Membangun Mimpi Persaudaraan dari Padang Gurun

Bingkai319 Views
Untuk menutup Ensiklik Fratelli Tutti (2020), Paus Fransiskus menyebut beberapa tokoh, salah satunya Charles de Foucauld (1858-1916), seorang petapa dari padang gurun Afrika yang memimpikan persaudaraan universal.

 

Oleh Romo: Heri Setyawan, SJ
Pengajar di Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma

 

Begitu pentingnya figur Charles de Foucauld dalam membangun persaudaraan sehingga Paus Fransiskus dalam Fratelli Tutti menulis, “…saya ingin mengakhirinya dengan mengingat seorang lain dengan imannya yang mendalam, yang, berawal dari pengalamannya yang intens akan Allah, telah melakukan perjalanan transformasi hingga merasa dirinya sebagai saudara bagi semua. ….. Cita-cita pengabdiannya yang total kepada Allah diarahkannya kepada identifikasi dirinya dengan mereka yang paling kecil, yang ditinggalkan di kedalaman gurun Afrika. Dalam konteks itu ia mengungkapkan kerinduannya untuk merasakan setiap manusia sebagai seorang saudara…” (Fratelli Tutti 286 dan 287).

Charles de Foucauld menampilkan dirinya sebagai saudara bagi semua orang di Aljazair hingga akhir hidupnya yang tragis, yakni terbunuh di pertapaannya sendiri tahun 1916. Catatan-catatan harian dan kesaksian hidupnya menunjukkan mimpi-mimpinya yang indah untuk menjadi saudara bagi semua orang, terbangunnya persaudaraan universal, dan pentingnya budaya perjumpaan (culture of encounter). Tema-tema inilah yang juga diangkat Paus Fransiskus dalam Ensiklik Fratelli Tutti.

Padang Gurun

Kisah hidup Charles de Foucauld yang berliku akhirnya mengantarkannya dari tempat asalnya di Prancis ke daerah orang-orang Tuareg di Aljazair, bernama Tamanrasset. Di sana ia hidup sebagai seorang petapa yang melayani banyak orang yang datang kepadanya sampai akhir hidupnya.

Bila hendak memahami konteks Charles de Foucauld hidup sebagai petapa di Aljazair, kita dibawa pada masa kolonialisasi Prancis terhadap Aljazair. Pada tahun 1830, Prancis makin merangsek ke Aljazair, menjadikan wilayah di pinggir laut Mediterania ini sebagai daerah koloni.

Orang-orang Eropa tinggal dalam permukiman khusus disebut pieds-noirs di bawah hukum kolonial, sementara penduduk asli terpinggir dan hidup dalam tradisinya masing-masing (Merad, Christian Hermit in an Islamic World, 1999). Sebagai daerah pinggiran Mediterania di wilayah Afrika bagian Utara yang banyak melakukan kontak dengan wilayah Timur Tengah, masyarakat Aljazair kebanyakan adalah Muslim.

Awalnya, Charles de Foucauld datang ke Aljazair sebagai tentara Prancis tahun 1881. Ia juga melakukan penjelajahan ke Maroko (1883-1884). Di tempat-tempat inilah Foucauld bertemu dengan orang-orang Islam yang mengungkapkan imannya secara hidup.

Sebagai orang muda usia 20-an tahun yang saat itu sedang kehilangan iman dan mencari jatidiri, Foucauld begitu tersentuh. Dalam catatan hariannya, ketika mengenang masa-masa itu, Foucauld menulis, “Agama Islam sangat memengaruhi aku. Berjumpa dengan agama ini…menyebabkanku merasakan sesuatu yang melebihi dan melampaui hal-hal duniawi” (Lepetit, Two Dancers in the Desert, 1983). Saat-saat seperti itulah, ia kembali bertanya mengenai iman dan mencari Tuhan.

Pencarian akan Tuhan ini terus berlanjut dalam bimbingan seorang pastor bernama Huvelin di Prancis. Ketika datang kepada Pastor Huvelin, Charles de Foucauld langsung diminta untuk melakukan pengakuan dosa, “Berlututlah, lakukan pengakuan dosa kepada Tuhan: kamu akan percaya.”

Sejak saat itu, ia terus mencari Tuhan dengan melakukan doa dan ziarah, hingga tahun 1886 ia kembali percaya kepada Allah. Merefleksikan pengalaman pertobatannya, Foucauld menulis kepada sepupunya, Louis de Foucauld, 28 November 1894, “Ya Tuhanku, jika Engkau ada, biarkan aku mengenal-Mu.”

Pertobatan itu akhirnya membawanya menjadi seorang petapa, menghabiskan waktunya dengan berdoa di Prancis lalu berpindah ke Akbes, di Suriah tahun 1890 (Merad, 1999: 47). Ia juga tergerak untuk hidup sendirian dalam keheningan, berdoa di Yerusalem, hingga ia ditahbiskan sebagai imam di Prancis pada tahun 1901, saat berusia 43 tahun.

Setelah ditahbiskan, ia kembali ke Aljazair, ke tengah padang gurun untuk menghidupi doa dalam kesendirian. Awalnya ia tinggal di Beni Abbes dekat perbatasan Maroko, lalu ke Tamanrasset di Hoggar bersama orang-orang Tuareg, salah satu suku penduduk lokal.

Persaudaraan bagi Semua

Sebagai seorang petapa, Foucauld ingin menjadi rahib yang miskin dan hidup dalam kesendirian. Namun, gerakan dalam hatinya tidak tertahankan untuk menjadi saudara bagi semua. Banyak orang datang kepadanya, yakni para budak, orang-orang kampung, serta berbagai kelompok, termasuk orang-orang Prancis. Banyak di antara tamunya membutuhkan obat, tempat tinggal, ataupun makanan.

Foucauld menerima orang-orang yang datang, “Sejak 4.30 pagi hingga 8.30 malam, tak henti-hentinya aku berbicara dan menerima tamu: budak belian, orang sakit, tentara, pelancong, dan orang yang hanya ingin tahu.” Di tempatnya itu pula Foucauld melayani semua yang datang, termasuk anak-anak yang ingin belajar (Lepetit, Two Dancers in the Desert, 1983).

Lambat laun, Foucauld dikenal sebagai “rasul persaudaraan” bagi semua, termasuk bagi orang-orang Prancis yang menjajah orang Aljazair. Foucauld dihadapkan pada situasi yang sulit, di satu sisi ia sangat dekat dan dibutuhkan oleh orang-orang lokal, tetapi di sisi yang lain, ia juga menerima orang-orang Prancis. Sekalipun ia sudah memberi peringatan terhadap kolonisasi yang dilakukan Prancis, banyak orang Prancis tetap datang kepadanya meminta bantuan.

Setelah tiga bulan di Beni Abbes, ia pernah mengirim surat kepada uskup untuk mengingatkan Prancis. Demikian pula ia mengirim surat kepada temannya dengan nada marah, “…Setiap perangko kalian bubuhi slogan: kemerdekaan, kesamaan, dan persaudaraan! Tetapi kalian membelenggu budak belian…Kita tidak boleh menjadi ‘penjaga yang tertidur’ atau ‘anjing yang bisu’…” (Lepetit, 1983). Foucauld juga membuat daftar apa saja yang diperlukan bagi orang-orang di Beni Abbes supaya mereka terbantu.

Dua semangat tersebut terus dihidupi oleh Foucauld, yaitu berdoa dalam kesendirian serta membangun komunitas petapa dan menjadi saudara bagi semua. Ketika berpindah ke Tamanrasset, Foucauld hidup seperti halnya orang-orang Tuareg. Foucauld turut bekerja. Ia juga ketat menerapkan semangat asketisme. Jatah makanannya sama dengan penduduk asli, itu pun ia bagikan kepada anak-anak (Lepetit, 1983). Ia mendisiplinkan diri untuk menulis kamus bahasa Tuareg-Prancis.

Foucauld sejak awal memang selalu membawa alat tulis untuk menuliskan pengalaman-pengalaman yang ia temui. Di Tamanrasset ia menulis kamus setahap demi setahap, di tengah masa kering padang gurun. Situasi itu sepantasnya amat menyiksa. Banyak orang Tuareg mengungsi, tetapi Foucauld tetap bertahap dengan kedisiplinannya (Lepetit, 1983).

Situasi di Tamanrasset makin penuh konflik, baik antarsuku maupun perlawanan suku-suku yang ada terhadap Prancis. Kesulitan ekonomi makin membuat situasi memanas. Saat-saat seperti itu, Foucauld kembali berada dalam situasi yang sulit.

Seorang sejarawan Aljazair bernama Ali Merad menulis situasi sulit yang dihadapi Foucauld. Dipandang dari sudut warga Muslim di sekitar Tamanrasset, Foucauld tetaplah orang Prancis, sedangkan mereka adalah orang lokal. Identitas ini tidak bisa melepaskan Foucauld dari identitas penjajah.

Selain itu, sekalipun Foucauld tidak bermaksud mengajak orang-orang untuk menjadi Kristen, tetapi identitas Foucauld tetap dipahami sebagai misionaris, terlebih ketika sedang terjadi konflik yang memanas antara Prancis dan orang-orang lokal (Merad, 1999).

Saat konflik sedang memanas itulah, pada malam 1 Desember 1916, ia terbunuh oleh sekelompok perampok yang mengepung rumahnya. Saat itu juga tersebar rumor bahwa pertapaan Foucauld menjadi tempat menyimpan uang untuk kepentingan Prancis. Foucauld akhirnya terbunuh.

Teladan hidupnya terus bergema, terlebih kesederhanannya dan usahanya merajut persaudaran bagi semua dan membangun persahabatan melalui perjumpaan yang konkret. Oleh Paus Fransiskus, pada 15 Mei 2022, Charles de Foucauld dihormati sebagai santo karena teladan hidupnya.l

  • Artikel ini telah terbit di Edisi Cetak Majalah UTUSAN Agustus 2024.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *