Berjalan Hening, Renungkan Jejak Inspirasi St. Ignatius Loyola

Sebanyak 170 peserta menyusuri jejak peziarahan St. Ignatius Loyola melalui ziarah Lampah Wening Ignatian: Dari Manresa ke La Storta pada Jumat, 30 Oktober 2026 di Omah Petroek, Pakem, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Lampah Wening yang diselenggarakan Paguyuban Sekar Temon adalah perjalanan ziarah dengan berjalan kaki yang hening dan tenang, sekaligus mengajak umat untuk menemukan Tuhan di setiap perjalanan hidup.

Peserta Lampah Wening Ignatian memulai perjalanannya dari Sendang Galina di Omah Petroek. (UTUSAN/Slamet Riyadi)

Rm. Agustinus Daryanto, SJ menjelaskan, tema kegiatan Lampah Wening edisi ketiga ini mau menggambarkan perjalanan hidup St. Ignatius sejak awal pertobatannya di Kota Manresa dan berakhir pada inspirasi Yesus yang memanggilnya untuk memanggul salib di Kapel La Storta, pinggir Kota Roma.

Pastor mahasiswa ini pun menjelaskan, kata “lampah” berarti “jalan” dan “wening” berarti “hening”. Jadi, kegiatan ini ialah ziarah berjalan kaki sambil merenungkan jejak-jejak dan inspirasi hidup dari St. Ignatius Loyola.“Kita mulai dari Omah Petroek, di Sendang Galina untuk merenungkan kembali peristiwa St. Ignatius pada masa pertobatannya, melalui keterbukaannya kepada Tuhan untuk dibimbing dan ditemani,” sebut Rm. Daryanto.

 

Peserta Lampah Wening Ignatian menyuri jalan setapak. (Fr. Engelbertus Viktor Daki, SJ)

Sebelum Lampah Wening Ignatian dimulai pukul 15.00, seluruh peserta diminta menuliskan ujud doa pada kertas yang telah disiapkan panitia setelah melakukan registrasi. Ujud doa dan harapan tersebut dibawa masing-masing peserta selama perjalanan. Pada akhir perjalanan, kertas itu nantinya dibakar di depan Mbok Turah sebelum peserta mengikuti Misa.

Perjalanan ziarah Lampah Wening Ignatian melalui enam titik perhentian. Sendang Galina menjadi perhentian pertama. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan menuju Gua Maria Sub Tutela Matris, Kapel St. Ignatius Ponggol, Bale Tani Wonorejo (Willkel), Sendang Bagong di Kali Boyong, hingga pada perhentian yang terakhir, yaitu Mbok Turah.

Rm. Andreas Agung Nugroho, SJ memberikan refleksi kepada peserta Lampah Wening Ignatian di Gua Maria Sub Tutela Matris, Ponggol. (Fr. Engelbertus Viktor Daki, SJ)

Selama perjalanan dan pada setiap titik perhentian, peserta diajak untuk merenungkan riwayat St. Ignatius serta berdoa bersama yang dipimpin bergantian oleh para Jesuit muda, yakni Rm. Agustinus Daryanto, SJ, Rm. Andreas Agung Nugroho, SJ, Rm. Alfonsus Ardi Jatmiko, SJ, dan Fr. Antonius Wahyu Santosa, SJ.

“Di Gua Maria Sub Tutela Matris, kita merenungkan penyertaan Bunda Maria yang selalu ada untuk putra-putrinya. Peran Bunda Maria dalam hidup St. Ignatius yang sangat luar biasa, menjadi seorang ibu yang menuntun langkahnya dan para Yesuit awal,” papar Rm. Daryanto.

Rm. G.P. Sindhunata, SJ memberkati Apem makanan khas Jawa di Balai Tani (Willkel) Wonorejo. (UTUSAN/Slamet Riyadi)

Lewat pertobatannya, St. Ignatius membiarkan dirinya dibimbing oleh Allah dan akhirnya berani menyerahkan seluruh hidupnya untuk kemuliaan Tuhan. “Maka kita mengenal istilan AMDG, Ad Maiorem Dei Gloriam (Demi Kemuliaan Allah yang Lebih Besar),” ucap Rm. Daryanto.Selanjutnya, melalui inspirasi Sendang Bagong dan Kali Boyong yang mengalirkan air, para peserta diajak untuk mendalami Asas Dasar.

Air yang mengalir di Kali Boyong bersumber dari mata air di sekitar Lereng Merapi. Maka, para peserta diingatkan akan Allah, sumber utama dari hidup ini. “Segala sesuatu yang ada, ciptaan-ciptaan lain adalah sarana untuk memuliakan Allah,” ujar Rm. Daryanto.

Seorang suster berjalan bersama seorang peserta yang membawa padi pemberian petani dalam perjalanan Lampah Wening Ignatian. (Fr. Engelbertus Viktor Daki, SJ)

Saat kembali ke Omah Petroek, para peserta menyampaikan intensi masing-masing kepada Allah melalui Bunda Maria. “Di kompleks Omah Petroek ini ada sebuah patung Mabok Turah, yang dimaknai macam-macam, bukan hanya orang-orang Katolik yang memaknainya sebagai Bunda Maria.  Yang jelas, Simbok menunjukkan kesederhanaan seorang ibu, juga Turah yang selalu berlimpah-limpah dan murah hati kepada anak-anaknya,” urai Rm. Daryanto.

Di perhentian Mbok Turah, Rm. G.P. Sindhunata, SJ mengajak seluruh peserta merefleksikan siapa Mbok Turah dan St. Ignatius Loyola yang merupakan seorang pencinta Maria. “Begitu kita lahir, kita ini bersaudara dan semua itu awalnya Mbok Turah ini. Sebelum kita mempunyai apa-apa, kita hanya mempunyai Mbok Turah,” tutur Rm. Sindhu.

Rm. Agustinus Daryanto, SJ (memegang mikrofon) sedang menyampaikan refleksi di Sendang Bagong, di pinggir Sungai Boyong yang berhulu di Gunung Merapi. (UTUSAN/Slamet Riyadi)

Penulis novel Anak Bajang Menggiring Angin ini mengatakan St. Ignatius adalah seorang pencinta Maria yang di mana-mana tidak bisa lepas dari Maria. “Maka, kami para Jesuit ingin mempunyai tempat di mana ada Maria yang kami sayang, kami puji, dan kami mohon pertolongannya setiap hari. Itulah penziarahan dan panggilan hidup kami,” jelasnya.

Setelah melalui perjalanan selama kurang lebih tiga jam dari Sendang Galina sampai pada Mbok Turah, peserta kemudian mengikuti Perayaan Ekaristi yang dipimpin Rm. Daryanto bersama Rm. Sindhu, Rm. Agung, dan Rm. Ardi.

Dalam homilinya, Rm. Sindhu kembali mengajak peserta merefleksikan perjalanan hidup St. Ignatius Loyola, mulai dari Manresa ke La Storta.

“Di Karang Klethak atau Omah Petroek ini ada ruang doa yang sangat sederhana, jika diartikan ke bahasa Jawa yaitu ‘ora pakra’, amat miskin. Ruang ruang doa itu dibuat dari kandang sapi dan diberi nama La Storta,” sebut Rm. Sindhu.

Peserta Lampah Wening Ignatian: Dari Manresa ke La Storta berjalan di bantaran Sungai Boyong. (UTUSAN/Slamet Riyadi)

Ia mengatakan, sesungguhnya La Storta merujuk pada Cappella della Visione, sebuah kapel sederhana yang letaknya kira-kira 16 kilometer dari Kota Roma. “Selain sederhana, kapel ini benar-benar kecil, keberadaannya di tengah aktivitas hidup harian. Letaknya di pinggir jalan, di sekitarnya ada perumahan, pertokoan, dan restoran di sebuah kota kecil. Dan, Kapel La Storta telah menjadi tempat ziarah sejak berdirinya Serikat Yesus pada tahun 1540,” jelas Rm. Sindhu.

Dalam kesederhanaannya, kapel ini mempunyai makna yang amat penting dan menentukan bagi Serikat Yesus. Di sinilah St. Ignatius menerima pengalaman iman yang menegaskan perutusan dirinya bersama teman-temannya yang kelak bernama Serikat Yesus.

November 1537, ketika St. Ignatius pergi ke Roma lewat Via Cassia ditemani kedua sahabatnya Petrus Faber dan Diego Laynez, mereka singgah di kapel kecil La Storta. Di sinilah St. Ignatius memperoleh vision atau penampakan bahwa ia diperkenankan melihat Bapa dan Putra-Nya yang memanggul salib.

Dalam penampakan itu, Allah Bapa telah menempatkan St. Ignatius dengan Putra-Nya.  Sabda Bapa kepada Yesus, “Aku ingin Engkau mengambil orang ini sebagai abdi-Mu.”

Peserta Lampah Wening Ignatian membakar ujudnya di depan Patung Mbok Turah, di Omah Petroek. (UTUSAN/Slamet Riyadi)

Yesus lalu berpaling kepada St. Ignatius dan berkata, “Ego vobis Romae propitius ero (Aku akan menyertaimu/bermurah hati kepadamu di Roma.).” Dengan kata lain, Yesus berkenan bahwa St. Ignatius dan kawan-kawannya pergi serta mengabdi-Nya di Roma.

“Roma adalah arah baru. Para sahabat diminta untuk meninggalkan arahnya yang lama, memutar haluannya, memutar nasibnya, dan sekarang harus berpaling ke tujuan baru, yaitu abdi Kristus tersalib di Roma. St. Ignatius dan kawan-kawannya diminta tidak lagi memikirkan ke mana mereka akan berziarah dan apa yang harus mereka lakukan,” beber Rm. Sindhu.

St. Ignatius dan teman-temannya harus pergi ke Roma dengan segala risiko, rela menanggung salib bersama Yesus dalam segala perutusannya. St. Ignatius tahu tugas itu berat, tetapi ia telah menemukan jalan yang benar dan baru. St. Ignatius mantap, walaupun jalan baru itu juga penuh ketidakpastian dan kesulitan.

St. Ignatius yakin, penampakan Yesus memanggul salib di La Storta bukan hanya ditujukan untuk dirinya, tetapi untuk Dia dalam kesatuan dan kebersamaan dengan kawan-kawannya yang telah berikrar mengabdikan diri bersama-sama demi dan dalam Gereja.

“Dalam arti ini pula, La Storta adalah titik Serikat Yesus mengenal awalnya. Maka, tak berlebihan bila dikatakan siapa pun yang ingin menjadi anggota Serikat Yesus atau menjadi pengikut St. Ignatius perlu kembali kepada pengalaman La Storta itu, tempat para Yesuit menemukan identitasnya,” tegas Rm. Sindhu.

Perayaan Ekaristi setelah perjalanan Ziarah Lampah Wening Ignatian di kompleks Omah Petroek Wonorejo. (Fr. Engelbertus Viktor Daki, SJ)

Di sanalah para Yesuit dipanggil untuk ditempatkan bersama Yesus Sang Putra, yang memperlihatkan diri-Nya bukan ketika Ia dilahirkan, atau dalam hidup-Nya yang tersembunyi, bukan pula Yesus yang bangkit mulia, tetapi Yesus yang sedang memanggul salib.

Ketika terus menangani banyak masalah, St. Ignatius sebagai Jenderal Serikat Yesus selalu merujuk pada peristiwa Bapa menempatkan dirinya bersama Putra, seperti yang dialaminya di La Storta. Maka, St. Ignatius meminta para Yesuit menghidupi pengalaman ditempatkan bersama Putra yang memanggul salib.“Artinya tidaklah cukup bila para Yesuit hanya menjalankan pekerjaannya. Yang masih diminta darinya, apakah pekerjaannya itu sungguh pekerjaan seperti dikerjakan Yesus yang tersalib? Pekerjaan yang dikerjakan dengan pikiran dan hati Yesus yang sungguh pernah menderita di salib,” renung Rm. Sindhu.

Rm. Sindhunata memberkati Salib Yesus yang akan ditakhtakan di Kandang Lastorta di Omah Petroek. (UTUSAN/Slamet Riyadi)
Salib Putar Nasibmu

Usai Perayaan Ekaristi, peserta kembali mengikuti perarakan menuju Kandang La Storta di area Omah Petroek dengan memboyong sebuah salib dan mentakhtakannya di sana.

Salib ini diberikan oleh Antonius Subiyanto, seniman dan pegiat barang lawasan dari Pedukuhan Klampokan, Desa Granting, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Subi mengatakan, hendaknya salib itu ditulisi dengan frasa “Putar Nasibmu”.

“Saya senang dan menerima usulan itu. Malah, saya merasa tersentuh dengan kalimat ‘putar nasibmu’ itu,” ungkap Rm. Sindhu.

Menurutnya, makna tulisan itu sangat dalam karena dalam frasa “Putar Nasibmu” itu terkandung semua riwayat hidup Subi sendiri. “Nasibnya, tanggungannya, beban hidup dan penderitaannya, kesulitan dan kesengsaraannya, tapi juga terang pencerahan, pembebasan dan kebahagiaan, serta keberuntungan yang dialami Mas Subi sendiri,” urai Rm. Sindhu.

Peserta Lampah Wening Ignatian mengikuti prosesi pentakhtahan Salib Yesus Putar Nasibmu. (Fr. Engelbertus Viktor Daki, SJ)

Secara pribadi, Rm. Sindhu menyebut “Putar Nasibmu” juga mencerminkan pengalamannya sendiri yang jatuh bangun sebagai seorang Yesuit, yang sebetulnya juga seorang manusia biasa. “Tak ada bedanya dengan Anda sekalian, tak ada bedanya dengan Mas Subi,” tegasnya.

Bagi Rm. Sindhu, salib itu bukan hanya penguat, tetapi juga penghibur manakala dirinya mengalami jalan buntu dalam menjalani hidup sebagai Yesuit.

“Rasanya, hanya dengan memutar nasib di hadapan salib itulah panggilan saya. Dengan memutar nasib di hadapan salib itulah panggilan saya bisa dan boleh terus berjalan kendati menemui segala cobaan, rintangan, godaan, dan halangan,” refleksi Rm. Sindhu.

Semula, ia tidak tahu salib yang disertai tulisan “Putar Nasibmu” yang ditulis Subi sendiri itu harus diletakkan di mana. Namun, setelah berbulan-bulan, akhirnya ia memutuskan untuk meletakkannya di Kandang La Storta.

Menurutnya, sungguh tepat bila salib itu berada di sana, karena Omah Petroek adalah milik Serikat Yesus. “Salib Putar Nasibmu itu bisa selalu mengingatkan, apa yang harus kami buat sebagai Yesuit, yaitu harus dan mau memutar nasib ke arah salib yang dipikul Yesus,” simpul Rm. Sindhu.

Fr. Robert, SJ (kanan) dan relewan membawa Salib Yesus Putar Nasibmu menuju Kandang La Storta. (UTUSAN/Slamet Riyadi)

Maka, ke mana pun para Yesuit ditugaskan, arahnya harus selalu mereka putar kepada arah yang diberikan oleh Tuhan, yaitu arah La Storta, arah mengangkut salib bersama Yesus.

Rm. Sindhu pun mengajak siapa saja sebagai sahabat-sahabat Yesus untuk ikut menyelami rahmat Salib La Storta ini. “Jika Anda berdoa di Kandang La Storta, beranikanlah diri untuk memutar nasib sesuai dengan arah dan bimbingan Tuhan yang tersalib,” ajaknya.

“Sebagai manusia,” sambungnya, “kita tak terlepas dari nasib. Tapi, sebagai orang beriman, kita harus berani memutar nasib ke arah dan tujuan yang lebih baik, bahagia, dan mulia sesuai dengan ajakan panggilan dan petunjuk Tuhan sendiri.”

Rm. Sindhu melaksanakan ritual tradisional Gereja yang sudah kuno, yang ingin dihayati lagi untuk mengingat pengalaman La Storta. (UTUSAN/Slamet Riyadi)

Rm. Sindhu lantas mengingatkan siapa pun sebagai pengikut Yesus agar jangan lupa bahwa apa pun tindakan yang diambil dan lakukan dalam memutar salib itu akan sia-sia dan tidak akan berbuah bila tidak menyertainya dengan keberanian untuk menanggung salib.

“Itulah makna ‘Putar Nasibmu’ yang kita lakukan sebagai pengikut Yesus. Itulah sumber kebahagiaan kita sebagai orang Kristen. Semoga Anda semua pada ujung jalan ini mau memutar nasib di bawah salib, karena hanya saliblah yang akan memberi arah ke mana kita berjalan sebagai orang Kristen,” harap Rm. Sindhu sembari menunjuk di bawah salib itu ada roda gerigi sebagai lambang “Putar Nasibmu”.

Peserta Lampah Wening Ignatian menempatkan lilin di depan Kandang La Storta di kompleks Omah Petroek dan di sinilah acara ini diakhiri. (UTUSAN/Slamet Riyadi).

Saat salib ditakhtakan, Rm. Sindhu menyertainya dengan ritual tradisional Gereja yang sudah kuno yang ingin dihayati lagi untuk mengingat pengalaman La Storta. Bersama itu juga, dilakukan pemberkatan air St. Ignatius yang sebelumnya, pada pagi hari, sudah diberkati di depan Maria Mbok Turah dengan pencelupan medali Ignasius.

Air St. Ignatius dalam botol-botol bening yang kecil itu dibawa pulang para peserta. “Kalau ada yang bertanya bagaimana memakainya, ya sama saja dengan air suci lainnya. Bisa dicampurkan untuk minum atau dioleskan, menjadi tanda bahwa air ini menyembuhkan,” terang Rm. Sindhu.

Dalam tradisi Serikat Yesus, air ini banyak membantu orang yang hamil supaya melahirkan dengan mudah. Banyak juga yang memohon agar dikaruniai keturunan atau bagi yang sungguh-sungguh mengalami kesulitan dapat dikuatkan oleh air Ignasius ini.

Vincentius Yovie Krisan Saputra & Valentinus Febrirama A.B Lonek

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed