Bermain Gamelan untuk Tuhan

Pelita1046 Views

Generasi muda ikut dilibatkan dalam wujud kepedulian terhadap budaya lokal. Nilai positif dari sikap ini tentu akan menghasilkan sebuah kontribusi bagi kesenian ke depan dan berprospek tetap hidup. Perwujudan ini tampak dalam Festival Gamelan Pugeran dalam rangka hari jadi Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus Pugeran ke-90 yang dilaksanakan pada Minggu, 16 Juni 2024 di Gereja Salib Suci Gunung Sempu, Kasihan, Bantul, D.I. Yogyakarta.

Pemberian ruang kepada generasi muda sebagai laboratorium dan jendela budaya pantas diapresiasi sebagai wujud mengenalkan budaya bagi generasi muda zaman sekarang. Seni karawitan sebagai bahasa universal mampu memvisualkan dan memberikan kontribusi positif dengan menggemakan sebuah nilai-nilai kebaikan dan kebajikan dengan cara indah dan menyentuh hati kepada Tuhan.

Alasan tersebut dapat diartikan untuk mengukuhkan rasa persatuan dan kesatuan, serta membangkitkan semangat kebersamaan melalui permainan gamelan dengan kornya. Pementasan ini juga wujud rasa bangga bahwa kita masih memiliki aset warisan budaya bernilai luhur bagi Gereja yang berakar dalam masyarakat Jawa untuk dilestarikan.

Semangat kebersamaan melalui permainan gamelan dengan kornya.

Ajaran hidup manusia

Secara umum, unsur filosofi gamelan dalam pementasan ini sebenarnya mengisyaratkan akan ajaran kehidupan ideal seseorang. Dari kelembutan, kerja sama, tidak saling menojolkan diri. Ada kebersamaan, kekompakan, saling tenggang rasa, mengisi antara satu dengan yang lainnya demi padunya suara gamelan atau mengutamakan angon rasa sehingga yang mendengar merasa nyaman, dan memperkuat identitas diri atau jati diri. Sebab, bukan rahasia lagi, wujud dari festival gamelan kali ini sebenarnya di dalamnya terdapat ajaran-ajaran pendidikan budi pekerti yang luhur untuk hidup manusia (Sukatmi Susantina: 2001).

Sebagai wujud alih budaya, nantinya peran generasi muda sangat dibutuhkan. Selain mempunyai rasa bangga wujud rasa handarbeni budaya, termasuk gamelan memang harus digelorakan dalam hati kehidupan nyata. Saatnya kini generasi Z mempunyai mindset (pandangan) semangat tinggi dan berpikir kritis, menyikapi aneka budaya yang kini hadir. Estafet kesenian ke depan bagi Gereja adalah tugas dan tanggung jawab generasi muda.

Kreator gending berbakat

Kesungguhan ini rupanya direspons baik oleh kreator muda karawitan dari SD Kanisius Kembaran berbakat yang berhasil memukau penonton dengan menyajikan pentas cukup apik. Juga penampil kedua yang dipersembahkan oleh Lingkungan Padokan dengan ciri berbeda dalam dengan garapan Gending gaya Jawa Barat, dengan tampilan paduan kor yang kocak dan dikreasi dengan gerakan.

Mereka berhasil menyita perhatian penonton untuk tetap bergeming dari tempat duduknya. Penampilan mereka menunjukkan bakat di atas rata-rata bagi kalangan generasi Z. Bahkan, dalam penggarapannya banyak kejutan, bahkan dapat dikatakan aneh, tetapi menggoda untuk mengetahui kelanjutannya. Sebab, bentuknya berbeda dengan sajian karawitan pada umumnya. Meski demikian, terasa apik untuk dinikmati.

Menurut saya, alangkah elok bila pertunjukan ini dapat dikembangkan karena daya dukung dari umat yang cukup memadai sehingga pemberian ruang bagi remaja dapat makin menarik minat remaja untuk terlibat nantinya. Agenda acara seperti ini dapat digelar tidak hanya pada momentum hari jadi paroki saja, tetapi diagendakan dengan praktik mingguan untuk mengiring di gereja. Harapannya, gending/lagu Gereja agar tidak mandek atau putus dalam regenerasi berikutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *