Universitas Sanata Dharma Gelar Seminar Nasional Tradisi Pendidikan Tinggi dan Disrupsi AI

News347 Views

YOGYAKARTA — Di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan Universitas Sanata Dharma (USD) sukses menyelenggarakan Seminar Nasional Sanata Dharma Berbagi 2026. Seminar ini bertema “Tradisi Pendidikan Tinggi dan Disrupsi AI” dan menghadirkan para pakar untuk membahas masa depan universitas, Jumat, 9 Oktober 2026 melalui platform Zoom.

Lagu kebangsaan Indonesia Raya dan serta doa adalah menjadi pembuka seminar nasional ini. Suasana semakin hangat saat Ketua Panitia, Laurentia Sumarni, S.Pd., Ph.D., menyampaikan laporan pembukanya. Hadir juga Plh. Rektor USD, Prof. Ir. Sudi Mungkasi, Ph.D. dan Wakil Rektor 4 Cecilia Tutyandari, Ph.D., yang juga memberikan kata sambutan. Sementara itu acara dipandu oleh Carolus Pedro Ngiso Tokan.

Sesi diskusi panel yang dipandu oleh Christina Kristiyani, M.Pd., Ph.D., menghadirkan tiga narasumber lintas disiplin seperti: Rm. Dr. Johanes Haryatmoko, SJ, Prof. Iwan Pranoto, M.Sc., Ph.D., dan Drs. Johanes Eka Priyatma, Ph.D. sungguh menyedot perhatian peserta. Ketiga narasumber membedah bagaimana kehadiran teknologi cerdas mulai mengikis monopoli pengetahuan yang selama ini dipegang oleh perguruan tinggi. Universitas kini dituntut tidak lagi sekadar mendistribusikan informasi, melainkan mengasah daya kritis mahasiswa dalam memilah serta menyaring informasi secara bijak.

Suasana seminar nasional yang diselenggarakan USD bertema: Tradisi Pendidikan Tinggi dan Disrupsi AI. (Dok. USD).

Dalam panel disksusi “Masa Depan Universitas di Era AI”, Rm. Haryatmoko, SJ. menyoroti pergeseran peran mendasar perguruan tinggi dari penyedia informasi menjadi pembentuk penilaian kritis.

“Universitas masa depan bukan pusat jawaban tetapi menjadi pusat pertanyaan,” kata Dr. Haryatmoko, SJ sekaligus menambahkan bahwa posisi teknologi harus tetap diposisikan sebagai sarana pendukung semata.

Sementara itu, Prof. Iwan Pranoto, M.Sc., Ph.D. melalui materi bertajuk “Perguruan Tinggi Bersumber pada Cinta ke Sesama” hadir semakin memperkuat perspektif humanistik. A akademisi asal Institut Teknologi Bandung ini menekankan bahwa penguasaan teknologi jangan sampai merenggut nilai kepedulian terhadap sesama.

“Dasar utama dari seluruh proses pendidikan tinggi adalah nilai kemanusiaan yang konkrit, ” urai Prof. Iwan Pranoto, M.Sc., Ph.D. secara tajam.

suasana seminar nasional secara hibrida yang diselenggarakan Universitas Sanata Dharma bertema : Tradisi Pendidikan Tinggi dan Disrupsi AI. (Dok. USD).

Melengkapi perdebatan akademis, Drs. Johanes Eka Priyatma, Ph.D. menguraikan aspek filosofis teknologi melalui topik “Menggagas Ulang Perguruan Tinggi di Era AI”.  Mantan Rektor USD ini menjelaskan bahwa AI tidak hanya untuk berhubungan dengan dunia, tetapi ikut membentuk manusia mengalami, memahami, menilai, dan bertindak di dunia.

“AI tidak hanya untuk berhubungan dengan dunia, tapi ikut membentuk bagaimana kita mengalami, memahami, menilai, dan bertindak di dunia. AI tidak hanya membantu belajar, AI juga mengubah makna belajar,” jelas Drs. Johanes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D.

Diskusi panel secara daring ini juga diisi dengan sesi tanya jawab yang interaktif. Dan tak kalah menariknya peserta juga diajak  untuk mengikuti diskusi yang terbagi dalam ruang beberapa Breakout Room untuk mengikuti Simposium Riset dan Sesi Paralel.

Penyelenggaraan Seminar Tradisi Pendidikan Tinggi dan Disrupsi AI ini adalah langkah nyata USD dalam menyikapi era digitalisasi tanpa kehilangan jati diri. Langkah inovatif ini menegaskan komitmen USD dalam mencetak generasi muda yang cerdas secara intelektual sekaligus tetap humanis dalam menjaga harkat serta martabat manusia di tengah kemajuan teknologi.

Humas Universitas Sanata Dharma

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *