Bertindak demi Alam yang Makin Baik

Cermin597 Views

“Ketika pohon terakhir ditebang, ketika sungai terakhir dikosongkan, ketika ikan terakhir ditangkap, barulah manusia akan menyadari bahwa dia tidak dapat memakan uang.” (Eric Weiner)

Kata-kata Eric Weiner ini menyadarkan saya sebagai sebagai pribadi ketika hendak memulai tulisan ini, ketika suhu udara di Jakarta dan sekitarnya masih cukup memprihatikan.

Bumi makin panas, hujan tak kunjung turun, dan polusi udara bertebaran di mana-mana. Batuk, pilek, dan berbagai jenis penyakit lainnya datang silih berganti tanpa memilih siapa orang yang akan dihampirinya. 

Pohon terakhir yang kita harapkan untuk menghasilkan oksigen, kini tak mampu lagi membantu lebih banyak lagi. Pembangunan trotoar dan selokan mengharuskan pohon yang sedang tumbuh dengan rindangnya harus mengalah dan terempaskan. Persediaan air tanah pun makin menipis. Sampah bertebaran di mana-mana, bahkan ada yang tidak mau mengakui kalau lautnya kotor walaupun banyak buktinya.

Mengapa demikian?

Banyak jawaban yang mungkin akan muncul dan di antara jawaban tersebut sebagian besar mungkin menyalahkan orang lain di sekitar. 

Apakah kita berani menyalahkan diri sendiri? Atau, kita hanya sibuk mengumpat dan menghabiskan air yang tersisa? Atau, bahkan kita akan menebang pohon terakhir yang sudah membantu? Atau, kita akan terus menghasilkan sampah untuk menambah polusi udara?

Semuanya kembali kepada kita. Kita bebas memilih, karena Sang Pencipta telah memberikan akal budi untuk berpikir dan memilih dengan tepat. 

Kita, manusia, sangat bergantung pada lingkungan alam untuk kehidupan sehari-hari. Udara yang kita hirup, air yang kita minum, makanan yang kita konsumsi, semuanya berasal dari lingkungan alam.

Kita perlu menyadari ketergantungan ini dan menghargainya. Aksi nyata pribadi kita adalah langkah pertama menuju perubahan positif. Pertimbangkan apa yang dapat kita lakukan untuk mengurangi penggunaan sumber daya, mendukung energi terbarukan, mengurangi pemborosan, dan mendukung praktik berkelanjutan dalam hidup kita.

Hari ini, jika kita masih gerah dengan cuaca yang panas, sibuk mencari obat batuk pilek, panik akan kehabisan air, dan susah mendapatkan udara yang nyaman, cobalah berhenti sejenak. Mari, kita lihat kembali perjalanan panjang yang telah kita lalui. Mari berlutut, menarik napas panjang, pejamkan mata, dan bermenung. 

Banyak hal yang di dunia ini yang tak membutuhkan jawaban dan umpatan. Banyak hal yang hanya  membutuhkan aksi nyata dan keteladanan. 

Semua yang kita alami akan terjawab dalam kepedulian sebagai manusia. 

Untuk memperbaiki situasi ini, kita perlu mengambil langkah-langkah untuk melestarikan alam, seperti mengurangi emisi gas rumah kaca, mendukung praktik berkelanjutan dalam pertanian dan kehutanan, mengurangi limbah plastik dan limbah rumah tangga, serta meningkatkan kesadaran tentang pentingnya menjaga lingkungan.

Mari kita bertindak, baik sebagai individu maupun sebagai masyarakat secara keseluruhan, agar bisa menjadi bagian dari solusi untuk menjaga alam makin baik.

Uang yang kita dambakan tidak mungkin mengenyangkan perut. Uang tetaplah menjadi uang yang tak akan mampu membeli udara segar, hujan, pohon yang rindang, dan air yang segar. Kita harus lebih bijak agar kepentingan bersama lebih diutamakan dan kemanusiaan kita lebih bermakna.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *