Aku berada di suatu tempat, yang tampak seperti halaman atau sisi lain taman suatu rumah. Tetapi di sana, aku tidak melihat sebuah rumah. Halamannya ditumbuhi rumput-rumput pendek berwarna hijau segar yang lembut dan empuk.
Nyaman sekali ketika kakiku menginjaknya. Beberapa pepohonan tumbuh di halaman itu. Tidak terlalu tinggi, tetapi cukup rindang dan teduh. Beberapa jenis bunga juga tumbuh di situ, tetapi tidak banyak. Lebih banyak tumbuhan seperti tanaman perdu, dengan bunganya yang kecil-kecil warna warni.
Cuaca saat itu cerah, tetapi tidak terlalu terik. Udara yang kuhirup terasa segar dan bersih. Langit terlihat jernih. Cahaya terang benderang tetapi tidak menyilaukan. Jika kugambarkan dengan kata-kata, suasana saat itu terasa lembut, indah, halus, menyenangkan, menenangkan, nyaman, ringan, dan damai. Seandainya aku bisa melukis, akan kulukiskan keindahannya, agar bisa berbagi kekagumanku denganmu.
Di situlah aku berjumpa dengan Yesus, sedang duduk di suatu bangku di taman itu. Entah apa yang sedang dilakukan Yesus di situ. Aku bisa merasakan hatiku seperti meluap. Ada rasa bahagia, syukur, rindu, sekaligus haru.
Tiba-tiba ada semacam dorongan kuat dari hatiku untuk menceritakan begitu banyak hal saat pandanganku melihat Yesus duduk di bangku taman itu. Segera aku berjalan mendekati Yesus, disertai senyum gembira dan rasa haru yang melingkupiku.
Aku menyapa Yesus ketika sudah cukup dekat jarak kami, “Tuhan, ini aku.”
Yesus menoleh padaku dan mengatakan, “Duduklah di sini, dekat-Ku.”
Aku duduk di atas sebuah batu beruluran kecil, yang berada di samping bangku itu.
“Indah sekali di sini, Tuhan. Aku bahagia sekali bisa di sini bersama-Mu,” kataku sambil menatap lurus pemandangan indah taman itu.
Tak terasa air mataku menetes. Aku menangis sambil tersenyum. Rasanya aneh, tetapi begitulah aku saat itu. Mengharu biru kebahagiaanku.
Sejenak aku puaskan tangis haruku. Kuungkapkan rasa syukur tak terhingga lewat tangis dan senyumku. Tak bisa kuberkata-kata, hanya tercekat diam dalam kekaguman. Namun, aku yakin dan percaya Yesus tahu apa yang ada dalam hatiku.
Oh, betapa aku sangat ingin dipeluk oleh Yesus saat itu, tetapi aku menyimpannya dalam hatiku. Bagiku, sudah cukup bahagia bisa sedekat ini bersama-Nya. Senyum yang Yesus tampakkan, begitu lembut dan menghangatkan hati.
Sejenak dalam kebisuanku, aku hanya ingin meresapi suasana saat itu. Aku menghirup dalam-dalam udaranya. Kumanjakan mataku melihat rumput hijau yang lembut dan langit yang jernih dan bersih.
Setelah berdiam beberapa saat tadi, aku bertanya, “Tuhan, bolehkah aku kesini setiap saat?”
Dengan lembut Yesus menjawab, “Datanglah kapan pun engkau mau. Aku selalu berada di sini.”
Mendengar jawaban Yesus, aku merasakan kelegaan dan kebahagiaan. Dari jawaban Yesus, aku tahu bahwa Yesus sebenarnya selalu menungguku untuk bercakap-cakap dengan-Nya dan Dia akan selalu ada untukku.
Aku dan Yesus terlibat dalam percakapan yang akrab di taman itu. Berkali-kali aku sampaikan kepada Yesus, betapa aku merasa bahagia dan bersyukur bisa berada di tempat ini bersama-Nya.
“Tuhan, lihatlah aku. Aku merasa tidak pantas berada di tempat seindah ini. Engkau pasti tahu, begitu banyak dosa-dosa yang telah kubuat,” kataku sambil merasakan derasnya air mata yang jatuh di pipiku.
Aku terisak mengingat betapa berdosanya diriku, bercampur dengan rasa haru melihat bagaimana Yesus menerima kedatanganku. Senyum Yesus yang hangat mampu menjangkau hatiku.
Engkau pasti bertanya-tanya, sedang mimpikah aku atau mungkin sedang melamun? Bukan. Apa yang kulakukan adalah aku sedang menghadirkan Yesus dalam latihan doaku.
Lalu, mungkin akan muncul pertanyaan yang lainnya, “Untuk apa engkau berlatih doa?”
Baiklah, akan kuceritakan mengapa aku perlu melatih doaku.
Sebelumnya, aku perlu menanyakan beberapa hal padamu. Pernahkah ketika memulai doa, engkau merasakan kesulitan untuk berkonsentrasi dengan doamu? Atau, pernahkah pada saat engkau berdoa, tiba-tiba timbul kekhawatiran dengan masa depanmu? Atau, saat engkau berdoa, tiba-tiba melintas bayangan-bayangan gelap dan menyeramkan yang mengalihkan fokus doamu?
Pernahkah engkau merasakan begitu hancurnya hatimu dan merasa dirimu tak berarti lagi? Pernahkah engkau merasa sangat rindu kepada Yesus, seperti halnya rindu kepada kekasih hatimu? Pernahkah engkau merasa tak berdaya dan tidak tahu harus berbuat apa? Masih banyak lagi pertanyaan yang bisa kutanyakan padamu.
Dari pertanyaan-pertanyaan tadi, kuceritakan padamu bahwa aku sering merasakan kesulitan berkonsentrasi saat berdoa. Pernah mengalami kekhawatiran. Merasa takut dan seram saat tiba-tiba melintas bayangan seram dan aku kemudian membuka mataku saat berdoa. Pernah merasa menjadi diri yang tidak berarti, merasakan kesedihan yang panjang, kesepian, ketakutan.
Aku pun terkadang merasakan juga kerinduan yang dalam pada Yesus. Pernah merasa tidak berdaya dan kebingungan harus berbuat apa. Terkadang dengan segala perasaan dan situasi yang kualami, aku teralihkan dari doaku.
Bagiku, doa adalah percakapanku dengan Tuhan. Namun, terkadang, aku malah berlarut-larut dengan perasaan dan pikiranku sendiri. Aku seperti bermonolog dan malah tidak mengacuhkan kehadiran Tuhan. Aku sibuk dengan kekhawatiranku sehingga tidak bisa merasakan kehadiran Tuhan. Aku lebih menuntut untuk didengarkan daripada mencoba mendengarkan Yesus berbicara padaku.














