Dari Keluarga: Bagi Gereja dan Negara

Pembinaan Keluarga Katolik yang Berwawasan Moderasi Beragama

News1692 Views

Sleman. Delapan puluh pria dan wanita dari Gereja Santo Alfonsus de Liguori Nandan dan Gereja Keluarga Kudus Banteng mengikuti Pembinaan Keluarga Katolik yang Berwawasan Moderasi Beragama. Program kegiatan Penyelenggara Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sleman ini dilaksanakan di Java Village, Pandowoharjo, Sleman pada Sabtu, 20 Mei 2023.

Sr. Agnes Samosir, FCJ, Rm. Paulus Erwin Sasmita, Pr, Markus Mardius, dan Theresia Endang Purwoastuti yang tergabung dalam Tim Sarasvita berkenan menjadi fasilitator pembinaan bagi para pasutri.

CB. Ismulyadi, Penyelenggara Bimas Katolik Kantor Kemenag Kab. Sleman mengucapkan terima kasih atas kehadiran peserta dari Gereja Santo Alfonsus de Liguori Nandan dan Gereja Keluarga Kudus Banteng.

CB. Ismulyadi menyatakan, “Pembinaan Keluarga Katolik yang Berwawasan Moderasi Beragama ini merupakan angkatan kedua. Sebelumnya, pada 13 Mei 2023, kami juga mengadakan kegiatan yang sama dan bersama dengan para pasangan suami istri dari Gereja Santo Yoseph Medari.”

CB. Ismulyadi menyampaikan sambutan dan membuka acara kegiatan.

Lebih lanjut, CB. Ismulyadi menyampaikan, “Moderasi Beragama menjadi program prioritas Kementerian Agama Republik Indonesia. Pemaknaan tentang Moderasi Beragama tidak hanya dalam konteks berbangsa dan bernegara tetapi juga melalui pendidikan nilai dalam keluarga, secara khusus bagi pasangan suami istri.”

Ia berharap, melalui kegiatan ini keluarga semakin mendapatkan ruang untuk melakukan refleksi terkait relasi antarpribadi, baik dalam komunikasi personal maupun iman. Keluarga juga semakin memahami peran di tengah-tengah keberagaman bermasyarakat dan berbangsa. Keluarga, sesuai peran dan posisi dalam struktur masyarakat dan bangsa, semakin mampu menerapkannya dalam kehidupan menggereja, bermasyarakat, dan berbangsa.

Pada awal pembinaan, melalui pengantar, Sr. Agnes Samosir, FCJ mengajak pasangan suami istri untuk merefleksikan pengalaman hidup dalam keluarga. “Konflik lahir secara alamiah. Perbedaan pandangan hidup, iman, pola pikir dan perilaku adalah bagian dari pengalaman hidup kita sebagai manusia,” tutur Sr. Agnes.

Konflik itu wajar, sebut Sr. Agnes. Manusia melihat dunia masing-masing melalui kacamata masing-masing sehingga diantisipasikan ada saat-saat ketika cara melihat dunia itu tidak cocok.

Konflik itu muncul dalam keluarga, kelompok atau masyarakat, ada dua pandangan yang dapat diambil. Pertama, melihat konflik itu sebagai keadaan yang menyusahkan bahkan menakutkan, membuat rapuh dan menderita sehingga orang mengambil kesempatan untuk menghakimi, mempermalukan, atau menyalahkan. Kedua, melihatnya sebagai kesempatan belajar, bertumbuh, membangun relasi yang lebih sejati dan harmonis.

Sr. Agnes Samosir, FCJ mengajak para peserta untuk membagikan pengalaman dalam keluarga.

Lebih lanjut, sebagai permenungan awal, para peserta diajak mendalami pertanyaan untuk merefleksikan pengalaman paling indah dalam hidup bersama pasangan yang berbeda dan tantangannya.

Dalam proses berbagi pengalaman, Martinus Purwanto, mewakili kelompok dan peserta, menyampaikan, “Perbedaan itu kodrat. Melalui perbedaan, kita dapat belajar mengerti dan melengkapi pasangan, serta mengetahui cara menghadapi permasalahan dan solusinya. Setiap konflik pasti ada jalan keluarnya. Kita perlu menerobos dan bersikap rendah hati. Ibarat lukisan, konflik menjadi sesuatu yang menarik dalam perbedaan.”

Rm. Erwin Sasmita, Pr dan Markus Mardius secara kolaboratif menyampaikan materi tentang perbedaan, relasi, dan komunikasi. Pada awal materi, Rm. Erwin mengajak peserta untuk mengenal sekilas tentang tipe-tipe kepribadian menurut beberapa kategori, antara lain Tipe A – Tipe B, ekstover – introver, Sanguinis – Koleris – Plegmatis – Melankolis, Enneagram Personality, dan Myers Brigg Type Interpersonality (MBTI).

Melalui tes dengan menggunakan metode MBTI, peserta semakin menyadari 16 ciri-ciri kepribadian yang membuat seseorang begitu berbeda dengan orang lain.

“Beberapa orang lebih terbuka daripada yang lain, sementara beberapa orang lebih pendiam. Beberapa orang merasa nyaman untuk tetap berada di belakang layar. Beberapa orang lebih analitis atau lebih kreatif, sementara yang lain lebih menyenangi kestabilan. Apa yang membuat setiap orang unik adalah kombinasi dari ciri-ciri kepribadian mereka,” tutur Pastor Erwin.

Menurut Mardius, “Kunci komunikasi adalah ketika kita memahami kepribadian kita. Kita perlu menempatkan diri ketika berelasi dengan orang lain dan atau pasangan yang memiliki tipe kepribadian berbeda dengan diri kita.”

Theresia Endang Purwoastuti menegaskan seluruh materi melalui pengalaman praksis hidup bertetangga dan bermasyarakat, baik di tingkat RT, PKK, Yayasan kanker, dan kegiatan kemasyarakatan dan keberagaman.

“Saya aktif dalam kegiatan kemasyarakatan, terutama dalam PKK. Meski kadang tidak selalu mulus dalam membangun relasi dengan berbagai pihak, saya selalu mengutamakan persaudaraan. Saya menjadi menjadi saudara bagi sesama,” jelas Theresia Endang Purwoastuti.

“Dengan cara seperti itu, maka jalinan saya dengan sesama menjadi lebih cair dan terbuka,” tambah Theresia Endang Purwoastuti.

Beberapa peserta mengutarakan kesan-kesan selama mengikuti kegiatan pembinaan. Menurut Th. Sujiati atau Ramli Samosir, “Sebelum mengikuti kegiatan ini saya sempat browsing dan mencari tahu pemahaman tentang Moderasi Beragama. Saya mendapat kejutan ketika mengikuti pembinaan ini. Metode pembinaan ini jitu. Saya tidak hanya datang, duduk, dan mendengarkan secara definisi dan teori. Saya tidak bosan mengikuti acara ini. Saya merasa semakin bersyukur karena semakin mengenal diri dan pasangan saya.”

“Pada awalnya saya berpikir, apa kegiatan yang akan saya ikuti? Tetapi setelah berproses dalam mengikuti pembinaan ini, saya merasa kaget. Saya mendapat nilai tambah, terutama dalam mengenal diri sendiri dan relasi dengan pasangan,” ungkap Darsono.

Pembinaan Keluarga Katolik yang Berwawasan Moderasi Beragama diakhiri dengan suatu ritual. Peserta, baik para pasangan suami istri maupun yang single, diundang untuk mempersembahkan bunga mawar dan bendera Merah Putih. Keduanya menandakan semangat untuk membawa damai bagi dan dalam keluarga serta kemasyarakatan dan kebangsaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *