Saya adalah seorang guru agama Katolik yang baru lulus kuliah tahun 2024, diutus untuk berkarya di Sekolah Citra Berkat Bogor, sebuah lembaga pendidikan dengan semangat manajemen Kristiani yang mayoritas rekan kerjanya berlatar belakang Protestan. Saya berada di unit SMP yang terdiri dari 18 orang guru. Dari jumlah tersebut, 9 di antaranya beragama Katolik.
Berada dalam lingkungan kerja yang Katolik yang sangat berharga sekaligus menantang. Sebagai seorang Katolik, saya merasakan panggilan untuk tidak hanya hadir sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pewarta dan pembawa damai, sesuai dengan amanat Kristus, “Kamu adalah terang dunia … Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” (Mat. 5:14.16).
Dengan semangat itulah saya mulai menginisiasi kebiasaan doa (habitus) bersama di lingkungan kerja, khususnya untuk rekan-rekan Katolik. Setiap pukul 12.00, kami mendaraskan Doa Malaikat Tuhan (Angelus Domini). Jika sedang lembur, kami daraskan pula pada pukul 18:00. Pada pukul 15.00, kami berdoa Koronka kepada Kerahiman Ilahi.
Awalnya, hanya kami (guru agama Katolik) yang mengikuti, tetapi lambat laun rekan-rekan Protestan pun ikut bergabung. Tanpa saya sadari, doa-doa ini tidak hanya menjadi bentuk spiritualitas Katolik yang hidup, tetapi juga menjadi momen persaudaraan lintas denominasi.
Saya terharu ketika rekan-rekan Protestan mulai bertanya tentang makna doa-doa tersebut dan mendoakannya bersama. Dari sinilah saya menyadari bahwa menjadi Katolik di tengah lingkungan kerja Kristen Protestan bukanlah soal mempertahankan identitas secara eksklusif, melainkan tentang menjadi berkat sebagaimana nama tempat kami berkarya: Citra Berkat.
Nama itu seolah menjadi pengingat bahwa setiap pribadi di tempat ini dipanggil untuk mencitrakan berkat Allah dalam hidup sehari-hari dengan hal konkret, yakni dengan kasih dan perhatian yang tulus.
Refleksi ini mengajarkan saya bahwa iman Katolik bukan hanya untuk dirayakan dalam liturgi hari Minggu, tetapi terlebih dalam keseharian: dalam sikap, perhatian, dan kesediaan untuk berbagi kekayaan spiritualitas Gereja dengan rendah hati dan kasih.
Dari pengalaman ini, saya makin percaya bahwa Roh Kudus bekerja melampaui batas-batas institusi dan denominasi, menyatukan kita dalam kasih Kristus yang satu. Semoga semangat doa dan kesaksian kecil ini menjadi benih yang tumbuh dan berbuah dalam komunitas kerja kami, agar seperti sabda Tuhan, “Supaya mereka semua menjadi satu…” (Yoh. 17:21).
Vincentius Jimnie Sekolah Citra Berkat, Jonggol








