Citra Era Vazira, mahasiswi Sekolah Tinggi Teologi (STT) KADESI Yogyakarta, rutin melayani di gereja melalui tarian tamborine. Setiap Minggu ia berlatih dan tampil dengan satu tujuan sederhana, yaitu menyenangkan hati Tuhan sebagai wujud pelayanan sekaligus ucapan syukur.
Citra mengaku, tarian tamborine bukan sekadar kegiatan pengisi waktu luang. Baginya, setiap gerakan yang ia bawakan adalah doa yang diungkapkan lewat tubuh. Karena itu, ia selalu menyempatkan diri untuk hadir dalam latihan, meskipun harus membagi waktu dengan kesibukan kuliah dan kegiatan lainnya.
“Motivasi saya menari tamborine hanyalah untuk menyenangkan hati Tuhan. Ini bentuk pelayanan dan ucapan syukur saya kepada-Nya,” ungkap Citra.
Citra mulai belajar menari sejak duduk di kelas 2 SMK. Ia tertarik menekuni dunia tari karena menyukai keindahan gerak tubuh. Dari ketertarikan itu, ia kemudian mencoba tari tamborine yang kini menjadi bagian dari pelayanannya di gereja.
Latihan tari tamborine berlangsung setiap hari Minggu. Jadwal yang teratur ini membuat Citra terbiasa berlatih secara konsisten. Latihan rutin ini juga menjadi sarana untuk bertumbuh bersama rekan-rekan pelayan lainnya.
Pada awal mengikuti pembelajaran tari tamborine, Citra sempat diliputi keraguan. Ia merasa gerakan tubuhnya kurang lentik dibandingkan penari lain. Perasaan kurang percaya diri itu sempat membuatnya ragu apakah ia mampu tampil dengan baik di hadapan jemaat. “Tapi saya terus berusaha belajar dan ingin membuktikan kepada diri sendiri bahwa saya bisa,” tuturnya.
Rasa tidak percaya diri, menurut Citra, memang sering muncul. Tantangan lain yang Ia hadapi adalah sulitnya menjaga konsistensi dan terbatasnya waktu untuk berlatih. Untuk mengatasinya, ia memilih mengambil setiap kesempatan tampil yang diberikan dalam pelayanan di gereja. Dari situ, pengalaman tampil perlahan-lahan menumbuhkan keberaniannya.
Menurut Citra, menari tamborine membawa manfaat yang besar bagi dirinya. Selain melatih kepercayaan diri, tarian ini juga menjadi cara untuk mengungkapkan perasaan yang sulit dikatakan. Perasaan itu ia arahkan sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan.
Di masa depan, Citra belum memiliki rencana khusus untuk melatih generasi muda. Menurutnya, menari tamborine saat ini ia jalani sebagai bagian dari mengisi masa muda dengan hal yang bermakna. Namun, ia tidak menutup kemungkinan untuk membimbing adik-adik yang lebih muda apabila ada hal tertentu yang mendorongnya melakukan itu.
Kisah Citra ini menjadi bukti nyata pelayanan dapat dilakukan melalui berbagai cara, termasuk lewat seni tari. Dengan ketekunan dan hati yang tulus, seorang mahasiswa dapat tetap bertumbuh dalam kepercayaan diri sekaligus memuliakan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
Joesephine Manika Risa Saputri







