Ada masa ketika aku merasa menjadi orang lain jauh lebih menyenangkan daripada menjadi diriku sendiri. Aku tidak tahu pasti kapan perasaan itu bermula. Namun, ketika duduk di bangku kelas XI SMA, aku mulai sering merasa kurang dengan diriku sendiri.
Aku mulai membandingkan diri dengan teman-teman. Melihat mereka yang menurutku lebih menarik, lebih percaya diri, dan memiliki banyak hal yang tidak kumiliki. Tanpa sadar, aku menjadikan kehidupan orang lain sebagai ukuran untuk menilai diriku sendiri.
Awalnya, aku menganggap perasaan itu biasa saja. Namun, semakin lama, rasa minder tersebut semakin sulit dikendalikan. Aku terlalu banyak memikirkan bagaimana orang lain melihatku. Bahkan, terkadang aku merasa tidak percaya diri tanpa alasan yang jelas.
Selama hampir satu tahun, sejak kelas XI hingga kelas XII, aku sering menangis karena merasa tidak cukup baik menjadi diriku sendiri. Ada banyak pertanyaan yang muncul dalam pikiranku. Mengapa aku tidak bisa seperti orang lain? Mengapa aku selalu menemukan kekurangan dalam diriku? Anehnya, aku sendiri tidak benar-benar tahu apa yang membuatku merasa demikian.
Sampai akhirnya, seorang teman hadir dalam masa yang tidak mudah itu. Ia mungkin tidak menyadari betapa besar pengaruh kehadirannya bagiku. Ia tidak memberikan nasihat panjang, tetapi sering melakukan hal-hal sederhana yang perlahan mengubah cara pandangku.
Setiap kali aku merasa tidak percaya diri, ia sering mengatakan bahwa aku cantik. Awalnya, aku sulit mempercayai perkataannya. Namun, ia terus mengingatkanku dengan caranya sendiri. Ia juga selalu mengapresiasi setiap pencapaianku, sekecil apa pun itu. Terkadang, ia memberikan hadiah sebagai bentuk penghargaan. Bagiku, perhatian tersebut sangat berarti.
Dari situ, aku mulai belajar bahwa hal-hal kecil yang kulakukan juga layak dihargai. Selama ini, aku terlalu sibuk memerhatikan kekurangan sampai lupa melihat hal baik dalam diriku sendiri.
Perubahan itu tentu tidak terjadi dalam semalam. Aku membutuhkan waktu untuk belajar menerima pujian, menghargai pencapaian, dan berhenti menjadikan kehidupan orang lain sebagai pembanding. Perlahan, aku mulai memahami bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
Kini, ketika mengingat masa SMA, aku tidak lagi ingin menyalahkan diriku yang dahulu. Aku justru ingin berterima kasih karena sudah bertahan melewati masa yang tidak mudah. Aku juga bersyukur pernah bertemu dengan teman yang membantuku melihat diriku dari sudut pandang berbeda.
Sekarang, aku masih memiliki banyak hal yang ingin diperbaiki dan dicapai. Namun, aku tidak lagi menjadikan kekurangan sebagai alasan untuk merendahkan diri sendiri. Aku belajar menerima diriku apa adanya tanpa harus menjadi seperti orang lain.
Pengalaman itu mengajarkanku bahwa kita tidak pernah tahu seberapa besar pengaruh tindakan sederhana terhadap kehidupan seseorang. Sebuah pujian, perhatian, atau apresiasi kecil bisa berarti besar bagi mereka yang sedang berjuang dengan dirinya sendiri.
Aku pernah menghabiskan banyak waktu untuk merasa tidak cukup baik. Namun, sekarang aku mengerti bahwa aku tidak harus menjadi seperti orang lain untuk merasa berharga. Aku hanya perlu berhenti membandingkan diri, mulai menghargai apa yang kumiliki, dan belajar mencintai diriku sendiri.
Mega Dayana Sari













