AI dan Robotika: Dapatkah Menggantikan Sebagian Besar Pekerjaan Manusia?

Pelita159 Views

Perkembangan artificial intelligence (AI) dan robotika telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia. AI kini dapat membantu menulis, menganalisis data, menerjemahkan bahasa, bahkan membantu pekerjaan profesional. Sementara itu, robot telah banyak digunakan dalam industri untuk melakukan pekerjaan yang berulang. Perkembangan ini menimbulkan pertanyaan: apakah AI dan robotika dapat menggantikan sebagian besar pekerjaan manusia?

Menurut saya, AI dan robotika memang akan menggantikan beberapa pekerjaan manusia, terutama pekerjaan yang bersifat rutin dan berulang. Namun, keduanya belum tentu dapat menggantikan sebagian besar pekerjaan manusia secara keseluruhan. Justru, yang lebih mungkin terjadi adalah perubahan cara manusia bekerja.

Salah satu alasan mengapa beberapa pekerjaan dapat digantikan adalah karena mesin memiliki keunggulan dalam melakukan pekerjaan yang berulang. Robot dapat bekerja dalam waktu lama dengan tingkat ketelitian yang konsisten. AI juga mampu mengolah data dalam jumlah besar dengan cepat.

Menurut OECD dalam Society at a Glance 2024 (OECD.org, 20 Juni 2024), digitalisasi mengurangi kebutuhan terhadap pekerjaan yang bersifat rutin dan meningkatkan kebutuhan terhadap kemampuan memecahkan masalah serta keterampilan interpersonal.

Namun, hilangnya suatu pekerjaan tidak selalu berarti hilangnya kesempatan kerja secara keseluruhan. World Economic Forum dalam Future of Jobs Report 2025 (WEForum.org, 7 Januari 2025) memperkirakan bahwa hingga tahun 2030 akan terdapat sekitar 170 juta pekerjaan baru, sementara sekitar 92 juta pekerjaan akan tergantikan oleh berbagai perubahan dalam dunia kerja. Artinya, teknologi dapat menghilangkan beberapa pekerjaan sekaligus menciptakan pekerjaan baru.

Masalahnya, tidak semua orang yang kehilangan pekerjaan dapat langsung berpindah ke pekerjaan baru. Pekerjaan yang muncul mungkin membutuhkan keterampilan yang berbeda. Karena itu, pendidikan dan kemampuan untuk mempelajari keterampilan baru menjadi semakin penting.

World Economic Forum dalam Future of Jobs Report 2025 (WEForum.org, 7 Januari 2025) juga menekankan keterampilan teknologi akan semakin penting, tetapi kemampuan manusia seperti berpikir kritis dan bekerja sama tetap dibutuhkan.

Menurut International Labour Organization (ILO) dalam Generative AI and Jobs: A 2025 Update (ILO.org, 20 Mei 2025), sekitar satu dari empat pekerja di dunia berada dalam pekerjaan yang memiliki tingkat keterpaparan terhadap AI generatif. Namun, sebagian besar pekerjaan tersebut lebih mungkin mengalami perubahan tugas daripada benar-benar hilang.

Selain itu, masih terdapat banyak pekerjaan yang membutuhkan kemampuan manusia yang sulit digantikan oleh mesin. Seorang guru, misalnya, tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga memahami keadaan siswanya dan membangun hubungan dengan mereka.

Demikian pula seorang dokter tidak hanya membutuhkan kemampuan menganalisis data, tetapi juga harus mempertimbangkan kondisi pasien dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambil.

OECD dalam Skills in the AI Age (OECD.org, 2026) menyatakan pekerjaan dengan keterampilan sosial, kognitif, dan nonrutin cenderung lebih sulit untuk sepenuhnya diotomatisasi dan AI sering kali berfungsi sebagai pelengkap kemampuan manusia.

Karena itu, persoalan AI dan robotika seharusnya tidak hanya dilihat dari pertanyaan apakah manusia akan kehilangan pekerjaan. Kita juga perlu memikirkan pekerjaan seperti apa yang seharusnya dilakukan manusia dan pekerjaan seperti apa yang dapat diserahkan kepada mesin.

Sebagai generasi muda, kita tidak dapat menghentikan perkembangan teknologi. Yang dapat kita lakukan adalah mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Pendidikan tidak cukup hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga perlu mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kerja sama, komunikasi, dan tanggung jawab.

World Economic Forum dalam Future of Jobs Report 2025 (WEForum.org, 7 Januari 2025) menunjukkan selain keterampilan teknologi, keterampilan manusia seperti kolaborasi dan kemampuan kognitif akan tetap menjadi keterampilan penting hingga 2030.

Akhirnya, AI dan robotika memang dapat menggantikan sebagian pekerjaan manusia, tetapi belum tentu menggantikan sebagian besar pekerjaan manusia. Teknologi seharusnya dipandang sebagai alat yang membantu manusia, bukan sebagai pengganti manusia sepenuhnya.

Tantangan terbesar di masa depan bukanlah bagaimana manusia mengalahkan mesin, melainkan bagaimana manusia menggunakan teknologi tanpa kehilangan nilai dan tanggung jawabnya sebagai manusia.

Yohanes Vincentius Krissanto 
Siswa Seminari Menengah Santo Petrus Canisius Mertoyudan 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *