Ekaristi sebagai Rutinitas Sosial, Ketika Tubuh Kristus Hanya Menjadi Jadwal Mingguan

Bingkai248 Views

Hari Minggu selalu punya aroma yang sama. Wangi dupa, lagu pembuka, bunyi lonceng kecil, dan wajah-wajah yang sama di bangku yang sama. Ada yang datang dengan rapi, ada
yang buru-buru dengan rambut belum kering. Ada yang khusyuk, ada yang sekadar menggugurkan kewajiban.

Misa jadi seperti agenda rutin. Seperti olahraga pagi. Seperti belanja mingguan. Hanya beda pakaian dan tata cara. Padahal Gereja sejak lama mengingatkan bahwa Ekaristi bukan rutinitas sosial. Konsili Vatikan II menyebutnya sebagai puncak dan sumber seluruh kehidupan Kristiani.

Sacrosanctum Concilium menulis bahwa dalam Ekaristi, Kristus sendiri hadir secara nyata, mempersembahkan diri bagi dunia. Tapi di banyak paroki, Ekaristi terasa seperti ritual berulang tanpa kedalaman. Tanpa guncangan batin. Tanpa rasa kagum. Umat datang, duduk, berdiri, menyanyi, menjawab, menyambut, lalu pulang. Semua sesuai urutan. Seolah liturgi adalah mekanisme yang harus dijalankan. Bukan perjumpaan yang mengubah hidup.

Tubuh Kristus diterima dengan wajah datar. Tanpa rasa gentar, tanpa syukur yang benar-benar hidup. Mungkin karena kita terbiasa dengan yang sakral. Terlalu sering melihat misteri sampai lupa bahwa itu misteri.

Kita lupa bahwa yang kita sambut bukan roti biasa. Tapi tubuh yang diserahkan. Darah yang ditumpahkan. Seperti yang ditulis Paulus kepada jemaat di Korintus, “Setiap kali kamu
makan roti ini dan minum dari piala ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang.” Tapi apakah kita masih memberitakan sesuatu, atau hanya mengulang tanpa arti.
Ekaristi kini jadi semacam acara sosial yang punya format tetap.

Ada salam damai yang lebih sering jadi momen basa-basi. Ada kolekte yang kadang lebih diperhatikan daripada bacaan Injil. Ada umat yang sibuk menatap jam sambil berharap homili segera selesai. Ada juga yang memotret altar setelah misa untuk diunggah dengan caption penuh syukur.

Semua tampak saleh di permukaan. Tapi di dalam, mungkin kosong. Di paroki besar, Ekaristi juga bisa jadi panggung sosial. Tempat menunjukkan eksistensi dan status. Siapa duduk di depan,
siapa sibuk di koor, siapa berdoa dengan gaya yang tampak lebih kudus.

Semua ada lapisan sosialnya. Gereja menjadi ruang cermin masyarakat yang sesungguhnya. Ada yang memimpin, ada yang diatur, ada yang hanya menonton. Ekaristi kehilangan daya gugatnya. Padahal hakikatnya, Ekaristi adalah peristiwa radikal.

Tubuh Kristus dibagi agar manusia juga mau membagi hidup. Darah Kristus ditumpahkan agar manusia sadar arti pengorbanan. Tapi sekarang pengorbanan lebih sering diganti kenyamanan. Umat ingin misa yang tidak terlalu lama, lagu yang tidak terlalu susah, imam yang tidak terlalu keras. Iman pun ikut disesuaikan dengan selera.

Ajaran Sosial Gereja menegaskan bahwa Ekaristi tidak berhenti di altar. Dalam Ecclesia de Eucharistia, Paus Yohanes Paulus II menulis bahwa Ekaristi menuntut konsekuensi sosial. Ia
harus mengubah cara umat hidup di tengah dunia. Tapi di banyak tempat, Ekaristi berhenti di gereja. Setelah tanda salib penutup, kehidupan berjalan seperti biasa. Tidak ada perbedaan
antara sebelum dan sesudah misa. Mungkin ini yang disebut regresi rohani.

Iman yang tak lagi bergerak. Segalanya dijalankan dengan sopan tapi tanpa jiwa. Gereja penuh, tapi dunia tetap sama gelapnya. Tubuh Kristus diterima, tapi tubuh sosial tetap terpecah. Ada umat yang hanya mencari misa paling cepat.

Ada yang memilih gereja karena pendingin udaranya dingin. Ada yang pergi karena musiknya bagus. Gereja bersaing dalam hal fasilitas, bukan kedalaman. Tubuh Kristus terselip di antara selera konsumerisme dan tuntutan kenyamanan modern.

Yesus dalam Injil Yohanes berkata, “Akulah roti hidup. Barang siapa datang kepada-Ku, ia idak akan lapar lagi.” Tapi lapar kita bukan lagi soal iman. Kita lapar hiburan, lapar rasa
tenang, lapar sesuatu yang ringan. Ekaristi jadi obat sementara, bukan sumber kehidupan. Padahal di dalam setiap roti yang dipecah, ada dunia yang diundang untuk disembuhkan.

Di setiap piala yang diangkat, ada ajakan untuk menumpahkan diri bagi sesama. Tapi tafsir itu hilang dalam kebiasaan yang terlalu mapan. Kita lebih sibuk memastikan posisi duduk
daripada memaknai perjamuan yang kita hadiri. Mungkin karena Gereja sendiri makin ramah terhadap rutinitas. Jadwal misa dicetak rapi, musik diatur, dekorasi dirancang. Semua efisien
dan terukur. Tapi misteri tak pernah bisa diukur.

Misteri hanya bisa dihidupi. Dan itu yang perlahan memudar. Tubuh Kristus kini lebih sering menjadi tanda tanpa gerak. Kita makan tanpa lapar, minum tanpa haus. Kita menerima tanpa mengerti. Gereja terus berjalan dengan ritme mingguan yang sama. Hari Minggu datang, kita kembali lagi, duduk di bangku yang sama, menyapa orang yang sama. Lalu pulang membawa rasa lega karena kewajiban sudah selesai.

Ekaristi bukan lagi perayaan penyelamatan, tapi agenda rutin seperti cuci mobil. Semua berjalan lancar, bersih, tapi tak meninggalkan jejak. Mungkin inilah wajah Gereja modern.
Rapi, tertib, penuh acara, tapi sepi makna. Tak ada ledakan batin, tak ada pertobatan sungguh.

Tubuh Kristus masih dibagi, tapi maknanya terpotong-potong. Yesus berkata, “Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Aku.” Tapi kenangan yang sejati bukan sekadar mengulang.
Kenangan berarti menghadirkan kembali. Hidup kembali. Tapi di antara semua liturgi yang begitu halus dan indah, mungkin yang hilang adalah kesadaran paling sederhana bahwa
Ekaristi bukan jadwal. Ia perjumpaan. Ia revolusi kecil di altar yang menantang dunia untuk berubah. Dan selama ia hanya jadi rutinitas sosial, Tubuh Kristus akan tetap dibagi tanpa
pernah mengubah siapa pun yang menerimanya.

Marselinus Eligius Kurniawan Dua

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *