Siapa saja yang akan menjadi temanku di sana? Apakah mereka bisa seperti Bapa, yang selalu menyempatkan diri untuk berdiri di pinggir lapangan dan memberi semangat ketika aku bertanding? Apakah aku akan menemukan teman seperti Mama, yang selalu berusaha agar jiwaku tetap kuat dan tak berlinang air mata?
Apakah aku bisa menemukan teman seperti Nada dan Fiki, yang selalu mau bernyanyi bersama untuk memecah sepinya malam, sebelum kami sama-sama terlelap menyambut mimpi?
Itulah pergulatan yang hadir dalam hatiku sebelum melangkahkan kaki menuju Yogyakarta alias Jogja. Pergulatan itu sempat membuatku termangu dan menitikkan air mata ketakutan. Takut akan sepi yang mungkin datang. Takut akan tiada yang membantu di saat aku terjatuh.
“Ama, pana ake so’ot. Lewotana pana nolo mo dore (Anakku, berjalanlah jangan dalam takut. Leluhur sudah berjalan terlebih dahulu, kamu mengikuti).”
“Kepae, teit di ata ekan: ata ra’en dore ra’en, titen dore titen (Ingat, tinggal di tanah orang, milik mereka adalah milik mereka, miliki kita adalah milik kita).”
Meski berujung pada tangis perpisahan, pesan dari Bapa dan Mama inilah yang berhasil membawa sedikit ketenangan di dalam hatiku. Pesan yang disampaikan dalam bahasa Lamaholot itu memiliki arti yang cukup dalam dan kuat untukku.
Bagiku, pesan ini tidak hanya hadir sebagai kalimat perpisahan. Lebih dari itu, pesan ini hadir sebagai pengingat dan penguat bagaimana seharusnya berlaku dan menjalani hidup di tanah rantau.
Akhirnya, aku tiba di Jogja, disambut lembut instrumen gamelan Jawa yang terdengar dari sudut ruang tunggu Yogyakarta International Airport (YIA).
Kini, sudah tiga tahun aku menjunjung dan menikmati langit Kota Pelajar. Selama itu pula, diriku semakin sadar akan cara elegan Yogyakarta dalam menautkan beragam jiwa dari berbagai sudut Nusantara, bahkan mancanegara.
Jogja memberikanku ruang yang sangat luas untuk meresapi cara-cara sederhana dalam membangun relasi dengan siapa saja.
Percakapan hangat ditemani kopi jos dan wedang uwuh di angkringan, menikmati orak arik dan magelangan di burjo, nyanyi bersama di warung kopi jalanan, main futsal bersama, diskusi yang agak serius di perpustakaan kampus, hingga berkumpul bersama dengan komunitas.
Itulah beberapa cara Jogja dalam meyakinkan setiap raga yang mendiaminya bahwa keputusan meninggalkan Jogja akan menciptakan rindu yang berujung pada pulang.
Cara Jogja memperlakukanku, membuatku semakin tersadar bahwa Ama Dewa Lera Wulan, Ina Guna Tana Ekan (Allah: penguasa langit dan bumi dalam kepercayaan masyarakat Lamaholot) selalu ada dan melindungiku di setiap jalanku.
Rindu pada Lewotana (kampung halaman) tentu tetap ada, tetapi aku sadar bahwa kehadiranku di Jogja adalah karena restu dari Lewotana juga. Oleh karena itu, diriku kini sudah mulai mencoba untuk benar-benar mencintai Jogja, karena di sinilah aku mulai belajar dengan sungguh-sungguh untuk memaknai apa itu arti rumah dan keluarga.
Jika mengingat dan merenungi kembali Sabda Yesus pada pertanyaan akan siapa keluarganya, Ia menjawab, “Sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-ku di surga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku” (Mat. 12:50).
Oleh karena itu, di Jogja ini aku mulai memahami dan menyadari bahwa keluarga sesungguhya tidak harus terikat dalam hubungan darah, tetapi keluarga yang sesungguhnya lahir dari rajutan kasih Ilahi yang hadir melalui perjumpaan-perjumpaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, bagiku Jogja dan Lewotana adalah dua rumah yang sama-sama memberikan ketenangan dan bahagia. Keduanya menyadarkanku bahwa jarak dan waktu tidak akan pernah menjadi pedang pemisah ikatan kasih. Kasih yang adalah Allah: Ama Dewa Lera Wulan, Ina Guna Tana Ekan itu sendiri, selalu hadir dalam berbagai rupa dan cara.
Kisah yang masih hanya sebagian dari perjalanan hidupku ini rupanya masih menghadirkan sebuah pertanyaan: Jika Ama Dewa Rera Wulan, Ina Guna Tana Ekan selalu menghadirkan kasih-Nya melalui beragam rupa dan cara, lalu bagaimana dengan aku? Bukankah harusnya aku juga selalu berupaya untuk menjadi keluarga dan rumah bagi mereka yang lainnya?
Dari pertanyaan ini, aku mulai mencoba untuk membuka diri dan hati sebagai upaya untuk turut serta hadir sebagai keluarga dan rumah bagi mereka yang lainnya.
Pada akhirnya, bagiku keluarga tidak hanya berdasar pada hubungan darah, tetapi pada jiwa-jiwa yang hadir dengan penuh kasih, saling memahami satu dengan yang lain. Begitu juga dengan rumah, bukan hanya sekadar bangunan fisik yang beratap seng, genteng atau yang lainnya.
Bagiku, rumah yang sesungguhnya adalah yang mampu menerima hati dan diriku apa adanya: dengan ketulusan, keikhlasan, dan kerendahan hati serta kasih-Nya yang nyata melalui sesama umat manusia.
Sebagai anak Lamaholot dan pribadi yang beriman Katolik, aku percaya bahwa Ama Teti Kelen Tukan, Bapa Teti Kowa Lolo (Allah di dalam surga) tidak akan membiarkan aku berjalan sendiri, seperti chant terkenal dari para pendukung Liverpool untuk para pemainnya, “You’ll Never Walk Alone (YNWA).”
Valentinus Febrirama A.B. Lonek







