama rekan, bersama komunitas, dan terutama bersama Tuhan yang senantiasa menyertai setiap langkah pribadi yang ada didalamnya
Chr. Danang Wahyu Prasetio Humas SMA Kolese De Britto Yogyakarta








