Bijaksana dalam Bertindak untuk Menyelamatkan Bumi

Pelita482 Views

Akhir-akhir ini kita telah mendengar berita terkait polusi udara di Jakarta yang melewati kadar normal. Data dari Iqair.com (31/8/2023) menunjukan bahwa Jakarta, Indonesia menempati peringkat pertama kota besar berpolusi, yaitu 175 AQI US, yang menunjukan indikator tidak sehat.

Peristiwa ini sungguh memberi dampak bagi semua masyarakat yang tinggal di daerah tersebut. Hal ini menjadi tantangan baru terkait masalah ekologi bangsa Indonesia. Melalui kasus tersebut, kita diajak untuk melihat kembali lingkungan di sekitar kita dan merefleksikannya.

Dengan merefleksikan kasus krisis ekologi, kita bisa semakin bijaksana dalam bertindak untuk ikut menyelamatkan bumi ini. Dengan demikian, bumi kita akan menjadi tempat yang aman, nyaman, dan beradab bagi keberlangsungan hidup seluruh makhluk hidup.

 Masalah ekologi tidak pernah selesai dibahas hingga saat ini. Tampaknya masalah itu sangatlah sederhana, tetapi pada kenyataanya faktor penyebab dan akibat dari krisis ekologi timbul dari faktor yang sangat rumit atau multidimensi (banyak faktor). Maka, sudah sepantasnya sebagai manusia kita ikut merawat bumi ini demi keberlangsungan hidup seluruh penghuninya.

Melihat keprihatinan tersebut, Paus Fransiskus pada tahun 2015 telah mengeluarkan ensiklik Laudato Si’ yang mengajak kita untuk lebih peduli lagi terhadap lingkungan di sekitar kita.

Masalah-masalah Ekologi kerap kali terjadi akibat keserakahan manusia yang ingin menguasai alam yang ada di sekitarnya. Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) dalam Kompas.com (26/11/2022) mengabarkan terjadinya pertambangan batu bara secara ilegal masih sering terjadi.

Contoh kasus tersebut merupakan salah satu bentuk keegoistisan manusia. Akibat bencana yang akan terjadi tidak hanya ditanggung oleh pelaku, tetapi seluruh makhluk hidup yang ada di sekitar daerah tersebut.

Hal tersebut dapat menimbulkan krisis yang parah dari sebelumnya. Jika kita mengabaikan apa yang terjadi pada bumi saat ini, khususnya di Indonesia, tentu kita bisa memprediksi apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.

Mengutip dari data Sistem Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLKHK), Indonesia menghasilkan 19,45 juta ton timbunan sampah sepanjang 2022 dan mayoritas atau sekitar 39,63% di antaranya berasal dari limbah rumah tangga.

Salah satu dampak dari tumpukan sampah yang sangat besar adalah ledakan dan kebakaran di TPA Sarimukti Bandung (Kompas.com (25/8/2023)). Dampak dari kebakaran ini tentu dirasakan oleh orang-orang disekitarnya, bahkan orang yang tidak “berpartisipasi” sekali pun.

Melihat beberapa masalah ekologi tersebut, Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si’ art. No. 202 menegaskan kembali bahwa “kesadaran asal kita bersama, akan hal saling memiliki, dan akan suatu masa depan untuk dibagi dengan semua”.

Kita semua diajak untuk kembali membangun kesadaran bahwa bumi ini merupakan tempat tinggal seluruh makhluk hidup. Maka, kita perlu melatih kesadaran tersebut, salah satunya dengan berefleksi.

Dengan demikian, kita tidak menjadi egoistis seperti yang dijelaskan dalam ensiklik tersebut (art. No. 204). Dalam art. No. 204 ditegaskan bahwa ketika orang menjadi terpusat pada dirinya dan menutup diri dalam dirinya sendiri, keserakahan itu akan semakin meningkat.

Ketika kita melakukan proses refleksi, berarti kita sudah mau menyadari keberadaan kita dan hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan bumi ini. Dalam berefleksi kita juga diajak untuk membangun niat-niat konkret, dan yang tidak boleh dilupakan untuk mewujudkan niat tersebut dalam tindakan nyata.

Selain itu perlu disadari juga bahwa untuk mengatasi masalah-masalah ekologis tersebut, kita tidak dapat bergerak secara individual, hal ini juga ditegaskan dalam art. No. 219. Dalam art. No. 220 dijelaskan bahwa pertobatan menyiratkan berbagai sikap yang bersama-sama menumbuhkan semangat perlindungan yang murah hati dan penuh kelembutan.

Pertobatan ekologis dapat kita mulai dari hal-hal yang sederhana dan dari lingkup yang kecil pula, seperti di keluarga, sekolah, sampai pada masyarakat umum. Misalnya, di sekolah guru mengajak para murid melihat beberapa contoh permasalahan ekologis dan dampak-dampaknya untuk memberikan stimulus.

Kemudian, guru mengajak para murid merefleksikan (melihat dan merasakan) apa yang sedang dialami orang yang terkena dampaknya. Lalu, guru dan para murid mencoba mencari solusi yang dapat dibuat, seperti guru mengajak para murid untuk menggunakan tempat nasi dan botol yang tidak sekali pakai. Dengan begitu akan membangun sebuah kebiasaan-kebiasaan baru yang baik, terutama dalam mengurangi limbah plastik ataupun kertas.

Ketika kita ikut serta dalam menyelamatkan bumi ini, kita juga membangun “rumah” yang beradab bagi seluruh makhluk hidup. Kita juga telah menyelamatkan banyak spesies dari kepunahan.

Dengan kita ikut berpartisipasi dalam merawat bumi, secara eksplisit kita telah bertanggung jawab kepada Allah yang telah memercayai bumi ini kepada manusia (Kej. 2:15). Pada akhirnya, seluruh makhluk hidup akan memuliakan Allah sang pencipta sebagai ungkapan rasa syukur yang paling mendalam.

Hendrikus Valentino Firya Febrian

Seminaris tahun keempat, SMA Seminari Mertoyudan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *