Bagaimana mungkin seseorang dapat merasa bahagia ketika sedang menghadapi penderitaan, tekanan, atau penindasan?
Berangkat dari perkataan dalam Surat Yakobus, “Anggaplah sebagai kebahagiaan apabila kamu jatuh ke dalam berbagai pencobaan,” Nikolas Kristiyanto mengajak pembaca untuk memahami pesan tersebut secara lebih manusiawi. Kebahagiaan dalam cobaan bukan berarti menutupi kesedihan, menerima ketidakadilan begitu saja, atau membiarkan orang yang menderita berjuang sendirian.
Melalui Surat Yakobus, kita diajak menyadari bahwa iman tidak berhenti pada perkataan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata: membela mereka yang tertindas, tidak merendahkan orang lain, menjaga perkataan, saling mendoakan, dan membantu mereka yang sedang mengalami kesulitan. Seseorang dapat menemukan penghiburan dalam cobaan ketika ia menyadari bahwa dirinya tidak sendirian—ada Tuhan yang hadir melalui orang-orang yang peduli, menemani, dan menolongnya.
Tulisan ini pun menghadirkan pertanyaan penting bagi kita: apakah kita bersedia menjadi orang yang menghadirkan kebahagiaan dan harapan bagi mereka yang sedang berada dalam masa sulit?
Temukan refleksi selengkapnya dalam tulisan “Bahagia dalam Cobaan (?)” karya Nikolas Kristiyanto di Majalah UTUSAN Edisi Juli 2026.
Yuk, pesan dan baca Majalah UTUSAN Edisi Juli 2026!
Edisi cetak
Francisca Triharyani
WhatsApp: 0857-2954-8877
Anang
WhatsApp: 0812-2522-5423
Edisi digital dapat diperoleh melalui Gramedia Digital. Pemesanan juga dapat dilakukan dengan mengirimkan pesan langsung ke akun media sosial Majalah UTUSAN:
@franciscatriharyani
@anangnambo
@jesuitindonesia
@majalah_utusan
Felix Kris Alfian










