Berjalan Bersama Melewati Berbagai Zaman

55 Tahun Perjalanan Gereja St. Yusup Padokan

News1000 Views

Bantul. Umat Gereja St. Yusup Padokan (GSYP), Paroki Hati Kudus Yesus Pugeran merayakan 55 tahun perjalanan Gereja pada Kamis, 11 Juni 2026 dengan tema “Prasaja Kebak ing Kabungahan lan Daya Pangaribawa” dengan simbol BIS (Bahagia, Inspiratif, dan Sejahtera).

Perayaan Ekaristi Syukur Konselebrasi dipimpin Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr (Vikep Kategorial Keuskupan Agung Semarang/KAS) bersama para imam konselebran Rm. F.X. Sukendar WS, Pr (Pastor Kepala Paroki Hati Kudus Yesus Pugeran), Rm. Antonius Invarien Alpha Andriyanto, Pr, Rm. Stefanus Arief Gunawan, Pr, dan Rm. Cassianus Teguh Budiarto, Pr.

Rm. Kendar melihat perjalanan 55 tahun Gereja St. Yusup Padokan sebagai buah dari kesetiaan banyak orang yang selama puluhan tahun menjaga kehidupan iman umat.

Menurutnya, Gereja ini bertumbuh bukan karena karya satu atau dua orang, melainkan karena kesetiaan banyak umat yang dari generasi ke generasi terus menjaga kehidupan iman, membangun kebersamaan, dan melayani dengan tulus.

“Di balik perjalanan panjang ini ada begitu banyak kisah sukacita, pengorbanan, kebanggaan, kekecewaan, ketegangan-ketegangan, dan pergulatan batin yang mungkin tidak tercatat, tetapi justru menjadi fondasi bagi kehidupan Gereja hingga hari ini,” tutur Rm. Kendar.

Ia pun menegaskan, perayaan 55 tahun ini bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi yang lebih penting bagaimana umat Padokan menyiapkan masa depan. Keterlibatan berbagai tim pelayanan, anak-anak, orang muda, keluarga, hingga para sepuh (adiyuswa) menunjukkan bahwa kehidupan Gereja terus bergerak dan mengalami regenerasi.

“Inilah harapan Gereja, yakni iman yang diwariskan, pelayanan yang diteruskan, dan kebersamaan yang tetap hidup,” tandasnya.

Dalam homili, Rm. Santo sebagai salah satu putra Padokan yang terpanggil sebagai imam, memandang umat Gereja ini sebagai pribadi prasaja atau sederhana. “Memang, kita mengikuti zaman, tapi selama 55 tahun ya begini-begini saja, karena pada dasarnya kita ini orang prasaja,” bukanya.

Hati Kudus Yesus yang juga dirayakan pada kesempatan ini, imbuh Rm. Santo, juga prasaja, tidak neka-neka, tulus mengasihi, serta lemah lembut dan rendah hati. “Untuk itu kita bercermin pada orang yang lemah lembut dan rendah hati, yaitu St. Yusuf,” sebut Rm. Santo.

Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. Anak-anak muda kalau berkumpul di lingkungan pasti kreatif.

St. Yusuf sungguh-sungguh sunyi, sepi, di Kitab Suci tidak bicara apa-apa dan hanya sedikit disebut. “Tukang kayu dari Nazaret yang tidak dikenal dan terkenal, tapi memikul tanggung jawab yang besar, melindungi Maria dan Yesus. Dia tidak cari panggung, ngeloni Gusti Yesus terus selfie. Dia tidak sombong, taat pada kehendak Allah dalam mimpinya, dan menjaga keluarga Nazaret” tegas Rm. Santo.

Ia mengenang 55 tahun lalu umat Padokan ini juga dimulai dengan kesederhanaan sebagaimana St. Yusuf. Kala itu, apabila Misa berlangsung, umat duduk lesehan di tikar, termasuk para petugas liturgi. Bangunan kapel pun seadanya. “Dana juga pas-pasan. Pas butuh, pas ada,” lontar Rm. Santo yang terkenal humoris ini.

Namun, dari kesederhanaan ini Tuhan membangun sesuatu. Benih-benih panggilan tumbuh dari Gereja ini dengan adanya dua imam, dua bruder, dan lima suster. Selain Rm. Santo, ada Rm. Cassianus Teguh Budiarto, Pr sebagai imam Keuskupan Purwokerto. Salah satu suster turut hadir dalam perayaan ini, yaitu Sr. Maria Asumpta Sumarnaeni PBHK.

Rm. Santo lalu mengingatkan umat bahwa Yesus hadir dalam Ekaristi, doa lingkungan, hingga kerja bakti untuk Gereja. “Anak-anak muda juga datanglah di (kegiatan) lingkungan. Orang lingkungan kok isinya sepuh-sepuh semua. Sejak dulu itu. Saya juga emoh,” celetuk Rm. Santo disambut tawa umat.

Anak-anak muda, sambung Rm. Santo, kalau berkumpul di lingkungan pasti kreatif. “Boleh tidak sarasehan lingkungan itu nonton film? Boleh, lalu dimaknai bersama dengan sharing. Begitu pasti menarik. Bertemu Yesus dengan cara-cara masa kini,” saran Rm. Santo.

Pada kesempatan terpisah, F. Santi Lestari selaku Koordinator Pengurus Gereja St. Yusup Padokan menegaskan perayaan ini merupakan momentum untuk melihat kembali penyertaan Tuhan dalam perjalanan iman dan karya umatnya.

Bagi Santi, 55 tahun bukan sekadar hitungan usia, melainkan kesempatan untuk melihat bagaimana Tuhan bekerja melalui kesetiaan umat dari generasi ke generasi.

“Kami menyadari, Gereja St. Yusup Padokan dapat bertumbuh hingga hari ini karena ada begitu banyak orang yang dengan sederhana tetapi setia menghidupi imannya, melayani, dan menjaga kebersamaan,” ucapnya.

Lebih lanjut, ia menekankan yang dirayakan bukan hanya bangunan gereja, melainkan kehidupan Gereja yang terus berkembang bersama masyarakat. “Gereja yang hidup dalam dinamika iman, pelayanan, dan kehidupan sosial yang terus berkembang mengikuti perubahan zaman. Di situlah kami melihat penyelenggaraan Tuhan yang terus bekerja hingga hari ini,” tegasnya.

Para imam berfoto bersama anak-anak penerima komuni pertama.

Sejalan dengan Santi, Markus Aprisiyanto selaku Ketua Panitia menyatakan warisan terbesar para pendahulu bukanlah bangunan fisik, melainkan keteladanan hidup beriman yang terus menginspirasi hingga saat ini.

“Kami ingin mengenang para pendahulu yang telah merintis dan menjaga kehidupan Gereja di Padokan. Banyak dari mereka adalah orang-orang biasa yang mungkin tidak dikenal luas. Namun, melalui doa, pengorbanan, kerja sama, laku hidup dan kesetiaan mereka, Gereja ini dapat bertumbuh hingga hari ini. Mereka telah mewariskan inspirasi dan keteladanan yang sangat berharga untuk kami lanjutkan di tengah zaman yang terus berubah,” ujar Markus.

Oleh karena itu, perayaan ini juga menjadi momentum mengenang para pendahulu yang telah membangun kehidupan Gereja di Padokan. Mereka adalah para pastor, katekis, pengurus dan pegiat lingkungan Gereja, guru-guru karya pendidikan Katolik, dan terutama umat sederhana yang selama puluhan tahun menjaga kehidupan iman dengan setia.

Markus melanjutkan, tema “Prasaja Kebak ing Kabungahan lan Daya Pangaribawa” menjadi benang merah seluruh rangkaian kegiatan. Bagi umat Padokan, prasaja bukan berarti kecil atau seadanya.

Prasaja dimaknai sebagai sikap yang memberi ruang bagi setiap orang untuk mengambil bagian sesuai kemampuan dan talenta yang dimiliki di tengah berbagai keterbatasan.

Anak-anak, orang muda, keluarga, para pelayan liturgi, pengurus lingkungan, hingga para sesepuh Gereja dilibatkan dalam berbagai kegiatan dan pelayanan.

“Prasaja bagi kami bukan berarti serbasedikit atau seadanya. Prasaja berarti memberi ruang bagi siapa saja untuk terlibat sesuai kemampuan yang dimiliki. Ada yang melayani melalui tenaga, ada yang berbagi waktu, ada yang menyumbang gagasan, ada yang membantu melalui donasi, dan ada yang mendukung melalui doa, sapaan dan kehadiran. Semua memiliki tempat dan peran yang sama berharganya,” terang Markus.

Tidak hanya tema, perayaan ini juga mengenalkan ikon Bus BIS PRASAJA. Photobooth berbentuk bus ini menjadi tempat favorit umat untuk berfoto bersama.

Bukan sekadar mengenang peristiwa sejarah, melainkan mensyukuri perjalanan iman yang bertumbuh melalui kesetiaan orang-orang sederhana yang dari generasi ke generasi menjaga kehidupan Gereja.

BIS bukan sekadar akronim dari Bahagia, Inspiratif, dan Sejahtera. Bagi umat Padokan, bus dipilih sebagai simbol perjalanan bersama. Sebagaimana sebuah bus mengangkut banyak orang, demikian pula Gereja dipanggil untuk berjalan bersama dalam semangat sinodal: saling mendengarkan, saling mendukung, dan saling menguatkan menuju Gereja yang Bahagia, Menginspirasi dan Menyejahterakan (ARDAS IX Keuskupan Agung Semarang 2026-2030)

“BIS PRASAJA bukan sekadar photobooth. Itu simbol perjalanan bersama seluruh umat. Selama 55 tahun Gereja St. Yusup Padokan berjalan bersama melewati berbagai zaman. Kini, kami ingin melanjutkan perjalanan itu sebagai Gereja yang bahagia, inspiratif, dan sejahtera, yang di Padokan ini dikemudikan oleh spirit Santo Yusup,” kata Markus.

Semangat BIS juga diperkenalkan kepada anak-anak melalui Lomba Puzzle BIS PRASAJA yang menggunakan gambar bus yang sama sebagai sarana kreatif untuk menanamkan nilai kebersamaan, kolaborasi dan pelayanan sejak usia dini.

Kenduri Syukur atau Slametan Bersama melibatkan lurah, dukuh, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan warga sekitar.
Bertumbuh Bersama Masyarakat

Tonggak sejarah Gereja St. Yusup Padokan ditandai oleh Ekaristi perdana pada 6 Juni 1971, tetapi sebelumnya kehidupan umat Katolik di Padokan telah tumbuh dalam reksa pastoral Paroki Hati Kudus Yesus Pugeran.

Kelompok-kelompok umat beriman telah hidup dan berkembang melalui pelayanan para pastor, katekis, dan para perintis iman yang menyemai benih-benih kehidupan Gereja di wilayah ini.

Hingga kini, masyarakat masih akrab menyebut bangunan tempat Ekaristi perdana sebagai Kapel Padokan. Pada masa awal perkembangannya, Kapel Padokan menyatu dengan karya pendidikan TK Indriyasana Padokan, yang kini menjadi TK Indriyasana Kasihan. Kehadiran karya pendidikan menjadi bagian penting dari pelayanan Gereja kepada masyarakat sekitar.

Nama Gereja St. Yusup Padokan tidak terlepas dari sejarah kawasan yang bertumbuh bersama keberadaan PG/PS Madukismo. Santo Yusup Pekerja dipilih sebagai pelindung karena keteladanan hidupnya yang sederhana, tekun, setia, dan bertanggung jawab. Itulah inspirasi bagi para pekerja pabrik, pegawai rendah, pedagang, petani kecil, dan keseluruhan umat sampai saat ini.

Bagi umat Padokan, peringatan 55 tahun bukan sekadar mengenang peristiwa sejarah, melainkan mensyukuri perjalanan iman yang bertumbuh melalui kesetiaan orang-orang sederhana yang dari generasi ke generasi menjaga kehidupan Gereja.

Kesederhanaan atau prasaja menjadi semangat utama seluruh rangkaian perayaan. Namun, kesederhanaan bukanlah keterbatasan atau kemiskinan gagasan. Sebaliknya, kesederhanaan dipahami sebagai sikap yang membuka ruang bagi siapa saja untuk terlibat sesuai kemampuan, talenta, dan perannya masing-masing.

 

Dalam semangat itu, seluruh rangkaian kegiatan HUT ke-55 dirancang dan dilaksanakan. Perayaan 55 tahun tidak hanya dimaksudkan sebagai pesta, tetapi juga menjadi kesempatan penguatan dan regenerasi pelayanan.

Oleh karena itu, rangkaian kegiatan diawali dengan peluncuran ikon hari jadi pada Maret 2026. Kemudian, ada aksi SALDO (Saling Doa) dan Novena Santo Yusup sebagai persiapan rohani menjelang puncak perayaan.

Selanjutnya, berbagai kegiatan apresiasi pelayanan, lomba, dan selebrasi diselenggarakan oleh tim-tim pelayanan sesuai bidangnya masing-masing, antara lain Apresiasi Pelayanan Koor Antarlingkungan oleh Tim Pelayanan Koor, Apresiasi Pelayanan Dekorasi Antarlingkungan oleh Tim Pelayanan Dekorasi dan OMK, Apresiasi Membuat Renungan oleh Tim Pelayanan Prodiakon, Lomba Lektor Berbahasa Jawa oleh Tim Pelayanan Lektor, Lomba Menata Peralatan Misa/Paramenta oleh Tim Pelayanan Paramenta, Koster, Liturgi, dan Putera Altar, Lomba Puzzle BIS PRASAJA oleh Tim Pelayanan Pembinaan Iman Anak, Jalan Sehat dan Sepeda Gembira oleh Panitia dan OMK, pemeriksaan kesehatan oleh Tim Pelayanan Kesehatan, serta kenduri oleh Pengurus Gereja.

Melalui berbagai kegiatan tersebut, para anggota tim pelayanan lintas generasi belajar bekerja sama, berbagi pengalaman, dan mempersiapkan kader-kader baru bagi kehidupan Gereja di masa depan.

Sebagai bagian dari masyarakat Tirtonirmolo, umat Gereja St. Yusup Padokan menyelenggarakan Kenduri Syukur atau Slametan Bersama yang melibatkan lurah, dukuh, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan warga sekitar.

Kegiatan yang dilaksanakan pada 6 Juni 2026 tersebut menjadi ungkapan syukur atas perjalanan 55 tahun Gereja St. Yusup Padokan sekaligus simbol persaudaraan dan kebersamaan yang selama ini terjalin antara Gereja dan masyarakat.

Melalui kenduri syukur, umat ingin menegaskan bahwa Gereja bertumbuh bukan terpisah dari masyarakat, melainkan bersama masyarakat.

Penampilan salah satu peserta Lomba Lektor Berbahasa Jawa.

Perayaan 55 tahun juga menjadi ruang bagi umat untuk mempersembahkan talenta yang dimiliki sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan. Salah satu kekhasan perayaan tahun ini adalah kehadiran orkestra yang dimainkan oleh putra-putri Gereja St. Yusup Padokan sendiri. Keterlibatan para pemusik lintas generasi tersebut menjadi simbol hidupnya partisipasi dan kreativitas umat.

Selain itu, rangkaian perayaan juga menghadirkan Hadrohani sebagai ungkapan syukur atas kehidupan bersama yang selama ini terjalin dalam suasana saling menghormati dan saling mendukung di tengah masyarakat yang majemuk.

Kehadiran Hadrohani menunjukkan iman yang kukuh dapat berjalan beriringan dengan keterbukaan, penghargaan terhadap budaya, dan persaudaraan antarsesama.

Sesudah Ekaristi, umat mengikuti pengumuman hasil berbagai kegiatan apresiasi dan lomba, pembakaran ujud dalam program SALDO, makan bersama nasi berkat, serta penampilan Hadrohani sebagai penutup seluruh rangkaian perayaan.

Memasuki usia ke-55 tahun, umat Gereja St. Yusup Padokan menatap masa depan dengan penuh harapan. Berakar pada semangat Santo Yusup Pekerja, mengenang warisan para pendahulu, dan berjalan bersama dalam semangat nge-BIS, umat berkomitmen untuk terus menghadirkan Gereja yang Bahagia, Inspiratif, dan Sejahtera bagi sesama dan masyarakat luas.

Willy Putranta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *