Berpasrah kepada Tuhan, Refleksi Perayaan Ekaristi Malam Satu Suro Paroki Kristus Raja Baciro

News514 Views

Yogyakarta. Lantunan gamelan Jawa mengalun memenuhi ruang Gereja Kristus Raja Baciro, Yogyakarta, pada Senin malam, 15 Juni 2026. Lebih dari 200 umat berada di dalam gereja untuk mengikuti Pahargyan Ekaristi Malem Setunggal Suro, perayaan Ekaristi dalam rangka memperingati malam satu Suro menurut kalender Jawa.

Acara diawali dengan doa Rosario pada pukul 18.00, dilanjutkan dengan Misa pada pukul 18.30. Selain dihadiri langsung di gereja, Perayaan Ekaristi ini juga disiarkan secara daring melalui kanal YouTube Crembo Media sehingga dapat diikuti oleh umat yang berada di luar Baciro atau mereka yang tidak dapat hadir langsung di gereja.

Misa dipimpin secara konselebrasi oleh tiga imam, yaitu Rm. Andreas Novian Ardi Prihatmoko, Pr (Pastor Paroki Baciro) sebagai selebran utama, didampingi Rm. Antonius Wahadi Martoadmojo, Pr dan Rm. Albertus Hesta Hana Wijayanto, Pr.

Seluruh tata perayaan, mulai dari doa hingga nyanyian, disampaikan dalam Bahasa Jawa, diiringi dengan lantunan gamelan yang dimainkan oleh anggota Orang Muda Katolik (OMK) Gereja Baciro.

Pemilihan bahasa dan iringan musik ini menegaskan bahwa perayaan liturgi malam satu Suro bukan sekadar Misa berbahasa daerah, melainkan upaya menghadirkan dan melibatkan iman Katolik dalam kehidupan budaya Jawa yang akrab dengan keseharian umat Jawa, khususnya di Paroki Baciro ini.

Nuansa inkulturasi dalam Perayaan Ekaristi ini tampak kuat sejak perarakan masuk. Enam penari putri dari Tim Pelayanan Seni dan Budaya Gereja Baciro mengenakan kain dan kebaya tampil menari di depan barisan petugas liturgi dan para romo, mengantarkan mereka memasuki gereja.

Tarian serupa juga mengiringi prosesi penghantaran persembahan ke altar, menjadikan tubuh dan gerak sebagai bagian dari doa. Paduan suara malam itu diisi oleh umat Paroki Baciro lintas generasi, baik muda maupun senior. Dekorasi altar pun menunjukkan kekentalan nuansa Jawa, dengan janur yang membentang di sekitar area altar dan panti imam, menambah kekhidmatan sekaligus kekhasan visual perayaan.

Homili romo menjadi salah satu hal menarik dalam perayaan ini. Rm. Aan, sapaan akrab Rm. Andreas Novian Ardi Prihatmoko, Pr, melantunkan penggalan lagu berjudul Sugih Tanpa Bandha, lagu yang populer dibawakan budayawan Sujiwo Tejo.

Lebih lanjut disampaikan Rm. Aan, lagu ini terinspirasi dari pemikiran Raden Mas Panji Sosrokartono, kakak dari Raden Ajeng Kartini. “Secara garis besar, baik lagu Sugih Tanpa Banda maupun pemikiran R. M. Panji Sosrokartono berbicara tentang falsafah Jawa bahwa dalam hidup ini kekayaan sejati sejatinya tidak diukur semata dari harta benda, kekuatan yang tidak bersandar pada kuasa atau pusaka, serta sikap menerima dan berserah tanpa pamrih maupun rasa takut,” tutur Rm. Aan.

Dalam tradisi Jawa, malam satu Suro dipandang sebagai momen untuk refleksi, introspeksi diri, dan menjadi pergantian babak kehidupan menuju tahun yang baru (tahun baru Jawa). Sesuai dengan refleksi bacaan Injil yang dibacakan pada perayaan ini, Rm. Aan menegaskan bahwa malam satu Suro bisa menjadi momen untuk introspeksi diri.

“Kita sebagai umat Katolik selalu mengandalkan dan berpasrah pada Tuhan dalam segala situasi kehidupan. Sudah sepatutnya kita masyarakat Jawa yang beriman akan Yesus Kristus selalu meneladan ajaran cinta kasih-Nya, sebagaimana ajaran ini juga tertanam dalam falsafah Jawa,” pungkas Rm. Aan.

Maria Satya Rani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *