Sebelumnya, saya minta izin untuk mengambil salah satu judul naskah Majalah UTUSAN edisi Desember 2024 sebagai judul tulisan ini, karena memang pas banget dengan yang saya alami.
Menurut saya, yang berprofesi sebagai penulis lepas, kebahagiaan atau kegembiraan seorang penulis adalah ketika tulisannya dimuat atau kalau sekarang zaman media online, tulisannya tayang.
Pada tahun 2024 ini, saya beberapa kali berinteraksi dengan Majalah UTUSAN. Berinteraksi, maksud saya, adalah dengan mengirimkan tulisan. Mungkin sekitar tiga atau empat tulisan. Memang baru sedikit, karena saya juga harus mengatur waktu antara menulis dan pekerjaan rumah tangga.
Setelah mengirimkan tulisan, yang saya lakukan adalah rajin mengecek e-mail, siapa tahu ada e-mail balasan dari redaksi. Apakah langsung berbalas? Tentu saja tidak. Biasanya jarak seminggu bahkan pernah lebih dari itu. Tentu saja saya memahami kesibukan mereka, tapi tidak berhenti berharap.
Saya terus berharap, agar e-mail berisi pengiriman naskah tersebut dibaca dan diberi jawaban. Karena hal itu menjadi patokan, naskah saya akan diterima atau ditolak. Kalau sudah ada jawaban, ibaratnya saya sudah nyicil rasa senang, kemudian tinggal menunggu tulisan tersebut dimuat.
Beberapa tulisan saya, sudah dimuat atau tayang di website UTUSAN.NET dan masih menyisakan beberapa naskah yang masih ada dalam daftar tunggu. Apa yang saya lakukan? Tentu saja tiap awal bulan, saya berharap ada paket kiriman berupa Majalah UTUSAN datang ke rumah.
Mengapa sampai seperti itu? Karena itu jadi bukti bahwa naskah saya dimuat.
Bulan April 2024, saya dapat kiriman Majalah UTUSAN. Puji Tuhan. Setelahnya, saya terus berharap. Barangkali ini terlihat lucu atau aneh bagi orang lain, masa cuma majalah saja sedemikian penting sampai ditunggu. Tapi, ini memang penting untuk saya. Buat saya, dengan dimuatnya tulisan itu menjadi bukti, penyemangat, dan semakin menguatkan bahwa memilih menjadi penulis lepas adalah pilihan yang tidak salah.
Waktu ada kunjungan Bapa Suci Paus Fransiskus ke Indonesia, Majalah UTUSAN mengadakan lomba menulis surat untuk Paus. Saya ikut berpartisipasi dengan ikut lomba, tapi belum terpilih.
Rencananya, surat yang terpilih akan dimuat di Majalah UTUSAN edisi September 2024. Saat itu, saya berharap agar ada tulisan saya yang masuk seleksi untuk dimuat di edisi September. Pastilah ada kebanggaan jika tulisannya bisa dibaca Bapa Suci.
Namun, Tuhan belum mengabulkan doa saya. Pada bulan September tidak ada kiriman paket Majalah UTUSAN. Apakah saya putus asa? Tentu saja tidak. Tahun ini masih ada bulan Oktober sampai Desember. Masih ada tiga bulan. Saya masih berharap.
Oktober, November berjalan dan akhirnya berakhir. Desember kemudian datang. Pas awal bulan saya bilang kepada Tuhan, saya bilang begini, “Tuhan, jika Engkau berkenan, saya ingin Desember ini ada naskah saya yang dimuat, entah itu di majalah atau di website-nya.”
Awal minggu berlalu tanpa adanya kiriman paket majalah. Biasanya, Majalah UTUSAN mengirimkan paket majalah sebagai bukti terbit itu pada awal bulan, antara tanggal 1-7. Saya sudah tidak berharap lagi Desember akan ada paket. Barangkali nanti Januari atau entah kapan.
Ketika saya sudah tidak memikirkannya lagi, seorang kurir datang di suatu siang, mengirimkan sebuah paket untuk saya, yang ternyata adalah Majalah UTUSAN edisi Desember 2024. Tentu saja saya sangat senang. Tidak menyangka akan mendapatkan kejutan ini.
Terima kasih, Tuhan. Terima kasih, Majalah UTUSAN. Majalah yang datang pada masa adven menjadi jawaban saya untuk penantian ini. Memang harus sabar dalam proses menanti dan tidak berhenti untuk terus berharap.
Waktu Tuhan memang tidak sama dengan waktu yang kita inginkan. Tapi, saya percaya Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik. Terima kasih untuk hadiah Natal berupa Majalah UTUSAN.








