Di tengah tantangan zaman yang terus berubah, sekolah tidak hanya dituntut menghasilkan siswa yang cerdas secara akademik, tetapi juga pribadi-pribadi yang mampu menjadi agen perubahan bagi lingkungan sekitarnya.
Semangat inilah yang menjadi dasar penyelenggaraan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) OSIS SMP Maria Immaculata Marsudirini Yogyakarta pada Rabu, 17 Juni 2026, dengan mengusung tema “Pemimpin Penggerak Perubahan.”
Kegiatan ini terselenggara melalui kolaborasi dengan SMA Kolese De Britto Yogyakarta sebagai bentuk nyata komitmen untuk terus berbagi praktik baik kepada lembaga pendidikan lain. Program ini sekaligus menjadi tindak lanjut semangat Sinode Pendidikan Keuskupan Agung Semarang (KAS) yang mendorong lahirnya jejaring pendidikan yang saling belajar, bertumbuh, dan menguatkan.
Selain itu, kegiatan ini juga menjadi bagian dari implementasi Program 3B SMA Kolese De Britto, yaitu Berkolaborasi, Berkontribusi, dan Berprestasi.
Dalam pelaksanaannya, para peserta didampingi oleh staf pendidik SMA Kolese De Britto, yaitu Johanes de Britto Jorgi Prakosa Sonda, S.S., M.A. dan Christophorus Danang Wahyu Prasetio, S.Or., M.M.
Turut hadir pula dua siswa kelas X SMA Kolese De Britto yang merupakan alumni SMP Maria Immaculata Marsudirini, Narayana Narendra Hutama dan Michael Natan Setia Karuna, yang berbagi pengalaman mengenai proses pertumbuhan sejak di bangku SMP hingga kini menjadi siswa De Britto.

Kepala SMP Maria Immaculata Marsudirini Yogyakarta, Y. Sigit Prasetyo, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa pengurus OSIS bukan sekadar pelaksana program kerja sekolah, melainkan pribadi-pribadi muda yang dipanggil untuk menjadi pemimpin penggerak perubahan.
Menurutnya, perubahan tidak selalu dimulai dari tindakan besar, tetapi dari kebiasaan baik yang dilakukan secara konsisten, keberanian menjadi teladan, dan kesediaan memberikan pengaruh positif bagi lingkungan sekitar.
“Kepemimpinan bukan hanya tentang kemampuan mengatur orang lain, tetapi tentang kemampuan memimpin diri sendiri, melayani sesama, dan berani mengambil inisiatif demi kebaikan bersama,” ungkapnya.
Melalui Mengenal Diri, peserta membangun identitas kelompok, menuliskan disposisi batin, serta belajar dari berbagai tokoh inspiratif yang sudah dikerjakan sebelum pelaksaan LDK.
Disposisi batin ini, membantu peserta memahami bahwa perubahan besar selalu berawal dari kesadaran diri. Peserta diajak mengenali kekuatan, kelemahan, nilai hidup, serta kebiasaan yang membentuk karakter.
Selama kegiatan berlangsung, para peserta diajak menyadari bahwa seorang pemimpin tidak dilahirkan secara instan. Kepemimpinan dibentuk melalui proses belajar, refleksi, pengalaman, dan keberanian untuk terus bertumbuh. Karena itu, memasuki berbagai dinamika kegiatan, peserta terlebih dahulu diajak merefleksikan pengalaman hidup dan perjalanan berorganisasi yang telah dijalani selama ini.
Pendalaman nilai kemudian dilakukan melalui sesi Input nilai (value), yakni peserta mewawancarai para guru mengenai nilai-nilai kepemimpinan sesuai nama kelompok masing-masing. Hasil refleksi tersebut diolah menjadi naskah teater mini yang menggambarkan berbagai persoalan dan tantangan yang dekat dengan kehidupan remaja saat ini.
Kreativitas dan kemampuan bekerja sama semakin terlihat dalam sesi Performance, ketika setiap kelompok menampilkan teater mini yang sarat pesan moral. Sementara itu, pada sesi Public Speaking, peserta dilatih untuk berani menyampaikan gagasan melalui sharing kelompok dan orasi.

Para peserta belajar bahwa suara seorang pemimpin digunakan bukan untuk mendominasi, melainkan untuk menggerakkan, menginspirasi, dan menghadirkan harapan.
Melalui sesi Pengikat Makna, peserta memperoleh peneguhan dari para fasilitator dan alumni mengenai pentingnya kepemimpinan yang berakar pada keteladanan. Nilai-nilai dari buku Heroic Leadership seperti kesadaran diri, kreativitas, kepedulian, dan semangat kepahlawanan menjadi fondasi utama yang diperkenalkan kepada peserta.
Lebih dari sekadar pelatihan organisasi, LDK ini menjadi ruang pembentukan karakter yang mengajak peserta bertanya pada dirinya sendiri, perubahan apa yang ingin dimulai hari ini? Bagaimana menjadi teladan di rumah, sekolah, dan masyarakat?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mengantar pada kesadaran bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang berani mengubah dirinya terlebih dahulu.
Pada akhirnya, kegiatan ini menegaskan bahwa perubahan besar tidak selalu lahir dari langkah yang spektakuler. Sebaliknya, perubahan dimulai dari tindakan-tindakan kecil yang dilakukan dengan kesadaran, ketekunan, dan keteladanan. Sebab, pemimpin penggerak perubahan adalah mereka yang terlebih dahulu mampu menjadi perubahan itu sendiri.
Chr. Danang Wahyu Prasetio, S.Or., M.M. Humas & Jejaring SMA Kolese De Britto Yogyakarta








